Saya, selalu terkesan pada seseorang yang bahkan saya tidak pernah menyadari kesalahannya atau tidak pernah menganggap bahwa itu adalah sebuah kesalahan, lalu ia datang meminta maaf dengan tulus.
Sebab, bagi saya, meminta maaf justru adalah hal yg sulit sekali. Maksudnya begini, tingkat kemudahan memohon maaf saya sebanding dengan kecilnya kesalahan yg saya lakoni. Semakin kecil kesalahan yang saya buat, maka semakin mudah saya meminta maaf. Aneh bukan? Seharusnya kan sebaliknya.
Saya jarang secara harfiah langsung meminta maaf, biasanya jika saya membuat kesalahan yang cukup besar, maka saya akan berdiam diri dulu. Sekalipun saya sadar bahwa itu yang salah adalah saya. Lalu apakah serta merta kemudian saya memohon maaf? Tidak *tolong jitak kepala saya*
Saya akan menegurnya secara basa-basi, misal:
"Eh, jam berapa sekarang?" atau
"Kamu bisa paham pelajaran ini ga?"
"Besok ada agenda apa?"
atau sejenis pertanyaan2 basi lainnya.
yang memberi kode bahwa saya sudah meminta maaf. Aneh bukan? iya. setelah semua tenang dan nyaman, barulah saya mengucapkan maaf. "Eh, maaf ya tadi aku bla.. bla..bla.."
*sungguh tidak manusiawi*
Maka bagi saya pribadi, jika katanya memaafkan adalah hal yang sulit, justru bagi saya meminta maaf jauh lebih rumit. Bukan, bukan artinya saya merasa tidak bersalah. Justru begitu sangat bersalahnya, saya hingga tidak paham harus berbuat apa. Bertanya dalam hati, apakah saya layak dimaafkan? Ough, segitunya.. *puk-puk, tiba2 sedih*
Dan jika saya berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan yang besar, maka itu adalah hal yang ajaib dimana saya memendam jauh-jauh ego saya, mengubur dalam-dalam keras kepala saya dan tentunya sebagai tanda bahwa sebenarnya saya benar-benar tulus meminta maaf, dan saya sungguh tulus menyanyangi. uhuk, itu saja... Tapi ya, bagi saya, mudah sekali berucap, "Thank youuu..." (?)
Sebab, bagi saya, meminta maaf justru adalah hal yg sulit sekali. Maksudnya begini, tingkat kemudahan memohon maaf saya sebanding dengan kecilnya kesalahan yg saya lakoni. Semakin kecil kesalahan yang saya buat, maka semakin mudah saya meminta maaf. Aneh bukan? Seharusnya kan sebaliknya.
Saya jarang secara harfiah langsung meminta maaf, biasanya jika saya membuat kesalahan yang cukup besar, maka saya akan berdiam diri dulu. Sekalipun saya sadar bahwa itu yang salah adalah saya. Lalu apakah serta merta kemudian saya memohon maaf? Tidak *tolong jitak kepala saya*
Saya akan menegurnya secara basa-basi, misal:
"Eh, jam berapa sekarang?" atau
"Kamu bisa paham pelajaran ini ga?"
"Besok ada agenda apa?"
atau sejenis pertanyaan2 basi lainnya.
yang memberi kode bahwa saya sudah meminta maaf. Aneh bukan? iya. setelah semua tenang dan nyaman, barulah saya mengucapkan maaf. "Eh, maaf ya tadi aku bla.. bla..bla.."
*sungguh tidak manusiawi*
Maka bagi saya pribadi, jika katanya memaafkan adalah hal yang sulit, justru bagi saya meminta maaf jauh lebih rumit. Bukan, bukan artinya saya merasa tidak bersalah. Justru begitu sangat bersalahnya, saya hingga tidak paham harus berbuat apa. Bertanya dalam hati, apakah saya layak dimaafkan? Ough, segitunya.. *puk-puk, tiba2 sedih*
Dan jika saya berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan yang besar, maka itu adalah hal yang ajaib dimana saya memendam jauh-jauh ego saya, mengubur dalam-dalam keras kepala saya dan tentunya sebagai tanda bahwa sebenarnya saya benar-benar tulus meminta maaf, dan saya sungguh tulus menyanyangi. uhuk, itu saja... Tapi ya, bagi saya, mudah sekali berucap, "Thank youuu..." (?)
No comments:
Post a Comment