Pages

Friday, November 1, 2013

Story From India, "Eh..si Bapak.. Udah nikah belom??"

Konon kabarnya, pemaksaan pada otak secara terus menerus akan menyebabkan kegagalan (disfungsi) otak. Itu menurut saya sih, saya fikir yang lain juga sepaham, bahwa otak jangan diajak untuk berfikir terlalu lama. Singkatnya, menjadi gila adalah pilihan yang tepat untuk menjaga otak tetap sehat. Hasyah..!

Saya meng-amini kutipan di atas, yang saya juga tidak tahu dikutip darimana. Dari selokan rumah sebelah ? Sepertinya iya? (saya jadi curiga.. *mata menyipit*).

Maka,untuk menghindari disfungsi otak kiri yang mulai renta, kami (baca: saya dan Okta)
memilih membolos praktikum kuliah hari itu. Kebetulan dalam hal bolos-membolos, kami sering sepaham, jadi tidak perlu berdebat sangat lebay hanya untuk memutuskan membolos atau tidak.

"Okta, hari ini aku males ke lab. Kita jalan-jalan yuk".
"Ayuk, dengan senang hati...Kemana kita?"
"Membetulkan laptopmu yang sudah kamu injak dan siram dgn air itu, membeli payung, beli jaket, benerin kalkulatorku yg habis batre, terus cari sepatu bootmu..!"
"Terus?"
"Apa lagi? cuma itu kan?"
"Cari baya-baya yang ganteng...heeee *cengar-cengir"
"Terus cari obat, sepertinya obatmu sudah habis. -_- "

Kami pun menelusuri Parklane di sekitar Secunderabad. Mencari-cari Sanjay Computer Service (sebut saja SCS). Pasalnya teman saya Okta ini hanya mau laptopnya diperbaiki oleh pekerja yang ada di SCS saja. Sederhana, ia mengatakan bahwa si bapak itu punya wajah yang teduh. Saya semakin penasaran, bagaimana sih rupa si Bapak SCS itu?
Saya tebak sih, Okta nyaris amnesia bahwa yang butuh diservice itu laptopnya, bukan hatinya. *jebreet*

Kebetulan Okta mengidap sakit buta peta lebih kronis daripada saya. Alhasil kami berjalan, muter-muter, jungkir balik, muter lagi, belok kanan-kiri dan barulah mendapati SCS. Sepadahal kalau ditelusuri, ketika masuk gedung, kami hanya perlu belok kanan dan yes, we get it. Begitulah jiwa muda, kadang berapi-api disaat yang tidak tepat.

Saya memandangi Okta yang memandangi si Bapak sambil senyum-senyum.
"Gimana? Bagus tidak?", papar Okta sambil mengisyaratkan saya untuk melihat si bapak favoritnya.
*mengernyitkan dahi, ngelus jenggot* "Kita harus buru-buru beli obat.. Sakitmu semakin parah. Aku takut itu semacam penyakit menular"
"Hahaha...*cengengesan"

Karena si bapak berkata bahwa membetulkan laptopnya memakan waktu sekitar 2 jam, maka kami memutuskan untuk pergi berbelanja saja karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Kami memburu apa yang perlu di buru hingga pukul 6 sore. 
Ah, perempuan memang hebat sekali menghabiskan waktu dan uang untuk berbelanja.
Keliling Pertama: Survei harga.
Keliling Kedua : Tawar-menawar
Ketiga : Jika tawar-menawar tidak berhasil, maka pergi dan mencari penjual yang lain yang lebih murah.
Keempat : Kembali lagi ke toko yang pertama dilihat.

Ini memang sejenis sindrom aneh tingkat "apa banget" namanya. Jadi jangan heran kalau perempuan berbelanja, barang yang akan dibeli adalah barang yang pertama dilihat setelah berputar-putar di sepanjang koridor market dan anehnya yang dibeli adalah barang-barang yang tidak tercantum di dalam list. Untuk menghindari hal itulah saya biasanya membawa list belanjaan, takut sindrom ini kumat pada waktu yang tidak diinginkan.

Saya, selalu membawa serta kenangan dalam tiap perjalanan. Mengingat bahwa saya memiliki begitu banyak orang yang sangat berarti dan tulus (inshaallah) dalam menganggap saya (setidaknya) masih bernafas dan bisa merasakan bahagia sebab mereka bilang, saya bisa bahagia pada hal-hal yang sederhana. Misal, "Mar, coba bayangkan actor 2 Fast 2 Furious itu main film Cinta Fitri..",  
........
........
maka hal itu sudah cukup membuat saya terbahak-bahak sampai jungkir balik, jedut-jedut kepala dan kayang. Kebahagiaanmu murah Mar. Begitu kata mereka. Tenyata, saya baru sadar, harga diri saya murah sekali. -_-

Saya memandangi pejalan kaki, sopir oto, kakek tua, ibu -ibu yang menggendong anaknya sambil mengemis, pengemis yang sedang makan (makanan entah apa), perempuan-perempuan India yang kesetiaannya setara dengan setianya mereka mengenakan sari meskipun beragam fashion sedang membom-bardir negara-negara tetangga.
Ah, saya memang manusia yang beruntung sekali, masih diberi rasa untuk melihat puzzle hidup ini. Sebab menurut saya, melihat tidak hanya sekedar butuh mata, tapi sinergisitas mata, hati dan fikiran. 

Akhirnya, saat matahari harus bergerak pada belahan lain dan bintang berdesakan meminang hitungan pada anak-anak berbau kecut atau pada pasangan yang memungut bahagia sebab melihat bintang jatuh yang mungkin hanyalah nyala bakaran meteorit pada atmosfer bumi namun itu cukup menyulam senyum dan adu-pandang mereka serta pula langit mengangguk tanda malam menjemput, kami yang setuju atau tidak harus segera kembali ke SCS untuk mengambil laptop yang sudah merajuk berminggu-minggu itu.

Sesampai disana, kami harus menunggu kembali. Ternyata butuh waktu sekitar 1 jam lagi untuk membetulkan kerusakan yang ada pada laptop. Hidup memang tidak lepas dari penantian ya? haha
1 jam berlalu, laptop belum juga selesai. Lalu menuju 2 jam, masih belum ada tanda-tanda akan selesai. Berulang-ulang saya dan Okta bertanya pada si Bapak (yang sayang sekali saya lupa bertanya siapa namanya) tentang pukul berapa tepatnya laptop akan selesai, kami juga cerita ini dan itu pada si bapak. Ia katakan mungkin memakan waktu sekitar setengah jam lagi. Ia meminta maaf berulang-ulang pada kami bahwa ia tidak menyangka akan selama ini membetulkan laptop tsb karena ternyata semua data yang ada di laptop harus diconvert dan di unhidden (atau apalah istilahnya) kemudian dipindahkan kembali pada laptop. Saya tidak begitu tertarik pada apa yang dijelaskan si bapak, saya hanya tertarik pada jenggotnya "selesainya" laptop itu.

Akhirnya karena waktu sudah menunjukkan nyaris pukul 10 malam, teman saya Okta berkata pada si bapak,
"Pak, data yang di copy ke laptop saya yang ini saja. 1 foto saja. itu foto yang sangat penting bagi saya. Foto keluarga saya. Itu saja pak, saya sudah lapar.. hari juga sudah gelap"
Nah, si bapak mungkin (menurut pandangan saya) merasa sangat bersalah sekali. Ia bahkan mencarikan oto untuk saya dan Okta dalam cuaca yang berhujan-hujan ria, tapi yah, ga ketemu.. Dia kembali meminta maaf pada kami. Ah, bapak ini elegan sekali..
Udah malem cuy, jam 10 masih berkeliaran. Jenis wanita apa kami ini? -_-

Tepat jam 10 (mungkin lebih sedikit) saya bergerak pulang. Berjalan kaki menuju jalan besar sembari celingak-celinguk mencari-cari oto kosong. Melihat oto bergerak menuju kami, mata saya berbinar-binar (terimakasih ya Allah).. Saya pun melambaikan tangan (ga pake goyangan badan) memanggil oto. Supir oto tentunya memasang tarif harga cukup lumayan ditengah malam gulita begini. Dan kami harus merelakan pak oto pergi karena harga yang dipasangnya terlalu mahal. Kemudian datang oto kedua. Saat saya menjelaskan pada pak supir kemana dia harus membawa kami dan saya mulai menawar harga, tetiba ada seorang anak muda India pakai motor dan helm keren mendatangi kami. Eh si bapak SCS ternyata. Bapak SCS kembali menjelaskan pada sopir oto untuk mengantarkan kami ke Sitafalmandi. Lalu ia mengeluarkan uang membayar supir oto. Saya dan Okta meyakinkan si bapak bahwa kami bisa membayarnya. Saya pribadi, tidak mau menerima sesuatu dari orang yang saya kenal beberapa menit yang lalu. 

Namun si bapak terus berkata, "Tidak mengapa, saya yang membuat kalian pulang semalam ini, saya bertanggung jawab atas kalian. Maafkan saya.."
Bapak ini kenapa minta maaf terus? Jarang sekali saya mendengar orang India meminta maaf berulang-ulang begini.
Karena kami terus menolak ongkos tsb akhirnya si bapak berkata, "This is hadiah. Kamu muslimkan? Ini hadiah dari saya."
Jreng-jreeng-jreeeng...
Maka saya dan Okta terdiam. Dengan rela, kami masuk ke dalam oto tentunya setelah berucap terima kasih pada si bapak. Di dalam oto si Okta tersapu-sapu pada apa yang Bapak barusan lakukan. Sepertinya ia benar-benar jatuh hati kelepek-kelepek. Pasalnya senyumnya berbinar-binar dan matanya berisyarat lain.

"Hei Okta, jangan terlalu sering diceritakan, nanti jatuh hati."
"Mar, bisa tidak aku menemukan sosok si bapak itu"
"Kau ingin menemukan sosoknya dalam wajah yang lain? Tanyakan, apakah dia sudahmenikah? atau punya anak lelaki seumuran kita?..haha"
"haha"

Cerita "menunggu" hari itu ditutup dengan sepenggal cerita yang mengesankan. Entah doa apa yang kami lakoni malam itu, sesampai di flat, ibu kost memberi semangkuk makanan (yang entah apa namanya) pada kami. 
"Wah mengapa hari ini manis sekali? Semanis sepotong coklat atau secangkir es krim".

Selanjutnya, rebah pada matras yang empuknya  setengah keras itu, lantunan surah Ar-Rahman (yang kelak akan saya minta sebagai mahar) mengalir di telinga saya, alunannya juga manis sekali, lebih manis dari hari ini. Ar-Rahman selalu membawa semacam kebahagiaan dan ketenangan tak terdefinisi.

No comments: