Pages

Saturday, September 1, 2012

This Accident is Different.. -__-


Setiap proses butuh reses, itulah turbelensi hidup. Bahkan seperti sebuah handphone yang menemani saya selama ini, ia sedang memasuki zona peristirahatannya (saya harap, bukan peristirahatan terakhir), sesukanya terkadang hidup terkadang pingsan. Terkadang juga kita merasa hidup ini tidak sempurna. Disequilibrium, lelah dengan banyaknya orang menginterupsi pilihan-pilihan yang kita mau. Ada baiknya kita segera sadar, sesadar itik yang pulang ke kandang jika senja menjelang atau setinggi semangat mentari yang tepat bersinar pada pagi hari dan tenggelam menjelang malam. Bayangkan jika matahari merasa muak dengan kehidupan dan malas menerbitkan diri.. Itu bisa sesuatu bangeet.. *muke luu..


Saya, kamu dan mereka saling membutuhkan. Simbiosis. Keterangan sebuah simbiosis itu hanya kita yang mencipta, ingin jadi apa? Bermanfaat? Biasa saja? Merugikan? Pilihan memang selalu datang dari arah yang berbeda dan fungsi yang berbeda pula. Seperti sebuah puzzle, kadang dibongkar, kadang dipasang. Sekalipun yang terbongkar-pasang adalah itu-itu saja, namun sensasi saat berhasil menyelesaikannya tidak akan mampu terbandingkan.

Hmm, saya mulai bingung, sebenarnya ingin menulis apa ya? Tidak, ada sesuatu yang memang ingin saya tulis dan bagikan pada kalian, hanya saya belum menemukan awalan yang tepat. Jadilah tulisan geje di atas. [!?] 
-__-

Sebelumnya, apakah kita sepakat bahwa hidup ini seperti sebuah puzzle unik beraneka gambar? Oke, anggap saja kalian sepakat. Nah, ini adalah sebuah cerita dari sebuah perjalanan hidup saya. Manusia itu hidup di garisnya masing-masing. Seperti sebuah orbit, kita memiliki orbit tersendiri, tak pernah tahu apa yang akan menghampiri, menghantam bahkan menjitak ritme-ritme kehidupan kita. Mungkin yang saya alami pernah kalian alami, mungkin saja, itu wajar.

Sesuatu malam, saya sedang berselancar di dunia maya (diperbesar, tegak, terbalik, nyata *nyebutin sifat-sifat bayangan pada cermin*). Bukan, bukan maya itu, saya sedang menikmati betapa penemuan internet sangat membantu manusia untuk saling berkoneksi, mengetahui dunia luar hanya dengan sekali klik (inginnya ada alat yang mampu membantu manusia untuk saling bersentuh, jika adik saya nakal, saya bisa menjitaknya dengan sekali jitak, Tak..!!).

Nah, kebetulan saat itu saya sedang mendownload e-book dan beberapa lagu. Untuk menutupi sedikit kebosanan saya menunggu hasil dowload (menunggu itu pahit, Jendral..!!!), saya membuka salah satu situs jejaring sosial. Membaca status demi status teman saya, tiba-tiba mata saya tertuju pada status yang sedikit membuat hati saya ketar-ketir (*ce’ile.. gubrak!). Bukan, maksud saya, sedikit membuat saya terkejut. Status yang mengumumkan sebuah kecelakaan yang terjadi pada teman SMA saya itu, sebut saja namanya Rama (ini bukan Rama yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Hanya memiliki nama yang sama namun wajah yang berbeda. Rama kali ini sebenar-benar Rama *kaum adam*). Lebih kurang postingan temannya itu mengabarkan bahwa Rama telah mengalami kecelakaan di jalan menuju Binjai, sepeda motor yang dikendarainya rusak parah, kulit leher Rama terkoyak.  Ia memohon doa untuk kesembuhan Rama. Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 3 sore dan saya mengetahuinya sekitar pukul 11 malam. -__- (teringat sebuah kecelakaan yang terjadi saat perjalanan pulang dari Riau beberapa hari yang lalu).

Ketika terjadi duka pada temanmu dan engkau adalah orang terakhir yang mengetahuinya, bahkan tahu secara tidak sengaja, rasanya seperti berjalan tetapi tidak menjejak atau seperti makan tetapi tidak kenyang *perumpamaan konyol*. Kurang lebih seperti itulah posisinya.
Keesokan harinya, saya pun mengirimkan message pada ayu, mengabarkan kecelakaan yang telah terjadi pada Rama. Singkat cerita, saya dan Ayu mengikat janji (kok saya merasa aneh dengan bahasa ini? Ada apa dengan mengikat janji?) untuk menjenguk Rama.

Berhubung saya harus kembali ke Medan pada hari itu juga, saya mengatakan pada Ayu agar jangan berlama-lama di rumah Rama.
“Ngapain juga lama-lama di rumahnya Mar. Mau ngapain?”.
Iya juga ya, memangnya mau bersihin halaman rumahnya? Benerin keran air? Atau pasang keramik? Ah, jangan ngayal Mar, turun,,turun,,!

Well, saya selalu membiasakan diri jika ingin berkunjung maka saya akan memberitahukan pada orang yang akan dikunjungi bahwa saya akan datang. Setidaknya si punya rumah akan bersiap-siap *menyambut kedatangan saya, tsah elah..*. Tidak, bukan itu, Allah sendiri berfirman bahwa kita harus meminta izin untuk memasuki rumah seseorang. Lupa ayatnya apa (ntar ya, searching uwak Google,,, yap... An-Nur : 27). Rasul juga bersabda demikian, meminta izin itu merupakan kewajiban, untuk menjaga pandangan mata.
So, that’s why...

Yah, oke. Sms sudah saya kirim mengatakan bahwa kami akan datang sekitar 15an menit lagi. Setelah singgah ke toko buah, saya dan Ayu melaju menuju rumahnya. Sampai di rumah Rama, kami melihat ayah Rama di halaman depan. Ayu pun segera menyapa dan memperkenalkan diri bahwa kami adalah teman SMA si Rama.
Saya dimana? Saya masih ada diatas belalang tempur, begitulah nasib jadi supir.
“Pak, Rama nya ada di rumah? Kami dengar kemarin dia kecelakaan. Kami teman SMAnya pak”, Ayu sangat lihai dalam hal sapa-menyapa, atau basa-membasi.
            “Oh, Rama ya. Dia gak ada di rumah pula. Dia di sekolah”.
(-.-, ngapain tuh anak sakit-sakit ke sekolah)
“Ke sekolah ngapain ya Pak?”, tanyaku.
            “Dia ngajar di SMK di Heroes”.
*Jeggeerr... ngaajar? Appaah?? (mulai gak sadarkan diri)*

“Ngajar pak? Tapi kecelakaan kan ya?”
            “Iya, tapi dia bisa ngajar kok. Cuma lebam-lebam aja.”
“Hmm.. Oh, makasih ya pak. Kalau gitu kami ke Heroes aja. Mau lihat keadaannya juga. Permisi pak. Assalamu’alaikum.”
            “Oh, iya silakan. Wa’alaikumsalam”

Saya dan Ayu saling berpandangan kemudian tertawa-tawa. Ada bahasa yang tak terungkapkan.
“Dasarlah temanmu tuh Yuu”.
            “Jadi kemana kita Mar? Ke Heroes?”, tanya Ayu polos.
“Iyalah, memangnya? Itu buahnya kan sayang”. -_-

Mengapa begini jadinya? Di satu sisi kami sangat bersyukur bahwa si Rama baik-baik saja. Namun di sisi lain, kami merasa ada hal yang tak mampu dijelaskan, kesal, lucu, aneh. Melihat dari postingan yang ada di jejaring sosial itu seakan-akan sesuatu yang sangat buruk telah menimpa Rama, saya sendiri membayangkan Rama yang tidak mampu berjalan dan kakinya yang dibalut perban. Yah, 11-12 lah sama Mummi.[?] *teman biadab*

Sesampainya di Heroes, kami menelpon Rama dan menyuruhnya keluar sekolah. Dengan mata kepala, kaki, tangan dan hidung yang masih sehat, saya melihat Rama berjalan menghampiri kami.
Eerrrgghhh, this is u are?
Terlihat sebuah plaster menyinggah di dagunya. Selebihnya yang terlihat oleh kami, tidak ada apa-apa. Namun ia menjelaskan terdapat beberapa lebam di tubuhnya. Syukurlah! Kami akhirnya pun berbincang-bincang dan menceritakan betapa terkejutnya kami melihatnya mampu berjalan, mengajar pula!

Oh ya, 1 lagi pesan saya, sepertinya teman Rama yang memposting berita kecelakaan itu memiliki bakat menjadi seorang reporter. ^^d. Wassalam..

No comments: