Suaramu
dan -nya
Adalah melagu sumbang, memungut
gairah lendir – lendir anyir.
Darah itu merah tuan!
Dalam cerita, haruskah aku membujur
makam sendiri?
Atau memintal nisan disini?
Suaramu
dan -nya
Adalah sebenar putih melumpur,
lumpur menghitam,
menanak lumpur – lumpur moral
setebal sampah.
Lidahku sudah luka menyantap janji.
Bolehkah aku mengucir bibirmu –
bibirnya?
Aku mengira kau sebenar sabda
rerumputan.
Sambungan ombak di pelataran bibirmu
lebih basah,
seperti aroma perih yang ku kunyah
di lintas musim dan cuaca.
Aku butuh tunggangan nafas!
Sebab oase ini membisik luka,
“save
my
soul”
Haruskah dada berdetak
sedang jantung mematung? Haruskah darah mengucur sedang luka membeku? Haruskah
kata terjalin sedang huruf tak berta’aruf?
“save my soul"
Kami butuh prasasti kehidupan.
Izinkan kami,
menata ulang peradaban!

No comments:
Post a Comment