27
Agustus 2012, hari yang walaupun sudah terlewat, namun terasa melekat indahnya.
Canda dan tawa masih terngiang-ngiang di kepala. Harum ukhuwahnya, seperti
almatsurat di pagi dan petang, ya sebuah kebutuhan. Apalagi buat si kawan kami
yang gak disangka-sangka eh...dia duluan buka calak *hehe peace...eeumm..yuhuu.
^~.
Sudah
selayaknya sebagai sahabat *ce’ile..ngelus jenggot* kami berpusing ria
memikirkan kenang-kenangan apa yang akan diberikan. Kalau do’a, tak perlulah
ditanya lagi, itu so pasti. Kami ingin si kawan ingat masa mudanya dulu
bersama-sama dengan kami, waktu masih lajang..*xixixii...*. Kebetulan beberapa
orang masih berada di kampung halaman,
jadilah bertelpon-telpon ria menentukan
kenang-kenangan itu.
Kami
tahu benar, jika si teman ini (ewi) paling senang dikasih surat cinta. Yup,
kado surat cinta dan foto2 masa muda adalah pilihan paling jenius menurut kami.
Semua surat cinta dikumpulkan ke Ayu. Ayu seolah-olah *crriiiing...* berubah
menjadi seorang penagih surat. Ga sms, chat fb, ketemu, dia selalu nagih surat.
“Surat
kalian maaannnaaa???”,
“Woyy..surat
woy.. surat-surat!!”
“Hari
terakhir kumpul surat tgl “sekian” bagi yg belum kumpul segera dikirim...”.
Begitulah
Ayu selalu meneror kami. Alhasil berkat kerjakeras teror-meneror ini
terkumpullah hampir seluruh surat. *hooop...beri hormat pada Ayu*
Berbicara
tentang kado yang lain, sepertinya Saira dan Tya yang berburu. Bawa-bawa kado
naik motor, gak kebayang deh, pake acara jatuh-jatuh lagi *yg jatuh kadonya,
bukan orangnya*. Thanks ya woy,, *mengerjap-ngerjapkan mata*.
Okey,
next kami pun segera meluncur ke rumah Ewi di Bagan Siapi-api (Riau) pada
tanggal 26 Agustus 2012. Kami berangkat pukul 14.00 WIB dari Medan. Saya, Ayu,
dan kak Mei disertai bang Komek (pak supir) segera menuju Tamora. Disana Tya,
Dian dan Saira menunggu dengan manis sambil gotong-gotong kado. Sementara itu,
Putri menunggu di Kisaran.
Singkat
cerita, kami sudah duduk manis di dalam mobil. Di bagian depan ada bang supir
dan Tya, di tengah ada kak Mei, saya dan Ayu, di belakang ada Saira dan Dian.
Merasa oke dengan posisi tersebut, kami pun bergerak menuju Riau. Sepanjang
perjalanan, kami masih asyik bercerita sendiri *bang supir diacuhkan*. Tanpa
disadari orang belakang berbisik-bisik, “Eh, bang supirnya ngantuk.. Liat,
abang itu ngantuk”. Wew, ngantuk?? Satu mobil resah. Gimana nih?? Akhirnya kak Mei angkat bicara
karena kebetulan kak Mei yang kenal dengan bang Komek, “Mek, ngantuk Mek?
Santai aja bawanya. Kalau ngantuk, kita istirahat dulu”. Lalu bang Komek dengan
gentle tanpa berkata-kata langsung berbelok menuju SPBU. Di sana ia ngacir ke
kamar mandi. Maklumlah, bang supir adalah perokok, jadi kalau gak merokok dia
akan mengantuk. Selagi bang Komek di kamar mandi, kami memarahi Tya *yaah.. Tya
deh jadi tumbal*,
“Kenapa
bang Komek gak diajak bicara Ty... Seharusnya diajak ngomong gitu...”, kata Kak
Mei.
“Iya
Tya ni, diem aja.” “Iya nih..” “Iya”, *membentuk paduan suara*, hampir semua
menyalahkan Tya. Padahal kalau disuruh duduk depan semuanya nolak. Dasar....
“Ya
udah, kalian aja lah duduk di depan”, seru Tya.
*Gak
ada yang mau...*
“Ya
udah, Sera aja sini yang duduk di depan. Tapi kira-kira apa yang mau dibicarain
sama abang itu? Buat listnya dulu lah weee..” *gubrak*
Jiah
ampun dah, baru kali ini saya merasa aneh, lucu. Ngomong kok pakai List
pertanyaan..
Lalu,
kami pun melanjutkan perjalanan. Sera dengan sok bersahabat membuka pertanyaan,
“Bang,
udah sering bawa mobil ya?”
“Udah”
“Paling
jauh kemana aja bang?”
“Tapsel”
Senyaaaaap....
Kak
Mei membuka dialog lagi,
“Mek,
si fulan tinggal di daerah ini ya?”
“Enggak”
“Jadi
udah pindah?”
“Iya”
“Ooo..
jadi kakak itu ikut juga ya Mek?”
“Ikut”
Habis
cerita....
Saya
dan teman-teman berkelut dengan pikiran masing-masing. Bang Komek adalah orang
terhemat yang pernah saya kenal. Hemat banget ngomongnya. Cuma “iya”, “enggak”,
“ikut”, 1 kata aja.. Bagaimana dulu saat abang itu sekolah ya? Kalau ditanya
guru, “Komek, coba sebutkan 10 jenis buah yang kamu ketahui”. Maka bang Komek
akan menjawab dengan mantap, “Rujak!”
Di
indrapura, kami singgah di rumah Sera, sekedar nyicip tempe dan pisang goreng
buatan ibunya yang sangat fenomenal itu. Terkenal seantero Indrapura. Saya
sendiri sudah pernah cicip resep turun temurun ini di rumah kak Tari (kakaknya
Sera).
Setelah
ba-bi-bu, cap-cis-cus, bersama ibunda Sera dan keluarga, kami segera
melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, bang Komek kena kultum oleh orang tua
Sera. “Hati-hati ya nak bawa mobilnya. Kalau ngantuk, berhenti aja.
Santai-santai aja bawanya, gak usah kebut-kebutan.”
“Iya pak, iya buk”, jawab bang
Komek. Nah kali ini bang Komek agak boros dikit dengan kata-kata.
Sebelum
menuju perjalanan panjang, kami singgah di rumah Putri untuk makan malam sekaligus
menjemputnya di kisaran. Perjalanan indrapura-kisaran kami isi dengan bercerita
tentang sifat-sifat seseorang berdasarkan golongan darah dan yang paling seru adalah
menerjemah singkatan-singkatan seperti, apa itu singkatan dari PT, Persero,
PDAM, PELNI, WHO, ILO, IMF, Fa, UFO dll. Hingga kami terbentur dengan
pertanyaan Dian, “Apa itu kepanjangan dari CV?”. Sera dan Ayu nyeletuk,
“Curruculum Vitae lah..”. Bukan, bukan itu yang Dian maksud, CV istilah dunia
usaha itu loh.
“Oke,
jadi PR kita ya”, kata Ayu.
“Lalu
kepanjangan FBI apa woy?”, tanya Tya
*Gak
ada yang tau.. Cuma tau bagian depannya aja “Federal bla..bla..bla..
Tiba-tiba
saya teringat sebuah organisasi besar, “Kalau PBB? Bahasa Indonesianya kan
Persatuan Bangsa-Bangsa, nah kalau secara Internasional disebut apa? Gak
mungkin kan Persatuan Bangsa-Bangsa juga?”
*Semua
berfikir, iya juga ya? Pada ga’ bisa jawab*
“Oke,
PR kita nambah jadi tiga ya”, si Ayu kerajinan ngitungin jumlah PR.
“Kalau
Unesco, Unicef? Singkatan dari apa?”
*Semuanya
diam kembali..
“Yak,
PR kita nambah jadi 5. Udahlah maennya, banyak kali nanti PR kita..”, Ayu masih
ngitungin PR. *sahabat saya yang 1 ini memang langka, “Terus? Gua harus bilang
wow gitu...” (datar gaya ayu)*
Gak
terasa kami sudah sampai di Kisaran. Nyariin putri seperti nyari elektron dalam
atom, pakai teori ketidakpastian.
“Nanti
setelah lewat UNA (Universitas Asahan), ada rumah makan Aneka Rasa. Jaraknya
sekitar 100 meter gitu. Nah, putri di dekat situ kak”, terang putri via telpon.
“Oh
iya dek, oke”, jawab sera dengan mantap.
Kami
melewati sebuah bangunan, seperti kampus. Salah seorang bersorak, “Nah, ini
UNA, dikit lagi kita jumpa putri”.
Mobil
melaju lagi perlahan-lahan, namun putri gak ketemu juga. Mungkin sudah 700
meter.
“Jarak
100 meter yang dimaksud Putri itu seberapa ya?”, saya memang agak lemah bagian
terka menerka jarak. Mata kami terus mencari-cari Aneka Rasa.
Kami
jalan terus, lumayan jauh lalu menemukan sejumlah bangunan bertuliskan
“Universitas Asahan”.
##Jeggerrrr...
Pantes... Jadi tadi bangunan apa? Hahah, itulah akibat pada sotoy semua.
Akhirnya
sampailah kami di rumah Putri, disuguhi makan malam, jelas gak nolak, tak ada
kata-kata “Terima kasih buk, sudah kenyang..”, tak ada! Sekaligus juga kami
melaksanakan sholat maghrib dan Isya. Lagi-lagi sebelum berangkat, bang Komek
kena kultum oleh orang tua Putri. “Hati-hati
ya nak bawa mobilnya. Yang dibawa anak gadis semua soalnya. Kalau ngantuk,
berhenti aja sebentar, nanti dilanjutkan lagi”. Bang Komek pun mendengarkan
petuah tersebut dengan seksama.
Sepanjang
perjalanan, kami bercerita lagi. Di temani lagu-lagu Islami yang ada di
flashdisk Tya. Sera dengan pasrah, rela jadi operator lagu. Kalau ada lagu
Maher Zein yang judulnya “Inshaallah”, maka kami akan serempak berkata,
“SCTV,,,, operator tolong tukar lagu”. Beberapa kali singgah di SPBU dan
sebanyak itu pula kami berfoto-foto ria. Hingga sarung kamera Tya hilang entah
kemana. Wajah Ayu sangat merasa bersalah sekali. *ganti yu, ganti tu,
ganti..hehe*
Pukul
12.00 pagi, beberapa orang sudah mulai lowbat. Kak Mei, Tya, Ayu, Sera, terutama
Putri yang benar-benar menjadi Putri tidur *begitu di dalam mobil langsung
tidur*. Pukul 12.30, tinggal saya dan Dian yang masih melek. Saya sesekali
memperhatikan bang Komek kalau-kalau ia mengantuk begitu juga Dian. Hingga
semua terlelap...
Waktu
hampir menunjukkan pukul 03.00 pagi tiba-tiba bang Komek bersuara, “Kak,
setelah ini nanti belok kemana?”. Diantara kami hanya kak Mei yang pernah ke
rumah Ewi.
“Nanti
belok kiri Mek. Ini udah dimana?”
“Udah di Tanjung Pandan”.
“Tapi
kayaknya dulu gak lewat jalan ini Mek, bentarlah kami telpon dulu ya.”, jawab
kak Mei. Ayu pun menelpon Siska, karena Siska sudah berkali-kali ke rumah Ewi.
Bahkan ia sudah sampai duluan di rumah Ewi.
“Ka,
kami udah di Tanjung Pandan. Terus kami kemana lagi?”
Siska menjawab dari ujung telpon,
“Hmm.. *suara mengantuk* apa yu? Nanti belok kiri kalau ada simpang”
“Tapi
lewat Tanjung Pandan kan Ka?”
“Mmm..gak tau ika yu, coba tanya
sama orang disitu”.
“Oh,
ya udah lah kami tanya.. Tapi tanya sama siapa jam 3 gini Ka?”, jawab Ayu
dengan polos dan datar... *gubrak!
Mobil
terus melaju tanpa tahu arah yang dituju benar atau tidak. Mendapati sebuah
persimpangan, bang Komek pun memberhentikan mobil. Sera dan bang Komek bertanya
pada orang di sekitar. Duo ini sangat kami nantikan kabarnya di dalam mobil.
Sera kembali ke mobil dan angkat bicara, “Kalau kita belok ke kiri, itu arah ke
Dumai. Ke kanan, arah ke Pekanbaru. Jadi kesimpulannya kita nyasar gitu.. Nah,
kalau mau ke Bagan Siapi-Api, beloknya di persimpangan sebelumnya.”
“Aaaarrgghhh,
jadi kita nyasar? Yaaah...”, semua pada menghempaskan badan. Lagu Ebiet G.
Ade di dalam mobil mengalun indah.
“Perjalanan ini terasa sangat......*menyasar* (ganti lirik)”.
Bang
Komek akhirnya putar balik mobil.
“Jauh
kita nyasarnya bang?”, tanya salah seorang dari kami.
“Lumayan”, singkat bukan? Jawaban
bang Komek memang incredible.
Saya
menyeletuk, “Yang dimaksud lumayan sama abang ini seberapa jaraknya ya...?”
*semuanya
diam.
Penunjuk
jalan yang terpampang di pinggir jalan memang sangat membantu. Mengikuti
petunjuk itu, akhirnya kami menemukan jalan menuju Bagan Siapi-Api. Setelah
jalan lumayan jauh, kami mulai ragu kembali. Benar atau tidak ini jalan menuju
ke sana?
Kurang
lebih pukul 04.00 dini hari kami kembali mencoba bertanya pada siapapun yang
melintas di jalan. Sayangnya tidak ada seorang pun. Hingga menemukan seseorang
di pinggir jalan.
“Nah, kita tanya sama orang itu yok”. Mengamati dari agak jauh, kami merasa aneh dengan orang itu. Kalau saya langsung mengarahkan mata pada kakinya. Alhamdulillah kaki tuh orang masih menginjak tanah. Tapi ada yang aneh, tiba-tiba ia tidur di bawah kayu-kayu gitu.
“Nah, kita tanya sama orang itu yok”. Mengamati dari agak jauh, kami merasa aneh dengan orang itu. Kalau saya langsung mengarahkan mata pada kakinya. Alhamdulillah kaki tuh orang masih menginjak tanah. Tapi ada yang aneh, tiba-tiba ia tidur di bawah kayu-kayu gitu.
“Orang
gilaaak..” *Lajukan mobilnya bang, ceepaatt.., seisi mobil ketawa-ketiwi gak
jelas*
Hari
merayap semakin subuh. Kami pun mulai mencari masjid. Ketemu Masjid yang
lumayan besar dan ramai, semua pada bilang, “Itu di sana masjidnya lebih bagus,
ke sana aja bang”. Mobil pun melaju kembali. *Putri udah bangun kan ya?? Mana
putri? Mana? Manaa?*
Sampai
di masjid yang mewah itu, semua kecewa berat. Masjid dikunci. Tidak ada orang
sama sekali. Niatan ingin sholat di masjid yang indah, eeehh...begini jadinya.
Memang, rumput tetangga itu lebih hijau...
Setelah
menyia-nyiakan masjid yang lumayan besar dan ramai itu, akhirnya kami singgah
di Mushollah Al-Ikhlas di kecamatan Rokan Hilir. *Bagaimana rasa airnya
teman-teman? Hmm..Yummy,, serasa di laut mati gitu..*
Sebelum
sampai di rumah ewi, kami sempat sarapan di warung lontong. Baru tau, ternyata
harga lontong di sana seharga sekilo beras. Rasa lontongnya agak unik. Lontong
rasa plastik. Lontong, Toloooong.... *tapi habis juga diembat*.
Sekitar
pukul 8 pagi kami sampai di kediaman Ewi. Selesai Ewi didandan ala putri
keraton, kami berfoto ria, gaya Chibi-chibi, ala d’Massive, *iwak peyek jadi
gak tu?* hihihi, ala kuntilanak bangkit dari kubur? *plaaak, pakai remote tipi*
Setelah
berbahagia, inilah bagian bermellow-durja. Berat sekali rasanya kaki melangkah
pulang. Meninggalkan kediaman ewi, berkali-kali menatap kebelakang dan rasanya
tidak ingin melanjutkan langkah demi langkah. Itulah sebabnya, banyak yang
mengatakan jika hendak meninggalkan seseorang, pergilah tanpa harus menoleh ke
belakang. *nyesek*
Dalam
perjalanan pulang, penghuni mobil bertambah 1 orang, yakni Siska. Ia duduk di
bagian tengah bersama kak Mei, saya dan Ayu. Yah, dasar memang anaknya lasak,
mau di rumah, di motor, di mobil tetep aja lasak. Posisi favoritnya adalah
duduk di bawah sambil kepalanya menyender pada kaki kami. Hingga ia tertidur
dalam posisi tersebut.
Perjalanan
pulang tidak seramai saat pergi meskipun penghuni bertambah satu. Semuanya
diam, berkemelut pada pikiran masing-masing. Menggalaukah? Minum baygon
aja..*lemparin batu*
Dalam
perjalanan pulang ini, kami juga tak lupa berdoa secara berjamaah karena doa
dalam perjalanan adalah satu dari waktu mustajabah (doanya seorang musafir).
Semuanya diminta, minta naik haji, minta mobil, minta S2, minta (.....) *isi
sendiri lah (: *, dll. “Allah segalanya”
Dalam
perjalanan pulang, sekitar pukul dua dini hari, beberapa dari kami *yang lain
masih terlelap tidur* melihat kecelakaan di jalan lintas sekitar Indrapura.
Pengendara motor vs .... (sepertinya truk), karena kondisi pengendara sepeda
motor sangat menggenaskan. Jika terjadi sebuah kecelakan, tingkat penasaran
saya berada pada level tertinggi dan sesaat sesudah melihat kejadian, maka saya
akan berada pada titik terlemah *sok berani* (Yak, benar! Siapa tadi yang
jawab? Siapa?). Melihat dengan mata kepala sendiri, kondisi pengendara dengan
kepala pecah, bermandikan air hujan, spontan mata tidak bisa mengatup lagi.
Berfikir, saya nanti meninggal dalam keadaan seperti apa? Khusnul khotimah atau
Su’ul khotimah? Dalam keadaan puncak iman tertinggi atau futur? *semuanya
berdoa dalam hati*
Horeee...*lompat-lompat*
akhirnya tepat subuh hari, kami sampai di Medan dengan selamat tanpa kekurangan
satu apapun, kecuali hati yang tersemat di ujung Bagan Siapi-Api sana. Hati
yang sengaja tertinggal sebagai bentuk rasa yang tiada mampu terjelaskan.
Bersamamu
Ewi, biarkan kami menggenggam tanganmu, bersama menggapai jannahNya...
No comments:
Post a Comment