Pages

Thursday, August 30, 2012

Trip To RIAU


27 Agustus 2012, hari yang walaupun sudah terlewat, namun terasa melekat indahnya. Canda dan tawa masih terngiang-ngiang di kepala. Harum ukhuwahnya, seperti almatsurat di pagi dan petang, ya sebuah kebutuhan. Apalagi buat si kawan kami yang gak disangka-sangka eh...dia duluan buka calak *hehe peace...eeumm..yuhuu. ^~.

Sudah selayaknya sebagai sahabat *ce’ile..ngelus jenggot* kami berpusing ria memikirkan kenang-kenangan apa yang akan diberikan. Kalau do’a, tak perlulah ditanya lagi, itu so pasti. Kami ingin si kawan ingat masa mudanya dulu bersama-sama dengan kami, waktu masih lajang..*xixixii...*. Kebetulan beberapa orang masih berada di kampung halaman,
jadilah bertelpon-telpon ria menentukan kenang-kenangan itu.

Kami tahu benar, jika si teman ini (ewi) paling senang dikasih surat cinta. Yup, kado surat cinta dan foto2 masa muda adalah pilihan paling jenius menurut kami. Semua surat cinta dikumpulkan ke Ayu. Ayu seolah-olah *crriiiing...* berubah menjadi seorang penagih surat. Ga sms, chat fb, ketemu, dia selalu nagih surat.
“Surat kalian maaannnaaa???”,
“Woyy..surat woy.. surat-surat!!”
“Hari terakhir kumpul surat tgl “sekian” bagi yg belum kumpul segera dikirim...”.
Begitulah Ayu selalu meneror kami. Alhasil berkat kerjakeras teror-meneror ini terkumpullah hampir seluruh surat. *hooop...beri hormat pada Ayu*
Berbicara tentang kado yang lain, sepertinya Saira dan Tya yang berburu. Bawa-bawa kado naik motor, gak kebayang deh, pake acara jatuh-jatuh lagi *yg jatuh kadonya, bukan orangnya*. Thanks ya woy,, *mengerjap-ngerjapkan mata*.

Okey, next kami pun segera meluncur ke rumah Ewi di Bagan Siapi-api (Riau) pada tanggal 26 Agustus 2012. Kami berangkat pukul 14.00 WIB dari Medan. Saya, Ayu, dan kak Mei disertai bang Komek (pak supir) segera menuju Tamora. Disana Tya, Dian dan Saira menunggu dengan manis sambil gotong-gotong kado. Sementara itu, Putri menunggu di Kisaran.

Singkat cerita, kami sudah duduk manis di dalam mobil. Di bagian depan ada bang supir dan Tya, di tengah ada kak Mei, saya dan Ayu, di belakang ada Saira dan Dian. Merasa oke dengan posisi tersebut, kami pun bergerak menuju Riau. Sepanjang perjalanan, kami masih asyik bercerita sendiri *bang supir diacuhkan*. Tanpa disadari orang belakang berbisik-bisik, “Eh, bang supirnya ngantuk.. Liat, abang itu ngantuk”. Wew, ngantuk?? Satu mobil resah.  Gimana nih?? Akhirnya kak Mei angkat bicara karena kebetulan kak Mei yang kenal dengan bang Komek, “Mek, ngantuk Mek? Santai aja bawanya. Kalau ngantuk, kita istirahat dulu”. Lalu bang Komek dengan gentle tanpa berkata-kata langsung berbelok menuju SPBU. Di sana ia ngacir ke kamar mandi. Maklumlah, bang supir adalah perokok, jadi kalau gak merokok dia akan mengantuk. Selagi bang Komek di kamar mandi, kami memarahi Tya *yaah.. Tya deh jadi tumbal*,
“Kenapa bang Komek gak diajak bicara Ty... Seharusnya diajak ngomong gitu...”, kata Kak Mei.
“Iya Tya ni, diem aja.” “Iya nih..” “Iya”, *membentuk paduan suara*, hampir semua menyalahkan Tya. Padahal kalau disuruh duduk depan semuanya nolak. Dasar....
“Ya udah, kalian aja lah duduk di depan”, seru Tya.
*Gak ada yang mau...*
“Ya udah, Sera aja sini yang duduk di depan. Tapi kira-kira apa yang mau dibicarain sama abang itu? Buat listnya dulu lah weee..” *gubrak*
Jiah ampun dah, baru kali ini saya merasa aneh, lucu. Ngomong kok pakai List pertanyaan..

Lalu, kami pun melanjutkan perjalanan. Sera dengan sok bersahabat membuka pertanyaan,
“Bang, udah sering bawa mobil ya?”
            “Udah”
“Paling jauh kemana aja bang?”
            “Tapsel”
Senyaaaaap....
Kak Mei membuka dialog lagi,
“Mek, si fulan tinggal di daerah ini ya?”
            “Enggak”
“Jadi udah pindah?”
            “Iya”
“Ooo.. jadi kakak itu ikut juga ya Mek?”
            “Ikut”
Habis cerita....
Saya dan teman-teman berkelut dengan pikiran masing-masing. Bang Komek adalah orang terhemat yang pernah saya kenal. Hemat banget ngomongnya. Cuma “iya”, “enggak”, “ikut”, 1 kata aja.. Bagaimana dulu saat abang itu sekolah ya? Kalau ditanya guru, “Komek, coba sebutkan 10 jenis buah yang kamu ketahui”. Maka bang Komek akan menjawab dengan mantap, “Rujak!”

Di indrapura, kami singgah di rumah Sera, sekedar nyicip tempe dan pisang goreng buatan ibunya yang sangat fenomenal itu. Terkenal seantero Indrapura. Saya sendiri sudah pernah cicip resep turun temurun ini di rumah kak Tari (kakaknya Sera).
Setelah ba-bi-bu, cap-cis-cus, bersama ibunda Sera dan keluarga, kami segera melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, bang Komek kena kultum oleh orang tua Sera. “Hati-hati ya nak bawa mobilnya. Kalau ngantuk, berhenti aja. Santai-santai aja bawanya, gak usah kebut-kebutan.”
            “Iya pak, iya buk”, jawab bang Komek. Nah kali ini bang Komek agak boros dikit dengan kata-kata.

Sebelum menuju perjalanan panjang, kami singgah di rumah Putri untuk makan malam sekaligus menjemputnya di kisaran. Perjalanan indrapura-kisaran kami isi dengan bercerita tentang sifat-sifat seseorang berdasarkan golongan darah dan yang paling seru adalah menerjemah singkatan-singkatan seperti, apa itu singkatan dari PT, Persero, PDAM, PELNI, WHO, ILO, IMF, Fa, UFO dll. Hingga kami terbentur dengan pertanyaan Dian, “Apa itu kepanjangan dari CV?”. Sera dan Ayu nyeletuk, “Curruculum Vitae lah..”. Bukan, bukan itu yang Dian maksud, CV istilah dunia usaha itu loh.
“Oke, jadi PR kita ya”, kata Ayu.
“Lalu kepanjangan FBI apa woy?”, tanya Tya
*Gak ada yang tau.. Cuma tau bagian depannya aja “Federal bla..bla..bla..
Tiba-tiba saya teringat sebuah organisasi besar, “Kalau PBB? Bahasa Indonesianya kan Persatuan Bangsa-Bangsa, nah kalau secara Internasional disebut apa? Gak mungkin kan Persatuan Bangsa-Bangsa juga?”
*Semua berfikir, iya juga ya? Pada ga’ bisa jawab*
“Oke, PR kita nambah jadi tiga ya”, si Ayu kerajinan ngitungin jumlah PR.
“Kalau Unesco, Unicef? Singkatan dari apa?”
*Semuanya diam kembali..
“Yak, PR kita nambah jadi 5. Udahlah maennya, banyak kali nanti PR kita..”, Ayu masih ngitungin PR. *sahabat saya yang 1 ini memang langka, “Terus? Gua harus bilang wow gitu...” (datar gaya ayu)*

Gak terasa kami sudah sampai di Kisaran. Nyariin putri seperti nyari elektron dalam atom, pakai teori ketidakpastian.
“Nanti setelah lewat UNA (Universitas Asahan), ada rumah makan Aneka Rasa. Jaraknya sekitar 100 meter gitu. Nah, putri di dekat situ kak”, terang putri via telpon.
“Oh iya dek, oke”, jawab sera dengan mantap.
Kami melewati sebuah bangunan, seperti kampus. Salah seorang bersorak, “Nah, ini UNA, dikit lagi kita jumpa putri”.
Mobil melaju lagi perlahan-lahan, namun putri gak ketemu juga. Mungkin sudah 700 meter.
“Jarak 100 meter yang dimaksud Putri itu seberapa ya?”, saya memang agak lemah bagian terka menerka jarak. Mata kami terus mencari-cari Aneka Rasa.
Kami jalan terus, lumayan jauh lalu menemukan sejumlah bangunan bertuliskan “Universitas Asahan”.
##Jeggerrrr... Pantes... Jadi tadi bangunan apa? Hahah, itulah akibat pada sotoy semua.

Akhirnya sampailah kami di rumah Putri, disuguhi makan malam, jelas gak nolak, tak ada kata-kata “Terima kasih buk, sudah kenyang..”, tak ada! Sekaligus juga kami melaksanakan sholat maghrib dan Isya. Lagi-lagi sebelum berangkat, bang Komek kena kultum oleh orang  tua Putri. “Hati-hati ya nak bawa mobilnya. Yang dibawa anak gadis semua soalnya. Kalau ngantuk, berhenti aja sebentar, nanti dilanjutkan lagi”. Bang Komek pun mendengarkan petuah tersebut dengan seksama.

Sepanjang perjalanan, kami bercerita lagi. Di temani lagu-lagu Islami yang ada di flashdisk Tya. Sera dengan pasrah, rela jadi operator lagu. Kalau ada lagu Maher Zein yang judulnya “Inshaallah”, maka kami akan serempak berkata, “SCTV,,,, operator tolong tukar lagu”. Beberapa kali singgah di SPBU dan sebanyak itu pula kami berfoto-foto ria. Hingga sarung kamera Tya hilang entah kemana. Wajah Ayu sangat merasa bersalah sekali. *ganti yu, ganti tu, ganti..hehe*

Pukul 12.00 pagi, beberapa orang sudah mulai lowbat. Kak Mei, Tya, Ayu, Sera, terutama Putri yang benar-benar menjadi Putri tidur *begitu di dalam mobil langsung tidur*. Pukul 12.30, tinggal saya dan Dian yang masih melek. Saya sesekali memperhatikan bang Komek kalau-kalau ia mengantuk begitu juga Dian. Hingga semua terlelap...

Waktu hampir menunjukkan pukul 03.00 pagi tiba-tiba bang Komek bersuara, “Kak, setelah ini nanti belok kemana?”. Diantara kami hanya kak Mei yang pernah ke rumah Ewi.
“Nanti belok kiri Mek. Ini udah dimana?”
            “Udah di Tanjung Pandan”.
“Tapi kayaknya dulu gak lewat jalan ini Mek, bentarlah kami telpon dulu ya.”, jawab kak Mei. Ayu pun menelpon Siska, karena Siska sudah berkali-kali ke rumah Ewi. Bahkan ia sudah sampai duluan di rumah Ewi.
“Ka, kami udah di Tanjung Pandan. Terus kami kemana lagi?”
            Siska menjawab dari ujung telpon, “Hmm.. *suara mengantuk* apa yu? Nanti belok kiri kalau ada simpang”
“Tapi lewat Tanjung Pandan kan Ka?”
            “Mmm..gak tau ika yu, coba tanya sama orang disitu”.
“Oh, ya udah lah kami tanya.. Tapi tanya sama siapa jam 3 gini Ka?”, jawab Ayu dengan polos dan datar... *gubrak!

Mobil terus melaju tanpa tahu arah yang dituju benar atau tidak. Mendapati sebuah persimpangan, bang Komek pun memberhentikan mobil. Sera dan bang Komek bertanya pada orang di sekitar. Duo ini sangat kami nantikan kabarnya di dalam mobil. Sera kembali ke mobil dan angkat bicara, “Kalau kita belok ke kiri, itu arah ke Dumai. Ke kanan, arah ke Pekanbaru. Jadi kesimpulannya kita nyasar gitu.. Nah, kalau mau ke Bagan Siapi-Api, beloknya di persimpangan sebelumnya.”

“Aaaarrgghhh, jadi kita nyasar? Yaaah...”, semua pada menghempaskan badan. Lagu Ebiet G. Ade  di dalam mobil mengalun indah. “Perjalanan ini terasa sangat......*menyasar* (ganti lirik)”.
Bang Komek akhirnya putar balik mobil.
“Jauh kita nyasarnya bang?”, tanya salah seorang dari kami.
            “Lumayan”, singkat bukan? Jawaban bang Komek memang incredible.
Saya menyeletuk, “Yang dimaksud lumayan sama abang ini seberapa jaraknya ya...?”
*semuanya diam.

Penunjuk jalan yang terpampang di pinggir jalan memang sangat membantu. Mengikuti petunjuk itu, akhirnya kami menemukan jalan menuju Bagan Siapi-Api. Setelah jalan lumayan jauh, kami mulai ragu kembali. Benar atau tidak ini jalan menuju ke sana?
Kurang lebih pukul 04.00 dini hari kami kembali mencoba bertanya pada siapapun yang melintas di jalan. Sayangnya tidak ada seorang pun. Hingga menemukan seseorang di pinggir jalan.
“Nah, kita tanya sama orang itu yok”. Mengamati dari agak jauh, kami merasa aneh dengan orang itu. Kalau saya langsung mengarahkan mata pada kakinya. Alhamdulillah kaki tuh orang masih menginjak tanah. Tapi ada yang aneh, tiba-tiba ia tidur di bawah kayu-kayu gitu.
“Orang gilaaak..” *Lajukan mobilnya bang, ceepaatt.., seisi mobil ketawa-ketiwi gak jelas*

Hari merayap semakin subuh. Kami pun mulai mencari masjid. Ketemu Masjid yang lumayan besar dan ramai, semua pada bilang, “Itu di sana masjidnya lebih bagus, ke sana aja bang”. Mobil pun melaju kembali. *Putri udah bangun kan ya?? Mana putri? Mana? Manaa?*
Sampai di masjid yang mewah itu, semua kecewa berat. Masjid dikunci. Tidak ada orang sama sekali. Niatan ingin sholat di masjid yang indah, eeehh...begini jadinya. Memang, rumput tetangga itu lebih hijau...
Setelah menyia-nyiakan masjid yang lumayan besar dan ramai itu, akhirnya kami singgah di Mushollah Al-Ikhlas di kecamatan Rokan Hilir. *Bagaimana rasa airnya teman-teman? Hmm..Yummy,, serasa di laut mati gitu..*

Sebelum sampai di rumah ewi, kami sempat sarapan di warung lontong. Baru tau, ternyata harga lontong di sana seharga sekilo beras. Rasa lontongnya agak unik. Lontong rasa plastik. Lontong, Toloooong.... *tapi habis juga diembat*.

Sekitar pukul 8 pagi kami sampai di kediaman Ewi. Selesai Ewi didandan ala putri keraton, kami berfoto ria, gaya Chibi-chibi, ala d’Massive, *iwak peyek jadi gak tu?* hihihi, ala kuntilanak bangkit dari kubur? *plaaak, pakai remote tipi*

Setelah berbahagia, inilah bagian bermellow-durja. Berat sekali rasanya kaki melangkah pulang. Meninggalkan kediaman ewi, berkali-kali menatap kebelakang dan rasanya tidak ingin melanjutkan langkah demi langkah. Itulah sebabnya, banyak yang mengatakan jika hendak meninggalkan seseorang, pergilah tanpa harus menoleh ke belakang. *nyesek*

Dalam perjalanan pulang, penghuni mobil bertambah 1 orang, yakni Siska. Ia duduk di bagian tengah bersama kak Mei, saya dan Ayu. Yah, dasar memang anaknya lasak, mau di rumah, di motor, di mobil tetep aja lasak. Posisi favoritnya adalah duduk di bawah sambil kepalanya menyender pada kaki kami. Hingga ia tertidur dalam posisi tersebut.
Perjalanan pulang tidak seramai saat pergi meskipun penghuni bertambah satu. Semuanya diam, berkemelut pada pikiran masing-masing. Menggalaukah? Minum baygon aja..*lemparin batu*
Dalam perjalanan pulang ini, kami juga tak lupa berdoa secara berjamaah karena doa dalam perjalanan adalah satu dari waktu mustajabah (doanya seorang musafir). Semuanya diminta, minta naik haji, minta mobil, minta S2, minta (.....) *isi sendiri lah (: *, dll. “Allah segalanya”

Dalam perjalanan pulang, sekitar pukul dua dini hari, beberapa dari kami *yang lain masih terlelap tidur* melihat kecelakaan di jalan lintas sekitar Indrapura. Pengendara motor vs .... (sepertinya truk), karena kondisi pengendara sepeda motor sangat menggenaskan. Jika terjadi sebuah kecelakan, tingkat penasaran saya berada pada level tertinggi dan sesaat sesudah melihat kejadian, maka saya akan berada pada titik terlemah *sok berani* (Yak, benar! Siapa tadi yang jawab? Siapa?). Melihat dengan mata kepala sendiri, kondisi pengendara dengan kepala pecah, bermandikan air hujan, spontan mata tidak bisa mengatup lagi. Berfikir, saya nanti meninggal dalam keadaan seperti apa? Khusnul khotimah atau Su’ul khotimah? Dalam keadaan puncak iman tertinggi atau futur? *semuanya berdoa dalam hati*

Horeee...*lompat-lompat* akhirnya tepat subuh hari, kami sampai di Medan dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun, kecuali hati yang tersemat di ujung Bagan Siapi-Api sana. Hati yang sengaja tertinggal sebagai bentuk rasa yang tiada mampu terjelaskan.
Bersamamu Ewi, biarkan kami menggenggam tanganmu, bersama menggapai jannahNya...

No comments: