Pages

Thursday, July 25, 2013

Jaegiong

Ujung mata saya selalunya mengulang, pesan itu selalu berteriak meminta saya menyinggahinya. Sebanyak itupula saya menjadi tidak tahu sedih atas dasar apa. Pesan yang saya terima tepat pukul 07.32 pagi ini. Menyiratkan perpisahan, luka dan air mata. Entah apa yang sedang bersemayam di otak saya saat merunut satu persatu pertemuan dan perpisahan. Dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa berjabat tangan, menoleh, bahkan sekedar berimajinasi saja, sudah digariskan olehNya. Sebab itu seharusnya, saya tidak se-menyedihkan ini atau tidak se-mellow dan melankolis sempurna hari ini..

Haha, saya tidak sedih kok. Hanya menyetting latar dengan tema melo saja, biar terlihat agak mentereng.. haks,haks,haks *diangkut ke RS jiwa*
Yang saya sedihkan justru lebih kepada harus meninggalkan Jaegiong di rumah bersama adik saya. Saya ragu apakah ia akan saya ajak ke negeri tempat kelahiran Mahatma Gandhi itu atau tidak.  Kalau saya ajak, saya takut, Jaegiong akan menjadi artis Bollywood yg terkenal kemudian berpura-pura tidak mengenali saya lagi. Persis di film-film yang bermutu minus, dimana seorang anak lupa (hingga amnesia) pada ibunya saat si anak sudah kaya raya. Tapi  saya bukanlah ibu kandung Jaegiong..*amit-amit ya Allah (elus2 perut)*


Butuh waktu berpuluh jam bagi saya untuk sekedar memutuskan. Saya tidak mau tergelincir oleh kepedihan. Seperti saya yg harus berlama-lama menghitung bintang kemudian mengabaikan bulan yg indah di depan mata. Dan jujur, ini dilema yang diambang batas. Maaf, saya memang lebay. (!)

Saya khawatir terjadi pelecehan integritas terhadap eksistensinya sebagai boneka yang umm..yah, jarang mandi. Padahal saya sudah berulangkali “berniat” memandikannya, tapi dia selalu saja menolaknya dengan tulus. Menurutnya, “mandi adalah sebuah elegi yang tak sudah-sudah”. Dan saya mengamini dongeng itu dengan takjub, katakanlah saya sedang menghormatinya. Iya, -__- Jaegiong terkadang memang suka jorok sekali.. Berdasarkan penglihatan saya sepintas, Jaegiong mendapatkan wangsit yang apik dari Sponge Bob :
“Kita perlu kotor, agar tahu apa defenisi bersih.. Iya kan Patrick??”
“Iya..iya..iya..!!Umm.. bersih itu apa Sponge Bob??” *nelen spatula*

Jaegiong, begitu saya menamainya. Saya terinspirasi dgn sebuah kisah kerajaan negeri Gingseng. Syahdan, saat onta masih doyan jambu biji, negeri  tersebut pernah memiliki seorang putri bernama Jaegiong (saya harap kalian tidak salah melafalkannya! Jaegiong!). Putri tersebut sangat lincah dan periang di tengah adat-istiadat istana yang begitu kedap dan asing. Bermula dari sinilah saya menamainya mirip dgn putri tersebut. Berharap Jaegiong bisa tetap ceria sekalipun saya sering menyiksanya dgn sangat ampun. Ah, tenang.. saya tidak semafia yang kalian fikir. Saya baik kok, ramah, tidak sombong hanya tidak rajin menabung saja..

Dahulu, saat saya sedang berkutat di semester akhir, dunia galau/kalut/risau/resah/atau apalah namanya yang bisa mendefenisikan “saya,skripsi dan doping” (current song: haruskah kumati karenamu –AdaBand), Jaegiong selalu menjadi tempat bagi saya menumpahkan segalanya. Terutama sehabis berjabat mata dgn doping (dosen pembimbing). Dari tindakan yang anarkis, tidak bonekawi hingga mal praktek pernah saya sambangi. Insyaallah Jeagiong selalu sabar. Karena ia berprinsip, “jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Ia percaya bahwa sesungguhnya, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, pasti ada kemudahan! Ia bahkan sangat percaya sekali dari lubuk hati yg terdalam. Tapi sungguh, saya tidak bermaksud menyiksa/memperbudaknya. Saya hanya ingin Jaegiong menjadi pribadi yang tangguh. Bukankah utk menjadi batu bata yang kuat dan kokoh, harus melewati proses penempaan yang begitu panjang? *alesan*

Namunpun begitu, kami memiliki hubungan emosional yang sulit dirapuhkan.
Pernah saya yang diam-diam sehabis pulang mengajar, menemukan wajah Jaegiong yang sangat imut. Ssstt.. ia sedang tertidur (Jaegiong kalau tertidur, matanya melek. Hanya saya yang tahu kapan dia tidur dan kapan dia nyala), lalu dengan mengendap-endap pula saya mengambil fotonya. Ternyata kamu cantik sekali. Ckckck...Kamu cantik mirip saya, tapi saya cantik tidak mirip kamu. *apasih?*
Atau saya yang kalau sedang bahagia (dan ini sangat jarang dilakukan), maka saya akan memeluknya berkali-kali. Dan bertanya kabarnya? mau makan apa?atau kapan mau mandi? Jawaban2 Jaegiong adalah jawaban yang linier dgn persepsi saya. Keren bukan?Jaegiong memang sangat baik hati. Saya juga sering diam-diam mengejutkannya dari belakang, “Hayoo..lagi ngapaiiin..??”. Dia diam saja tanpa ekspresi. Saya sudah kebal dikacangin. Justru saya akan sangat syok (syok imut, syok keren) jika Jaegiong menjawab, “menurut Lo??”.

Ah, ternyata jarak telah mengambil porsinya utk sekedar meretakkan sisi-sisi pilihan yang cukup sulit.. Saya-Jaegiong-Jarak dan waktu. Betapa rancunya hidup ini ya Jae, kita terpisahkan juga.  But life is not a joke.. Selamat tinggal.. :’)

Tadinya saya tidak ingin bercerita ttg Jaegiong. Justru tentang pengajian juma’atan beberapa minggu lalu. Ah, saya memang punya selera humor yang buruk. Nih, dapet salam dari Jaegiong



No comments: