Bukan
Ponds (maaf sebut merk, keceplosan..) yang mengalihkan dunia saya. Tapi
dirimu, dunia yang cukup belia untuk dirasa, dan terlalu muda untuk
dipahami, bagi orang dewasa sekalipun. Dunia anak-anak, dunia yang
membuat saya terkadang mengerutkan dahi, menyungging seutas senyum
bahkan membuat sakit perut karena tertawa. Dunia tanpa beban, dunia yang
teramat polos. :)
Hmm malam pukul 1.17 am...
*memejamkan mata berteman the fugees 'killing me softly' mengalun indah di telinga, menarik nafas, mencoba memasuki dunia mereka (emang bisa Mar? hayyahh!)
Tampak seorang bocah kecil berumur 5 tahun, sering bertandang kerumah saya. Dulu ibunya (saya memanggilnya kakak) teman akrab masa kecil saya. "Panggil aku Via", begitu katanya. Alyviariska nama lengkapnya. Anak yang cerdas, bagaimana tidak, diumur 4 tahun sudah bisa membaca Alqur'an hingga juz 8, bisa menyebutkan hampir seluruh anggota badan, anggota keluarga, dll dalam bahasa inggris dan arab, hafal Alfatihah, An-nas, Al-ikhlas, Al-falaq, Al-lahab, ayat kursi, dll. Pintar berhitung and celotehnya yang sangat luar biasa. Berhati-hatilah berbicara dengannya jika tidak ingin disanggah.
Suatu ketika seperti biasa, hampir setiap hari jika saya berada di rumah, sore hari sekitar pukul 17.00 pm ia bermain ke rumah saya. Kami sering berbicara apa saja. Belajar bahasa Inggris hingga ia merasa keren menyapa saya dengan sapaan, "Hi, how are you?". Ia juga tertawa-tawa saat saya menjerit, "Via, what are you doing?", kemudian ia mengulang-ulang kata "doing, doing, doing, doing" sambil cekikikan entah karena mengejek saya atau ia merasa lucu dengan kata "doing" itu.
Ia sangat dewasa (baca: sotoy yang gak ketulungan) hingga pernah ia bertanya apakah saya sudah membuat kue raya atau belum. Jika belum, "Sini bu, aku yang ajari. Ibuk beli bahan-bahannya nanti biar aku yg ajari ibu buat kue nya". Seketika harga diri saya jatuh dari langit ke tujuh. Huaaahh..
Atau ia yang pernah curhat gara-gara dimarahin kakeknya, atau bahkan ia yang bercerita tentang sekolahnya, teman-teman nya yang ES-KE-TE-an dengannya. Apa deh,, via..via..
Sore itu saya secara iseng mengajukan teka-teki padanya. Teka-teki songong yang teramat mudah.
Saya : "Via, uler mati merokok. Apakah itu?"
Via : "Ular mati itu gak pernah merokok ibok...!"
Saya : (iya sih. ah bodo' amat) "Ini kan teka-teki. Jadi siapa aja bisa merokok". (entah mengapa saya merasa jawaban kali itu sangat tidak berlandaskan fakta ilmiah)
Via : "Apa ya? Gak tau buk"
Saya : "Yah, masa' gitu aja gak tau, jawabannya obat nyamuk!?
Via : "Kenapa harus obat nyamuk"
Saya : "Karena obat nyamuk bentuknya melingkar-lingkar kayak ular"
Via : (berfikir sejenak) "Hmm... iya ya. Kalau gitu, ayam mati apakah itu?"
Saya : (hah?? ayam mati? apppaaa? *keringat dingin*, pokoknya saya harus bisa menjawab, kalau enggak, bisa lenyap harga diri saya beberapa digit) "Hmm.. ayam mati busuk berulat."
Via : "Iyyaaa, betuul sekali"
Saya : (*girang..* dasar Via, melecehkan saya)
Via : "Kalau bebek bernanah berulat bau busuk? apakah itu?"
Saya : (aha, gampang! *menjentikkan jari) "Itu namanya bebek mati"
Via : "Angsa pingsan? Apakah itu?"
