Pages

Monday, July 30, 2012

'Femme', Incredible...


Hanya ingin menulis tentang wanita. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin menulis setelah sekian lama tidak menulis. Memperhatikan teman-teman yang segender dan diri sendiri secara lahiriah dan batiniah, ternyata sifat wanita itu tidak jauh berbeda. Yang berbeda hanya bentuk wajah dan sifat khas yang dimiliki masing-masing orang. Wanita memiliki beberapa sifat
yang cenderung sama walaupun tidak secara keseluruhan tetapi sebagian besar, ya tentu saja.
Ok, lets run what is inside of....

1.      Yang ini atau yang itu?
Nah, kalau seorang wanita sedang memilih pakaian, sandal atau bahkan undangan pernikahan, biasanya mereka akan bertanya, “Mana yang lebih bagus ya?”.
Misalnya seorang wanita bertanya perihal undangan pernikahan pada calon suaminya:

Wanita: “Undangan pernikahan kita bagusnya pakai foto atau enggak ya?”.
Lelaki  : “Pakai foto boleh juga”
Wanita: “Tapi kalau yang gak pakai foto, desain undangannya juga bagus”
Lelaki : “Ya udah, gak pakai foto juga gak masalah”
Wanita: “Kalau gak pakai foto ntar orang-orang gak tau kalau yang mau nikah itu kita”
Lelaki  : (Berusaha sabar dan mencari solusi). “Kalau gitu buat 50% pakai foto, 50% lagi
  gak usah ada fotonya.
Wanita: “Wah nanti kita dibilang gak konsisten lagi. Mana bisa beda-beda gitu
               undangannya”
Lelaki  : “Ya udah!!! Gak usah cetak undangan!!! Kita ngundangnya via SMS aja! Ribet
         amat sih!!!”
Wanita:   &%###@&&#$%??? (Dalam hati: Kok marah-marah ya? Emang aku salah
nanyain undangan?). “Mas tunggu, gaunku lebih cantik yang warna putih atau
ungu???”
Lelaki  : (Lari............!)

Nah, begitulah kira-kira. Sebenarnya tidak ada yang salah dari seorang wanita. Mereka tidak butuh jawaban yang singkat sekedar “Ya” atau “Tidak”. Lebih dari itu, mereka butuh alasan. Sekali lagi alasan! Alasan mengapa yang warna biru lebih bagus daripada warna merah atau mengapa boneka teddybear lebih baik daripada dolphin. Dan perlu diketahui, terkadang jika wanita bertanya mana yang lebih bagus atau lebih cocok untuk digunakan, sebenarnya mereka sudah memiliki jawaban sendiri. Mereka hanya butuh penguatan atas pilihannya. :)
Atau doba pahami secuil cerita berikut ini:

Saat sedang pulang dari suatu tempat, si wanita memasang wajah masam yang menurutnya si lelaki akan memahami kalau sebenarnya ia tidak menyukai acara tersebut. Dengan kondisi yang bingung dan benar-benar tidak tahu, si lelaki bertanya:
Lelaki : “Kamu kenapa cemberut begitu”?
Wanita : “Gak ada apa-apa.”
Lelaki : “Kamu sakit?”
Wanita : “Enggak!”
Lelaki : “Jadi???”
Wanita : “Bisa gak sih diem aja? BT tau? Kamu memang gak pernah ngerti aku!!!”
Lelaki : “Jadi aku harus bagaimana?”
Wanita :”Iya, dari dulu kamu memang gak pernah ngerti aku! Coba kamu pikir bla-bla-bla-bla &%#$##@^&$***)90#$#, TURUNIN AKU SEKARANG!!!”
Lelaki : “Ini sudah larut malam. Jalanan sudah sepi. Turun di rumah aja ya. Kita bicara baik-baik.
Wanita : “TURUNIN AKU SEKARAAAANGGG!!!”
Lelaki : “Ok2, iya aku turunin sekarang”. (merapatkan mobilnya di pinggir jalan)
Wanita : “Kamu tega nurunin aku? Di malam gelap begini? Tega??”
Lelaki : (dalam kondisi seperti ini, hal yang paling tepat untuk ku lakukan adalah: “pura-pura mati”).
Cerita diatas, aku pun tidak paham bagaimana mengomentarinya. ^^.

2.      Dengarkanlah! Jangan memotong pembicaraanku.

Sudah menjadi fitrahnya kalau wanita itu lebih banyak berbicara daripada lelaki. Coba buktikan, yang lebih cerewet ibumu atau ayahmu? Yang sering nge-rap kalau kamu pulang terlambat, ibumu atau ayahmu? Yup, pasti rata-rata jawabannya adalah ibu. ini bukan hobby. Sekali lagi bukan hobby. Justru biasanya mereka menyelesaikan masalah dengan berkata-kata. Dengan kata lain, jika pria mengindeks masalah di kepalanya maka wanita mengindeks masalah dalam mulutnya. Jadi gak perlu heran jika sedang ada masalah, lelaki justru lebih sering diam dan menyendiri, sedangkan wanita akan menceritakan masalah pada sahabatnya.

Nah, jika wanita sedang curhat dengan sahabatnya, perhatikanlah tidak ada proses diskusi di dalamnya. Yang ada hanya si punya masalah bercerita (seringkali diikuti dengan tangisan) dan si teman mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengelus pundaknya hingga ia selesai berbicara dan si teman menanggapi dengan ikut merasa bahwa ia juga mengalami hal yang sama, sambil berkata, “Sabar ya, semua pasti ada jalan keluarnya” atau “Yakinlah pasti ada hikmah atas semua ini”. Terkadang, wanita tidak membutuhkan solusi tetapi hanya membutuhkan orang lain mendengarkan masalah yang ia alami. Membutuhkan orang lain hanya sekedar memahami kondisi dan keadaan dirinya saat itu (Ce’ ile...) karena wanita itu sudah tahu dan sudah menentukan solusi atas permasalahan yang ia alami. Satu hal lagi yang perlu dipahami, jika ia sedang menceritakan masalahnya lalu kita hendak memotong pembicaraannya karena kita merasa sudah menemukan solusi permasalahan yang ia alami, tunggulah sejenak hingga ia menyelesaikan pembicaraannya. Be a good listener.

3.      Pembicaraan 10 topik.
Aku sering berbicara dengan ibuku via telephon. Kami sering membicarakan apa saja. Yang jelas tidak pernah membicarakan fokus pada 1 topik. Bahkan dengan teman juga begitu. Pembicaraan yang awalnya membicarakan proposal dana bisa sampai pada pakaian kotor atau cucian yang sudah direndam tetapi belum sempat dicuci. Seperti contoh berikut ini:

Nina : “Li, hari ini ada agenda? Keluar yuk?”
Lia  : “Hmm... agenda ya? Gak ada sih, tapi harus belajar untuk ujian besok. Ujian sih gampang, gak belajar juga gak apa-apa, masalahnya mama ku lagi gak ada dirumah. Eh sebentar, cucianku udah kering belum ya (liat kearah jemuran).
Nina : “Angkat dulu jemurannya ntar hujan”
Lia  : “Oh, belum kering. Ntar aku tanya mama dulu ya manatau dikasih izin soalnya bingung nitip kuncinya sama siapa. Mau pergi kemana? Oya, udah ujian MM?
Nina : “Pergi cari kado buat Zizah. Mungkin minggu depan ujian MM nya. Zizahkan besok ultah?
Lia : “Oh ya? Aku kok gak tau besok Zizah ultah? Guru MM kalian siapa?
Dst.....
(Tanpa disadari belum ada keputusan dalam pembicaraan itu).
Aku pernah berbicara dengan abangku seperti itu (tanpa kusadari) dan aku sedikit terkejut karena ia berkata, “Ngomong apa sih dek? Sebenarnya yang mau disampaikan apa?”
Jeggeeer....!!
Ternyata hanya wanita yang bisa memahami pembicaraan 10 topik ini karena wanita bisa memahami hal-hal diluar konteks, bisa mendengar suara yang nyaris tidak terdengar kaum pria dan bisa memaknai hal-hal yang berbau perasaan lebih mendalam (Peace... telunjuk dan jari tengah mengacung).

4.      Mereka bilang aku lemah, tapi aku mampu menyelesaikan 5 pekerjaan dalam 2,5 jam

Terdengar kontras bukan? Statement bahwa “wanita itu lemah” tidak lagi terdengar asing di telinga kita. Tapi coba perhatikan ibumu di rumah. Ia dapat menyelesaikan 5 pekerjaan nyaris dalam waktu 2,5 jam. Menyiapkan sarapan, menyapu rumah, mencuci pakaian, mencuci piring hingga menyiapkan anak-anaknya pergi ke sekolah. Dan semuanya bisa selesai dari pukul 05.00 – 06.30 WIB. Amazing bukan? Coba kita bandingkan jika hanya ayah kita saja yang berada di rumah, mulai pukul 05.00 – 06.30 WIB ia hanya mampu menyelesaikan 1 pekerjaan saja, yakni : memasak nasi goreng. Itu pun dengan rasa yang abal-abal, anak-anaknya galau menyebut masakan itu sebagai nasi goreng.
Aku ingat, ketika abangku sedang mengutak-atik sepeda motornya, aku mengajaknya berbicara. Berbicara apa saja. Hingga ia berkata, “Adoh, dek udahlah nanti aja ngomongnya. Abang lagi konsen benerin keretanya!”. Aku agak heran, emang gak bisa benerin sepeda motornya sambil berbincang denganku? Ternyata, kalau wanita bisa melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan, nah lelaki hanya bisa fokus pada 1 pekerjaan dalam satu waktu. Wah, wanita memang hebat... :)

5.      Wanita cenderung lebih rapi.
Kalau yang satu ini, tergantung wanitanya juga sih. Tapi sebagian besar, wanita itu memang lebih rapi dibandingkan kaum pria. Coba bandingkan lemari pakaian adik lelaki dengan adik perempuanmu. Aku benar-benar heran dan keherananku ini juga dialami oleh beberapa orang temanku. Entah mengapa jika aku sudah menyusun rapi pakaian di dalam lemari abangku, itu tidak akan bertahan lama. 3 hari kemudian, pakaiaian sudah berubah bentuk menjadi buntelan-buntelan baju. Padahal aku sudah menyusunnya dengan rapi. Aku sedikit heran, jika mereka mengambil 1 kemeja berwarna biru makan seluruh baju yang ada di lemari akan berantakan dengan posisi yang tak pernah terbayangkan. Berbeda dengan wanita, segalanya tersusun dengan rapi dan teratur.

 Kamu, wanita yang bagaimana? :)

No comments: