Setiap proses butuh
reses, itulah turbelensi hidup. Bahkan seperti sebuah handphone yang menemani
saya selama ini, ia sedang memasuki zona peristirahatannya (saya harap, bukan
peristirahatan terakhir), sesukanya terkadang hidup terkadang pingsan.
Terkadang juga kita merasa hidup ini tidak sempurna. Disequilibrium, lelah
dengan banyaknya orang menginterupsi pilihan-pilihan yang kita mau. Ada baiknya
kita segera sadar, sesadar itik yang pulang ke kandang jika senja menjelang
atau setinggi semangat mentari yang tepat bersinar pada pagi hari dan tenggelam
menjelang malam. Bayangkan jika matahari merasa muak dengan kehidupan dan malas
menerbitkan diri.. Itu bisa sesuatu bangeet.. *muke luu..
Saya, kamu dan
mereka saling membutuhkan. Simbiosis. Keterangan sebuah simbiosis itu hanya
kita yang mencipta, ingin jadi apa? Bermanfaat? Biasa saja? Merugikan? Pilihan
memang selalu datang dari arah yang berbeda dan fungsi yang berbeda pula.
Seperti sebuah puzzle, kadang dibongkar, kadang dipasang. Sekalipun yang
terbongkar-pasang adalah itu-itu saja, namun sensasi saat berhasil
menyelesaikannya tidak akan mampu terbandingkan.
Hmm, saya mulai
bingung, sebenarnya ingin menulis apa ya? Tidak, ada sesuatu yang memang ingin
saya tulis dan bagikan pada kalian, hanya saya belum menemukan awalan yang
tepat. Jadilah tulisan geje di atas. [!?]
-__-
Sebelumnya, apakah
kita sepakat bahwa hidup ini seperti sebuah puzzle unik beraneka gambar? Oke,
anggap saja kalian sepakat. Nah, ini adalah sebuah cerita dari sebuah
perjalanan hidup saya. Manusia itu hidup di garisnya masing-masing. Seperti
sebuah orbit, kita memiliki orbit tersendiri, tak pernah tahu apa yang akan
menghampiri, menghantam bahkan menjitak ritme-ritme kehidupan kita. Mungkin
yang saya alami pernah kalian alami, mungkin saja, itu wajar.
Sesuatu malam, saya
sedang berselancar di dunia maya (diperbesar, tegak, terbalik, nyata *nyebutin
sifat-sifat bayangan pada cermin*). Bukan, bukan maya itu, saya sedang
menikmati betapa penemuan internet sangat membantu manusia untuk saling
berkoneksi, mengetahui dunia luar hanya dengan sekali klik (inginnya ada alat
yang mampu membantu manusia untuk saling bersentuh, jika adik saya nakal, saya
bisa menjitaknya dengan sekali jitak, Tak..!!).
Nah, kebetulan saat
itu saya sedang mendownload e-book dan beberapa lagu. Untuk menutupi sedikit
kebosanan saya menunggu hasil dowload (menunggu itu pahit, Jendral..!!!), saya
membuka salah satu situs jejaring sosial. Membaca status demi status teman
saya, tiba-tiba mata saya tertuju pada status yang sedikit membuat hati saya
ketar-ketir (*ce’ile.. gubrak!). Bukan, maksud saya, sedikit membuat saya
terkejut. Status yang mengumumkan sebuah kecelakaan yang terjadi pada teman SMA
saya itu, sebut saja namanya Rama (ini bukan Rama yang pernah saya ceritakan
sebelumnya. Hanya memiliki nama yang sama namun wajah yang berbeda. Rama kali
ini sebenar-benar Rama *kaum adam*). Lebih kurang postingan temannya itu
mengabarkan bahwa Rama telah mengalami kecelakaan di jalan menuju Binjai,
sepeda motor yang dikendarainya rusak parah, kulit leher Rama terkoyak.
Ia memohon doa untuk kesembuhan Rama. Kecelakaan itu terjadi sekitar
pukul 3 sore dan saya mengetahuinya sekitar pukul 11 malam. -__- (teringat
sebuah kecelakaan yang terjadi saat perjalanan pulang dari Riau beberapa hari
yang lalu).
Ketika terjadi duka
pada temanmu dan engkau adalah orang terakhir yang mengetahuinya, bahkan tahu
secara tidak sengaja, rasanya seperti berjalan tetapi tidak menjejak atau
seperti makan tetapi tidak kenyang *perumpamaan konyol*. Kurang lebih seperti
itulah posisinya.
Keesokan harinya,
saya pun mengirimkan message pada ayu, mengabarkan kecelakaan yang telah
terjadi pada Rama. Singkat cerita, saya dan Ayu mengikat janji (kok saya merasa
aneh dengan bahasa ini? Ada apa dengan mengikat janji?) untuk menjenguk Rama.
Berhubung saya harus
kembali ke Medan pada hari itu juga, saya mengatakan pada Ayu agar jangan
berlama-lama di rumah Rama.
“Ngapain juga
lama-lama di rumahnya Mar. Mau ngapain?”.
Iya juga ya,
memangnya mau bersihin halaman rumahnya? Benerin keran air? Atau pasang
keramik? Ah, jangan ngayal Mar, turun,,turun,,!
Well, saya selalu
membiasakan diri jika ingin berkunjung maka saya akan memberitahukan pada orang
yang akan dikunjungi bahwa saya akan datang. Setidaknya si punya rumah akan
bersiap-siap *menyambut kedatangan saya, tsah elah..*. Tidak, bukan itu, Allah
sendiri berfirman bahwa kita harus meminta izin untuk memasuki rumah seseorang.
Lupa ayatnya apa (ntar ya, searching uwak Google,,, yap... An-Nur : 27). Rasul
juga bersabda demikian, meminta izin itu merupakan kewajiban, untuk menjaga
pandangan mata.
So, that’s why...
Yah, oke. Sms sudah
saya kirim mengatakan bahwa kami akan datang sekitar 15an menit lagi. Setelah
singgah ke toko buah, saya dan Ayu melaju menuju rumahnya. Sampai di rumah
Rama, kami melihat ayah Rama di halaman depan. Ayu pun segera menyapa dan
memperkenalkan diri bahwa kami adalah teman SMA si Rama.
Saya dimana? Saya
masih ada diatas belalang tempur, begitulah nasib jadi supir.
“Pak, Rama nya ada
di rumah? Kami dengar kemarin dia kecelakaan. Kami teman SMAnya pak”, Ayu
sangat lihai dalam hal sapa-menyapa, atau basa-membasi.
“Oh, Rama ya. Dia gak ada di rumah pula. Dia di sekolah”.
(-.-, ngapain tuh
anak sakit-sakit ke sekolah)
“Ke sekolah ngapain
ya Pak?”, tanyaku.
“Dia ngajar di SMK di Heroes”.
*Jeggeerr...
ngaajar? Appaah?? (mulai gak sadarkan diri)*
“Ngajar pak? Tapi
kecelakaan kan ya?”
“Iya, tapi dia bisa ngajar kok. Cuma lebam-lebam aja.”
“Hmm.. Oh, makasih
ya pak. Kalau gitu kami ke Heroes aja. Mau lihat keadaannya juga. Permisi pak.
Assalamu’alaikum.”
“Oh, iya silakan. Wa’alaikumsalam”
Saya dan Ayu saling
berpandangan kemudian tertawa-tawa. Ada bahasa yang tak terungkapkan.
“Dasarlah temanmu
tuh Yuu”.
“Jadi kemana kita Mar? Ke Heroes?”, tanya Ayu polos.
“Iyalah, memangnya?
Itu buahnya kan sayang”. -_-
Mengapa begini
jadinya? Di satu sisi kami sangat bersyukur bahwa si Rama baik-baik saja. Namun
di sisi lain, kami merasa ada hal yang tak mampu dijelaskan, kesal, lucu, aneh.
Melihat dari postingan yang ada di jejaring sosial itu seakan-akan sesuatu yang
sangat buruk telah menimpa Rama, saya sendiri membayangkan Rama yang tidak
mampu berjalan dan kakinya yang dibalut perban. Yah, 11-12 lah sama Mummi.[?]
*teman biadab*
Sesampainya di
Heroes, kami menelpon Rama dan menyuruhnya keluar sekolah. Dengan mata kepala,
kaki, tangan dan hidung yang masih sehat, saya melihat Rama berjalan
menghampiri kami.
Eerrrgghhh, this is
u are?
Terlihat sebuah
plaster menyinggah di dagunya. Selebihnya yang terlihat oleh kami, tidak ada
apa-apa. Namun ia menjelaskan terdapat beberapa lebam di tubuhnya. Syukurlah!
Kami akhirnya pun berbincang-bincang dan menceritakan betapa terkejutnya kami
melihatnya mampu berjalan, mengajar pula!
Oh ya, 1 lagi pesan
saya, sepertinya teman Rama yang memposting berita kecelakaan itu memiliki
bakat menjadi seorang reporter. ^^d. Wassalam..
No comments:
Post a Comment