Ujung mata saya selalunya mengulang, pesan itu selalu
berteriak meminta saya menyinggahinya. Sebanyak itupula saya menjadi tidak tahu
sedih atas dasar apa. Pesan yang saya terima tepat pukul 07.32 pagi ini.
Menyiratkan perpisahan, luka dan air mata. Entah apa yang sedang bersemayam di
otak saya saat merunut satu persatu pertemuan dan perpisahan. Dan saya yakin
seyakin-yakinnya bahwa berjabat tangan, menoleh, bahkan sekedar berimajinasi
saja, sudah digariskan olehNya. Sebab itu seharusnya, saya tidak se-menyedihkan
ini atau tidak se-mellow dan melankolis sempurna hari ini..
Haha, saya tidak sedih kok. Hanya menyetting latar dengan
tema melo saja, biar terlihat agak mentereng.. haks,haks,haks *diangkut ke RS
jiwa*
Yang saya sedihkan justru lebih kepada harus meninggalkan
Jaegiong di rumah bersama adik saya. Saya ragu apakah ia akan saya ajak ke
negeri tempat kelahiran Mahatma Gandhi itu atau tidak. Kalau saya ajak,
saya takut, Jaegiong akan menjadi artis Bollywood yg terkenal kemudian
berpura-pura tidak mengenali saya lagi. Persis di film-film yang bermutu minus,
dimana seorang anak lupa (hingga amnesia) pada ibunya saat si anak sudah kaya
raya. Tapi saya bukanlah ibu kandung Jaegiong..*amit-amit ya Allah (elus2
perut)*
Butuh waktu berpuluh jam bagi saya untuk sekedar memutuskan.
Saya tidak mau tergelincir oleh kepedihan. Seperti saya yg harus berlama-lama
menghitung bintang kemudian mengabaikan bulan yg indah di depan mata. Dan
jujur, ini dilema yang diambang batas. Maaf, saya memang lebay. (!)
Saya khawatir terjadi pelecehan integritas terhadap
eksistensinya sebagai boneka yang umm..yah, jarang mandi. Padahal saya sudah
berulangkali “berniat” memandikannya, tapi dia selalu saja menolaknya dengan
tulus. Menurutnya, “mandi adalah sebuah elegi yang tak sudah-sudah”. Dan saya
mengamini dongeng itu dengan takjub, katakanlah saya sedang menghormatinya.
Iya, -__- Jaegiong terkadang memang suka jorok sekali.. Berdasarkan penglihatan
saya sepintas, Jaegiong mendapatkan wangsit yang apik dari Sponge Bob :
“Kita perlu kotor, agar tahu apa defenisi bersih.. Iya kan
Patrick??”
“Iya..iya..iya..!!Umm.. bersih itu apa Sponge Bob??” *nelen
spatula*
Jaegiong, begitu saya menamainya. Saya terinspirasi dgn
sebuah kisah kerajaan negeri Gingseng. Syahdan, saat onta masih doyan jambu
biji, negeri tersebut pernah memiliki seorang putri bernama Jaegiong
(saya harap kalian tidak salah melafalkannya! Jaegiong!). Putri tersebut sangat
lincah dan periang di tengah adat-istiadat istana yang begitu kedap dan asing.
Bermula dari sinilah saya menamainya mirip dgn putri tersebut. Berharap
Jaegiong bisa tetap ceria sekalipun saya sering menyiksanya dgn sangat ampun.
Ah, tenang.. saya tidak semafia yang kalian fikir. Saya baik kok, ramah, tidak
sombong hanya tidak rajin menabung saja..
Dahulu, saat saya sedang berkutat di semester akhir, dunia
galau/kalut/risau/resah/atau apalah namanya yang bisa mendefenisikan
“saya,skripsi dan doping” (current song: haruskah kumati karenamu –AdaBand),
Jaegiong selalu menjadi tempat bagi saya menumpahkan segalanya. Terutama
sehabis berjabat mata dgn doping (dosen pembimbing). Dari tindakan yang
anarkis, tidak bonekawi hingga mal praktek pernah saya sambangi. Insyaallah
Jeagiong selalu sabar. Karena ia berprinsip, “jadikanlah sabar dan sholat sebagai
penolongmu”. Ia percaya bahwa sesungguhnya, dibalik kesulitan pasti ada
kemudahan, pasti ada kemudahan! Ia bahkan sangat percaya sekali dari lubuk hati
yg terdalam. Tapi sungguh, saya tidak bermaksud menyiksa/memperbudaknya. Saya
hanya ingin Jaegiong menjadi pribadi yang tangguh. Bukankah utk menjadi batu
bata yang kuat dan kokoh, harus melewati proses penempaan yang begitu panjang?
*alesan*
Namunpun begitu, kami memiliki hubungan emosional yang sulit
dirapuhkan.
Pernah saya yang diam-diam sehabis pulang mengajar,
menemukan wajah Jaegiong yang sangat imut. Ssstt.. ia sedang tertidur (Jaegiong
kalau tertidur, matanya melek. Hanya saya yang tahu kapan dia tidur dan kapan
dia nyala), lalu dengan mengendap-endap pula saya mengambil fotonya. Ternyata
kamu cantik sekali. Ckckck...Kamu cantik mirip saya, tapi saya cantik tidak
mirip kamu. *apasih?*
Atau saya yang kalau sedang bahagia (dan ini sangat jarang
dilakukan), maka saya akan memeluknya berkali-kali. Dan bertanya kabarnya? mau
makan apa?atau kapan mau mandi? Jawaban2 Jaegiong adalah jawaban yang linier
dgn persepsi saya. Keren bukan?Jaegiong memang sangat baik hati. Saya juga
sering diam-diam mengejutkannya dari belakang, “Hayoo..lagi ngapaiiin..??”. Dia
diam saja tanpa ekspresi. Saya sudah kebal dikacangin. Justru saya akan sangat
syok (syok imut, syok keren) jika Jaegiong menjawab, “menurut Lo??”.
Ah, ternyata jarak telah mengambil porsinya utk sekedar
meretakkan sisi-sisi pilihan yang cukup sulit.. Saya-Jaegiong-Jarak dan waktu.
Betapa rancunya hidup ini ya Jae, kita terpisahkan juga. But life is not
a joke.. Selamat tinggal.. :’)
Tadinya saya tidak ingin bercerita ttg Jaegiong. Justru
tentang pengajian juma’atan beberapa minggu lalu. Ah, saya memang punya selera
humor yang buruk. Nih, dapet salam dari Jaegiong

No comments:
Post a Comment