Saya : "Angsa belum mati", (berfikir, apakah via akan menyebutkan satu-persatu hewan yang ada di dunia ini? *mulai khawatir*)
Via : "Awan putih jadi hitam. Apakah itu?"
Saya : (lega). "Mendung"
Via : "Langit terbelah?"
Saya : "Kiamat.."
Via : (terdiam, seperti memikirkan sesuatu). "Kiamat itu apa buk?"
Saya : (tuingng..,sepertinya bahasannya akan panjang nih! Mencoba mengingat-ingat surah At-Takwir tentang kiamat). "Kiamat itu kalau bintang-bintang di langit jatuh ke bumi, bumi hancur, gunung semuanya pecah berserak, terus langit runtuh semuanya, laut-laut pada meluap.. Maa.. (mau menjelaskan keadaan manusia)"
Via : "Manusianya matilah buk ketimpa matahari?"
Saya : "Nanti waktu kiamat, malaikat israfil niup terompet. Terompetnya gedeee kali.. Nah, waktu tiupan pertama manusia pada mati semuanya. Tiupan kedua baru semuanya dibangkitkan."
Via : "Manusia semua dibangkitkan? Yang udah mati? Kayak mana caranya?"
Saya : "Iya, semuanya. Yang dulu-dulu udah meninggal,semuanya dibangkitkan. Kan Allah yang bangkitkan. Allah kan punya Kuasa".
Via : "O-i-ya.. pernah dibilang ummi (panggilan untuk guru TK) waktu TK. Terus buk manusianya dibawa ke mana?".
Saya : "Manusianya dikumpulkan di lapangan yang luuuaaasss kali. Terus amal manusia ditimbang, kalau banyak pahalanya, dia masuk surga. Kalau banyak dosanya, dia masuk neraka".
Via : "Nama lapangannya itu apa buk"
Saya : (kok jadi lapangan sih?) "Namanya padang Mahsyar artinya tempat berkumpul. Jadi, di padang Mahsyar itu kita berkumpul"
Via : "Surga sama neraka, enakan mana buk?"
Saya : "Ya surga dunk via. Di surga itu, semuanya ada".
Via : "Kalau neraka ada apa buk?"
Saya : "Di neraka, hiiiiii...ada api berkobar-kobar. Ngeri."
Via : "Api di neraka kalo di embus-embus bisa mati?"
Saya : (haha, lucu sekali kamu. Memangnya api lilin diembus-embus bisa padam). "Gak bisa la sayang. Apinya selalu hidup sepanjang masa."
Via : "Jadi, aku masuk surga apa masuk neraka ya buk?" (mulai ketakutan)
Saya : "Hmm... Tergantung, kalau via banyak pahalanya berarti via masuk surga."
Via : "Ibook, aku gak mau masuk neraka....."
Saya : (kenapa jadi begini??). "Ya enggak, via gak boleh masuk neraka. Asal via rajin belajar, rajin baca buku, rajin sholat, gak melawan sama mamak,nurut sama guru, pasti bisa masuk surga".
Via : "Iya buk, aku tiap hari kan belajar. Terus kalau aku masuk surga, mamak sama bapakku gimana?'
Saya : "Kalau banyak pahalanya bisa masuk surga juga. Jadi nanti di surga via main-main sama mamak sama bapak juga."
Via : "Kalau mamak sama bapak masuk neraka kayak mana buk?" (wajah sedih)
Saya : "Nah itu makanya via jadi anak yang sholeha biar bisa nolong mamak sama bapak via."
Via : "Iya buk, besok aku pagi-pagi mau belajar, mau baca buku banyak-banyak".
Saya : "Ok, bagus-bagus" (cubit-cubit pipi via, ngelus-ngelus kepalanya,,)
Via : "Bok, di surga ada apa aja?"
Saya : "Semuanya ada. Kalau via mau minum susu, ada sungai susu yang luuuaaass di sana."
Via : "Haaa?? Ada susu juga?" (*girang, matanya kedap-kedip sambil tepuk tangan). "Tapi,, minumnya pake apa? Kan gak ada gelas buk?"
Saya : (eerrghh *pegang kepala*). "Via tinggal bilang aja, gelasnya langsung datang. kan udah ibu bilang tadi. Pokoknya di surga itu, via tinggal bilang aja mau apa, langsung pesanan datang."
Via : "Ooo iya-iya, aku lupa. Jadi kan semua Allah yang ciptakan, Allah itu datangnya darimana buk? Allah itu kayakmana sebenernya?"
Saya : "Allah itu gak kayak manusia, Allah itu gak diciptakan tapi memang ada sendiri. Pokoknya Dia Maha Kuasa atas semuanya"
Via : "Aku jadi bingung buk..!!! Aduuhhh..." (memegang kepalanya)
Saya : "Hmm.. gini, jadi... (sebenernya saya sangat bingung menjelaskan pertanyaan yang satu ini *garuk-garuk kepala* Apa mungkin saya menjawabnya menggunakan metode 1 tamparan untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan, takdir dan syaithan, seperti yang pernah saya baca dalam kumpulan kisah Islami? Apakah tamparan? Atau saya menampar diri saya sendiri? Tidaaak... -dizzy- )
.....
.....
Hingga terdengar suara
"Viaaaa...pulang...", *yes,, Alhamdulillah, terhindar dari pertanyaan itu* , suara dari depan rumah terdengar jelas . Mamaknya via sudah memanggil dari seberang jalan. Huaah, alhamdulillah percakapan sampai di situ saja. Kalau dilanjutkan, saya bisa setress..
"Hah, via,,, mamak udah manggil. disuruh pulang vianya. Besok main2 lagi ke sini ya..", kata saya sambil melirik ke arah jendela.
Saya akhirnya mengantarkan ia pulang sampai di rumah. Ia memaksa saya berjanji untuk menjelaskan tentang "Allah itu siapa? Berasal darimana? dan mirip siapa?". Mengapa anak sekecil itu membuat PR yang cukup sulit.. hahah, dasar..!
Dunia anak-anak memang lucu, terkadang merasa cukup kesulitan menerjemah apa yang kita maksud ke dalam bahasa yang mudah mereka pahami, yaah begitulah... :)
Melihat polosnya wajah anak-anak seperti mencium sebuah aroma. Aroma kebahagiaan, aroma surga..
Hmm malam pukul 1.17 am...
*memejamkan mata berteman the fugees 'killing me softly' mengalun indah di telinga, menarik nafas, mencoba memasuki dunia mereka (emang bisa Mar? hayyahh!)
Tampak seorang bocah kecil berumur 5 tahun, sering bertandang kerumah saya. Dulu ibunya (saya memanggilnya kakak) teman akrab masa kecil saya. "Panggil aku Via", begitu katanya. Alyviariska nama lengkapnya. Anak yang cerdas, bagaimana tidak, diumur 4 tahun sudah bisa membaca Alqur'an hingga juz 8, bisa menyebutkan hampir seluruh anggota badan, anggota keluarga, dll dalam bahasa inggris dan arab, hafal Alfatihah, An-nas, Al-ikhlas, Al-falaq, Al-lahab, ayat kursi, dll. Pintar berhitung and celotehnya yang sangat luar biasa. Berhati-hatilah berbicara dengannya jika tidak ingin disanggah.
Suatu ketika seperti biasa, hampir setiap hari jika saya berada di rumah, sore hari sekitar pukul 17.00 pm ia bermain ke rumah saya. Kami sering berbicara apa saja. Belajar bahasa Inggris hingga ia merasa keren menyapa saya dengan sapaan, "Hi, how are you?". Ia juga tertawa-tawa saat saya menjerit, "Via, what are you doing?", kemudian ia mengulang-ulang kata "doing, doing, doing, doing" sambil cekikikan entah karena mengejek saya atau ia merasa lucu dengan kata "doing" itu.
Ia sangat dewasa (baca: sotoy yang gak ketulungan) hingga pernah ia bertanya apakah saya sudah membuat kue raya atau belum. Jika belum, "Sini bu, aku yang ajari. Ibuk beli bahan-bahannya nanti biar aku yg ajari ibu buat kue nya". Seketika harga diri saya jatuh dari langit ke tujuh. Huaaahh..
Atau ia yang pernah curhat gara-gara dimarahin kakeknya, atau bahkan ia yang bercerita tentang sekolahnya, teman-teman nya yang ES-KE-TE-an dengannya. Apa deh,, via..via..
Sore itu saya secara iseng mengajukan teka-teki padanya. Teka-teki songong yang teramat mudah.
Saya : "Via, uler mati merokok. Apakah itu?"
Via : "Ular mati itu gak pernah merokok ibok...!"
Saya : (iya sih. ah bodo' amat) "Ini kan teka-teki. Jadi siapa aja bisa merokok". (entah mengapa saya merasa jawaban kali itu sangat tidak berlandaskan fakta ilmiah)
Via : "Apa ya? Gak tau buk"
Saya : "Yah, masa' gitu aja gak tau, jawabannya obat nyamuk!?
Via : "Kenapa harus obat nyamuk"
Saya : "Karena obat nyamuk bentuknya melingkar-lingkar kayak ular"
Via : (berfikir sejenak) "Hmm... iya ya. Kalau gitu, ayam mati apakah itu?"
Saya : (hah?? ayam mati? apppaaa? *keringat dingin*, pokoknya saya harus bisa menjawab, kalau enggak, bisa lenyap harga diri saya beberapa digit) "Hmm.. ayam mati busuk berulat."
Via : "Iyyaaa, betuul sekali"
Saya : (*girang..* dasar Via, melecehkan saya)
Via : "Kalau bebek bernanah berulat bau busuk? apakah itu?"
Saya : (aha, gampang! *menjentikkan jari) "Itu namanya bebek mati"
Via : "Angsa pingsan? Apakah itu?"
Saya : "Angsa belum mati", (berfikir, apakah via akan menyebutkan satu-persatu hewan yang ada di dunia ini? *mulai khawatir*)
Via : "Awan putih jadi hitam. Apakah itu?"
Saya : (lega). "Mendung"
Via : "Langit terbelah?"
Saya : "Kiamat.."
Via : (terdiam, seperti memikirkan sesuatu). "Kiamat itu apa buk?"
Saya : (tuingng..,sepertinya bahasannya akan panjang nih! Mencoba mengingat-ingat surah At-Takwir tentang kiamat). "Kiamat itu kalau bintang-bintang di langit jatuh ke bumi, bumi hancur, gunung semuanya pecah berserak, terus langit runtuh semuanya, laut-laut pada meluap.. Maa.. (mau menjelaskan keadaan manusia)"
Via : "Manusianya matilah buk ketimpa matahari?"
Saya : "Nanti waktu kiamat, malaikat israfil niup terompet. Terompetnya gedeee kali.. Nah, waktu tiupan pertama manusia pada mati semuanya. Tiupan kedua baru semuanya dibangkitkan."
Via : "Manusia semua dibangkitkan? Yang udah mati? Kayak mana caranya?"
Saya : "Iya, semuanya. Yang dulu-dulu udah meninggal,semuanya dibangkitkan. Kan Allah yang bangkitkan. Allah kan punya Kuasa".
Via : "O-i-ya.. pernah dibilang ummi (panggilan untuk guru TK) waktu TK. Terus buk manusianya dibawa ke mana?".
Saya : "Manusianya dikumpulkan di lapangan yang luuuaaasss kali. Terus amal manusia ditimbang, kalau banyak pahalanya, dia masuk surga. Kalau banyak dosanya, dia masuk neraka".
Via : "Nama lapangannya itu apa buk"
Saya : (kok jadi lapangan sih?) "Namanya padang Mahsyar artinya tempat berkumpul. Jadi, di padang Mahsyar itu kita berkumpul"
Via : "Surga sama neraka, enakan mana buk?"
Saya : "Ya surga dunk via. Di surga itu, semuanya ada".
Via : "Kalau neraka ada apa buk?"
Saya : "Di neraka, hiiiiii...ada api berkobar-kobar. Ngeri."
Via : "Api di neraka kalo di embus-embus bisa mati?"
Saya : (haha, lucu sekali kamu. Memangnya api lilin diembus-embus bisa padam). "Gak bisa la sayang. Apinya selalu hidup sepanjang masa."
Via : "Jadi, aku masuk surga apa masuk neraka ya buk?" (mulai ketakutan)
Saya : "Hmm... Tergantung, kalau via banyak pahalanya berarti via masuk surga."
Via : "Ibook, aku gak mau masuk neraka....."
Saya : (kenapa jadi begini??). "Ya enggak, via gak boleh masuk neraka. Asal via rajin belajar, rajin baca buku, rajin sholat, gak melawan sama mamak,nurut sama guru, pasti bisa masuk surga".
Via : "Iya buk, aku tiap hari kan belajar. Terus kalau aku masuk surga, mamak sama bapakku gimana?'
Saya : "Kalau banyak pahalanya bisa masuk surga juga. Jadi nanti di surga via main-main sama mamak sama bapak juga."
Via : "Kalau mamak sama bapak masuk neraka kayak mana buk?" (wajah sedih)
Saya : "Nah itu makanya via jadi anak yang sholeha biar bisa nolong mamak sama bapak via."
Via : "Iya buk, besok aku pagi-pagi mau belajar, mau baca buku banyak-banyak".
Saya : "Ok, bagus-bagus" (cubit-cubit pipi via, ngelus-ngelus kepalanya,,)
Via : "Bok, di surga ada apa aja?"
Saya : "Semuanya ada. Kalau via mau minum susu, ada sungai susu yang luuuaaass di sana."
Via : "Haaa?? Ada susu juga?" (*girang, matanya kedap-kedip sambil tepuk tangan). "Tapi,, minumnya pake apa? Kan gak ada gelas buk?"
Saya : (eerrghh *pegang kepala*). "Via tinggal bilang aja, gelasnya langsung datang. kan udah ibu bilang tadi. Pokoknya di surga itu, via tinggal bilang aja mau apa, langsung pesanan datang."
Via : "Ooo iya-iya, aku lupa. Jadi kan semua Allah yang ciptakan, Allah itu datangnya darimana buk? Allah itu kayakmana sebenernya?"
Saya : "Allah itu gak kayak manusia, Allah itu gak diciptakan tapi memang ada sendiri. Pokoknya Dia Maha Kuasa atas semuanya"
Via : "Aku jadi bingung buk..!!! Aduuhhh..." (memegang kepalanya)
Saya : "Hmm.. gini, jadi... (sebenernya saya sangat bingung menjelaskan pertanyaan yang satu ini *garuk-garuk kepala* Apa mungkin saya menjawabnya menggunakan metode 1 tamparan untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan, takdir dan syaithan, seperti yang pernah saya baca dalam kumpulan kisah Islami? Apakah tamparan? Atau saya menampar diri saya sendiri? Tidaaak... -dizzy- )
.....
.....
Hingga terdengar suara
"Viaaaa...pulang...", *yes,, Alhamdulillah, terhindar dari pertanyaan itu* , suara dari depan rumah terdengar jelas . Mamaknya via sudah memanggil dari seberang jalan. Huaah, alhamdulillah percakapan sampai di situ saja. Kalau dilanjutkan, saya bisa setress..
"Hah, via,,, mamak udah manggil. disuruh pulang vianya. Besok main2 lagi ke sini ya..", kata saya sambil melirik ke arah jendela.
Saya akhirnya mengantarkan ia pulang sampai di rumah. Ia memaksa saya berjanji untuk menjelaskan tentang "Allah itu siapa? Berasal darimana? dan mirip siapa?". Mengapa anak sekecil itu membuat PR yang cukup sulit.. hahah, dasar..!
Dunia anak-anak memang lucu, terkadang merasa cukup kesulitan menerjemah apa yang kita maksud ke dalam bahasa yang mudah mereka pahami, yaah begitulah... :)
Melihat polosnya wajah anak-anak seperti mencium sebuah aroma. Aroma kebahagiaan, aroma surga..
No comments:
Post a Comment