Nafas ini adalah
engkau yang selalu menjamak rinduku, terhitung detik, jam, bulan dan tahun.
Tahun dan tahun.
Hingga waktu berarak merekam jejak demi jejak perjalanan kita, hingga jejak mengabu tak kentara.
Mengenangmu adalah sekuntum puisi yang tak berbait,
adalah kata yang tak
terangkai, denyut yang tak mampu kueja hanya dengan mata,
tapi harus kuselam dengan hati.
Dan, selalu... Mengenangmu,
umpama berpesiar di lautan waktu.
Ah, mengenangmu...
tak cukup satu.. dua.. tiga kuntum puisi..
namun sabdanya hati selalu menerka
jarak,
ruang
dan waktu...
No comments:
Post a Comment