Pertama-tama, perlu diingatkan bahwa tulisan ini hanya sampah, maka
buanglah sampah pada tempatnya...
Saya agak terbingung dengan makhluk
yang satu ini. Sempat beberapa kali mematahkan keinginan saya umm..misalnya
menonton tv, menghidupkan kipas angin atau sekedar mencharger handphone. Entah
mengapa keberadaannya bersama saya terlalu memusingkan dan menyebalkan, seperti
sangat tidak berjodoh. Padahal jika bersama dengan orang lain, ia terasa sangat
akrab dan bersahabat. *huh, menjengkelkan*. Well, memang hidup tak selalu
seperti yang kita inginkan.
Pasti bertanya-tanya bukan siapakah
beliau yang dimaksud? Yang sedikit banyaknya membuat saya gila dan pusing?
*sepertinya emang udah gila dari dulu deh*. Ini tentang Elektron! Dunia elektron yang begitu misterius.
Apa coba? Berani-beraninya, pernah, dia tanpa izin membabi-buta nyetrum sana-sini, buat onar tanpa izin dialiran darah kita, ah...tak usahlah dibayangkan.
Apa coba? Berani-beraninya, pernah, dia tanpa izin membabi-buta nyetrum sana-sini, buat onar tanpa izin dialiran darah kita, ah...tak usahlah dibayangkan.
Terkadang saya suka lucu juga
memahami bahwa dia suka lompat kesana-kemari, ngelilingi inti sambil bergetar
sehingga menghasilkan gerakan dalam bentuk 3 dimensi bahkan orang-orang
sekaliber Heisenberg (bener gak nih tulisannya? Ntar salah tulis orangnya
bangkit dari kubur lagi) belum bisa menemukan keberadaannya dalam sebuah rumah,
sebut saja atom. Heisenberg hanya bisa menduga-duga posisinya dari inti,
mungkin dia ada di sini, di situ, atau di sampingku.. Hah? Pergi-pergi, hush!
*Please deh Mar*.
Yang membuat
keherananku menjadi-jadi adalah, mengapa makhluk itu harus elektron? Mengapa
harus selalu elektron yang diperbincangkan oleh Planck, Heisenberg atau Schrödinger? Mengapa? Haa?
Haa? *PLAKK*
Oke, kita lanjutkan, sampai dimana
tadi? Oh ya, saya setidaknya sedikit berbahagia ada seseorang yang juga –paling
tidak- sama denganku, kurang akrab dengan elektron (bahkan tidak sama sekali).
Ini musuh bebuyutannya,,, -positron-, antielektron ini cukup membuat saya
berbesar hati bahwa elektron memang tidak patut disanjung. Ayo positron,, kita
main bersama *menggandeng positron*. Positron ini, kalau sudah naik darah akan
menubruk elektron dan mereka kemungkinan dapat saling berhambur ataupun musnah
total, menghasilkan sepasang -atau lebih- foton sinar gamma. Wah, engkau hebat
sekali....
Yang jelas, saya benci dengan
elektron yang bermuka dua.. terkadang sebagai partikel, terkadang seperti
gelombang, apa deh? Dualitas gelombang-partikel. Seperti lempar batu sembunyi
tangan. Bagaimana tidak? Dia bisa nubruk partikel lain dalam fungsinya sebagai
partikel kemudian berdifraksi sebagai cahaya.
Sebenernya males banget ngomongin
ini, “Dia (elektron) masuk dalam kelompok lepton” *pasti deh tu dia
senyum-senyum bangga*. Kedudukannya disejajarkan dengan quark dan Higgs boson,
bahkan dia adalah generasi pertama, –lepton elektronik-! (apa sih? Gak
ngerti?). Begini, jadi di dunia ini ada para ahli yang kerjaannya
bongkar-bongkar materi sampai ke partikel terkecil, lebih keren kalau disebut
–ahli fisika partikel-. Nah mereka itu ambisius banget buat nemukan partikel
paling dasar penyusun materi. Dan kalian sadar? Elektron masuk dalam posisi
partikel dasar itu! *huh, membanting elektron*.
Whahaha, jangan berbangga hati dulu
ya elektron *plaak*, ternyata –katanya- kamu masih bisa dibagi menjadi 2 kuasi
partikel yang berbeda, spinon yang melakukan spin elektron, dan orbiton yang
membawa momentum orbital elektron.
Kalau
dipikir-pikir bener juga sih, kenapa enggak? Tiap elektron tertentu pasti
memiliki spin dan orbital, itu sih sejauh pemahaman saya tentang elektron. Jadi
walau ini masih sebatas teori, namun kenyataan bahwa elektron masih bisa
dipisahkan bukan hal yang tidak mungkin.
Hmm... saya sudah lelah menceracau
tentang elektron. Yang jelas, saat kita membicarakan elektron, dia pasti
tahu... dia pasti sedih dan lari menuju inti –posisi kegalauan, posisi ground state-. Ah, silakan mengadu,
memang saya fikirin.. :p
Terima kasih sudah
membaca...
Jika ada yang sangat tidak teoritis maka itu mutlak karena kesotoyan saya.
No comments:
Post a Comment