Pages

Tuesday, August 7, 2012

"Alba" : We Are Here (Math, Kimia, Fisika, Biologi)

Mencabut-cabut kenangan masa silam bersama dengan mereka (bayangkan saya sedang mencabut rambut kalian), 3 teman sangat teramat karib saya *pengen peluk kaliaan*. Sebut saja nama mereka adalah Indah, Yuni dan Ayu. Jika ditambah dengan namaku maka kami menyingkatnya dengan sebutan MIYA.
Oke well, sebenernya gak ada yang istimewa dari mereka, week :p. Hanya saja mereka cukup berarti dalam perkembangan remaja saya, pembentuk kepribadian saya hingga tingkat kecerdasan saya yang lebih sering disebut orang-orang sebagai tingkat kecerdasan abstrak
*tidak terlihat sama sekali atau sadisnya, tidak ada sama sekali*. Hah!

Kami adalah pelahap ilmu pengetahuan secara bebas. Bebas sebebas-bebasnya. Terlebih diriku, mungkin bebas yang kebablasan. Jika guru memberikan A maka kami akan mencari sampai H namun akan kembali lagi ke A karena terbentur di I *apa sih maksudnya*.
Yah, walaupun saya bukan orang yang rajin membawa buku banyak ketika sekolah, setidaknya teman-temanku ini memiliki tingkat kerajinan yang bisa diandalkan dan sangat bersahaja ketika saya dengan sangat nestapa meminjam buku-buku mereka, apalagi buku-buku catatan. Menurut saya, mencatat yang efektif adalah meminjam catatan teman, membawa pulang dan mencatat di rumah. Karena selain anda bisa melengkapi catatan dengan rapi, anda juga sekaligus bisa menghafal catatan tersebut. Jadi, menyelam sambil minum air, gitu...  *alibi, katakan saja malas*.

Kami sering menjelajah di dunia-dunia maya. Dunia khayalan, tidak kenal tempat, di pondopo, di musholla, di kantin, di ruang kelas saat guru tidak hadir, di lorong-lorong sekolah, bahkan di pajak-pajak penjual bola bekel (masih ingatkah perjuangan mendapatkan bola bekel?). Sebenernya mau cerita apa sih? *dasar perusak alur yang berkualitas.

Kami selalu ingin menjadi yang terbaik, di mana saja. Dan itu selalu terpatri dalam hati kami. Umm...kecuali bagiku, bagian "datang tepat waktu ke sekolah" sungguh sedikit menyiksa. Gak usah dibahas ya...

Bersama mereka, saya menjelajah dunia Mendel yang rumit tentang genetika. Yang sangat sumringah adalah Ayu, persis Doraemon disuguhi Dorayaki. "Kacang ercis kulit keriput dikawinkan dengan kacang ercis kulit mulus bla.bla..%&%#@@&^%$##, dihasilkan kacang ercis keriput berwarna putih", pertanyaannya adalah darimana datang warna putih?", tidak perlu difikirkan, itu hanya campuran kesotoyan saya. Atau, memilah-milah wilayah subseluler hingga populasi. Menentukan ke-alelan kromosom hingga mengutuk-ngutuk para Darwinisme yang secara kejam menuduh kami sebagai anak-cucu kera, huh evolusionis cukup menyita waktu kami memburu pembuktian logis dan empiris. Bagaimana tidak? Kalau difikir-fikir, saya yang suka lompat-lompat waktu SMA, jika diturutkan berdasarkan teori evolusi, keturunan saya beribu-ribu tahun kemudian bisa menjadi kodok. Whaat? Masalahnya, bingung ntar mau dikasih nama apa. Lebih bingung lagi kalau pake acara cukur rambut segala.

Merasa jengkel main kera-keraan atau jerapah-jerapahan bareng Darwin dan Lamarck yang gak konsisten,  kami pun lari menuju laboratorium Boyle yang sibuk madet-madetin gas. Di sini saya agak merasa heran dengan permainan Boyle, kenapa ia suka dengan pompa ban sepeda kami??? *hmm..
Tentang khayalan kami sewaktu liat matahari terus bayangin ribuan foton menabrak kulit wajah kami,, ohh...tidaaaakk..!
Memperagakan resonansi sambil pinjem garputala sama anak paduan suara, dengan sotoy yang ga' ketulungan saya pukul garputala ke meja, lumayan kuat, dan menempelkannya ke telinga. Bisa dibayangkan apa yang terjadi? Yup, super sekali. *nguing-nguing..
Perdebatan kami tentang pembentukan alam semesta cukup alot hingga terdengar suara, "itu semua adalah takdir!". Habis cerita.
Sedikit terengah-engah mengikuti pemikiran Einstein tentang sesuatu yang relatif. Tentang kelengkungan ruang-waktu. Sempat berfikir gila, "jika anda ingin awet muda, maka sering-seringlah berwisata keluar angkasa", begitu Indah menyebutnya. Ia sedikit terobsesi dengan Stephen Hawking tentang ada atau tidaknya lubang cacing, atau mengembangnya alam semesta. Hingga ia menyodorkan potongan majalah sains yang terkait tentang itu. -masih tersimpan rapi di lemari bukuku- ah, tapi dia pasti sudah lupa pemberiannya yang sangat berharga itu.

Sudah puas mengobrak-abrik catatan einstein hingga otakku mendidih 273 Kelvin (maksud lo?), kami menyelam diantara larutan asam dan basa. Ini favoritnya temanku Yuni. Masih ingat salah satu quotes nya, [Ubi] + [Ragi] ---> Tape' deh..
Di laboratorium Arrhenius kami sering menjumpai ion-ion hidrogen atau ion hidroksida, mencampurkannya hingga garam meluap-luap di otak kami. Dasar otak garam. haha..
Keabstrakan atom sempat membuat kami, atau lebih tepatnya saya memiliki khayalan tingkat tinggi. Membayangkan apa jadinya jika atom-atom saling tidak mau berikatan, egois dan hidup tunggal-manunggal. Yeah, dunia akan jadi satu-satu dan mariyam akan menjadi sel-persel terbang bersama atom-atom, klorida, aurum, dan meledak bersama hidrogen. haaaaa..
Energi eksoterm dan endoterm membuat kami panas dingin dan ingin kabur dari laboratorium pak Joule.

Lalu Kami berlari lagi hingga lelah. Hingga hilang pedih perih, halah!
Menuju blantika perhitungan, bukan hal yang mudah, asseekk.. dunia ini penuh pesona dan intrik. Inilah dunia Matematika.
Hitung menghitung, menghabiskan satu papan tulis penuh atau berlembar-lembar hvs berisi coret demi coret sekedar mencari "x=...". Senyum x dan y kuadrat sempat mengalihkan duniaku. Di sini, kami melihat Aljabar tersenyum manis membungkus kado persamaan demi persamaan.
Mata kami mulai berkunang-kunang serasa terjebak diantara kotak matriks identitas, 0-1-0-1-0-1 menatap integral dan limit. Namun kami tetap bersemangat walau terkadang -perut terasa sangat melilit- *yang ini kok gak nyambung? plaak*
Lompat-lompat pada daerah hypotenusa menghitung derajat demi derajat sudut-sudut segitiga pak Phytagoras, lumayan menguras butir-butir asam butirat sisa pengelanaan sebelumnya. Sinus, Cosinus, Tangen ikut-ikut membuat kami teparrrr...

Akhirnya kami pun lelah berkelana di dunia sains dan hitungan. Hingga pada jam berikutnya, datanglah sang guru Geografi. Kami hanya diam membisu, sedikit terkantuk-kantuk dan demi menghilangkan kantuk kami rela menyobek kertas, saling sms pake kertas sekedar bertanya, "Jam berapa bpk ini selesai menerangkan?". Haaah??

Mengenang beberapa tahun silam,
saat kita menuliskan khayalan-khayalan
di atas awan yang menawan.
Menawan sekali.

No comments: