Pages

Monday, July 30, 2012

Ada Rindu Yang Selalu Hijau di Pucuk Daun



Semestinya ada putih dalam episode jingga.
Agar jingga menyenja, merenda jalinan mega. Indah sekali.
Seindah pahatan cintaku di ujung jantungmu.

Sederhana saja, merindumu dan menantimu.
Seperti guratan daun – guratan takdirku yang sulurnya tak pernah padam – menyala rindu.
Cemara di bukit sana juga senang membaca gema rinduku.

Aku bukan pungguk memuja rembulan
yang saban waktu melatih setia mengecup bibir luka, menggapai dan tak sampai.
Sebab pernah kau lafadzkan buah cinta di ujung nafas,

“Ummati, ummati, ummati”

dan itu selayak membentur mataku – matamu, kurasakan debarannya! Kurasakan dagumu melancip di dadaku.
Diregukan air cintamu, kuselami arusnya.
Bibirku basah menceracau bilah-bilah shalawat.

Sayang, di sini jalan pedang!
Seperti menunggang imaji, aku kadang tergagap mengeja silsilah rindu.
Ya, menebar kuntum cinta yang kau maksud tak semudah merekah senyum.
Ada mendung kumal yang siap menebar guntur, bahkan hari semakin nisan membalut waktu, pula membakar huruf-huruf cinta untukmu.
Hingga lelah aku memeras air mata memadamkannya.
Dan kau, selalu pelangi setelah hujan, lebih rasi bintang pada malam.

No comments: