Tulisan kali ini
demikian berbobot, saya beberapa kali berdecak kagum membacanya, sekian ratus
kali mengelus jenggot, percayalah! Lebih bermakna daripada tulisan2 sebelumnya
yang umm..engng..yah sedikit acakadut. Walau saya terlihat sedikit alegori,
namun yakinlah tulisan ini mampu membuat otak anda menerawang sejauh mana
langit berbatas atau sedalam mana rindu anda membaca tulisan saya, *halah!!
Oke, cukup!
Jum’at adalah satu
dari 7 hari yang sangat berkah. Bagi seorang mahasiswi, sebut saja namanya Mery
yang selalu -insyaallah selamanya- sangat mendamba sebuah hari Jum’at.
Untuknya, tiada kata yang lebih indah daripada senandung Jum’at, hiruk-pikuk di siang pada hari Jum’at dan suasana melihat orang berbondong-bondong menuju masjid, sayangnya hanya untuk hari Jum’at.
Untuknya, tiada kata yang lebih indah daripada senandung Jum’at, hiruk-pikuk di siang pada hari Jum’at dan suasana melihat orang berbondong-bondong menuju masjid, sayangnya hanya untuk hari Jum’at.
Seperti biasa dalam
kehidupannya yang biasa sebagai mahasiswi, Mery mencoba menghadapi hidupnya
menjadi seorang yang luar biasa (diluar kebiasaan). Setidaknya
me-luar-biasa-kan sendiri apa-apa yang dihadapinya setiap hari, setiap waktu
detik demi detik
(tak..tik..tuk..*bunyi suara detak jantung*..?), menghadapi
diktat, dosen, mengganggu teman sejawatnya, menatap binder, tulisan acak-acakan,
sepatu, menggigit-gigit pulpen, dan setidaknya ia memiliki kecintaan yang luar
biasa terhadap apa yang di selalu dipecahkannya, tabung reaksi!
Tepat pada hari
Jum’at kali ini, entah mengapa ia merasa bahagia sekali. Sesekali ia tersenyum
gembira, bertemu teman sekampus dan tersenyum lagi. Dalam keadaan ini, Mery
acapkali merasa dirinya dilema antara dua hal, tersenyum sebab: gila atau efek
odol Close up (tanpa sensor). Ada apakah gerangan? Ya, karena hari ini adalah
hari terakhir perkuliahan di semester 3 dan hari ini pula pembagian pesangon (?)
bagi seluruh asisten laboratorium. Walaupun tidak banyak, tetapi Mery telah
berjanji dalam hatinya (diikuti kepalan tangan ke atas) bahwa uang itu
akan ia belikan buku seluruhnya –tentu
saja, setelah dipotong sejumlah yang diwajibkan-. (ga’ penting).
Nah, berlanjut masih
di hari jum’at yang sangat tra~la~la. Ia merasa sangat lelah, yang ia sendiri
tiada tahu menahu alasan kelelahan itu. Yang jelas pada hari itu ia harus
menyerahkan semua nilai mahasiswa –dimana ia menjadi asisten- kepada Dosen
pengampu mata kuliah praktikum tersebut. Yang membuatnya lelah adalah bukan
karena menyerahkan nilai tersebut, tetapi ia harus menunggu sang Dosen. Baginya
kegiatan menunggu adalah peringkat kedua kegiatan paling menyebalkan sedunia.
Peringkat pertama adalah menanti. Menunggu sebuah penantian itu pahit
Jendral..!! (kata-kata ini tidak perlu dipahami secara mendalam)
Biasanya, sambil
menunggu ia seringkali menulis (lebih tepatnya mengetik) sebuah puisi, cerita
aneh, resep masakan, ide konyol, situs-situs berharga, alamat email, hingga
curhat geje-nya pada aplikasi ‘note’ di handphone kesayangannya. Maka tidak
mengherankan ia begitu menyayangi handphone yang selalu setia menemaninya,
terutama saat-saat menunggu.
Sambil
mengingat-ingat agendanya hari ini yang juga ia tuliskan di note (menyadari
dirinya terdefinisi sebagai manusia terlupa tingkat akut), tak terasa sebuah
sms dari sang dosen membuyarkan kegiatan -yang menurutnya- sangat produktif
itu. Ia langsung bergegas menemui sang Dosen dan menyerahkan daftar nilai yang
bentuknya sudah hampir tak layak pandang.
Kegiatan Jum’at siang,
ia isi dengan mengikuti keputrian di kampusnya yang kemudian dilanjutkan dengan
syuro dan syuro hingga tak terasa waktu mendekati jingga. Di saat yang sama
pula ia terdaftar menjadi panitia dalam acara perekrutan anggota sebuah
organisasi yang berlambang “tangan menggenggam bumi”. Sebelumnya, ia sudah
mengikat janji (?) pada seorang temannya –sebut saja namanya Dika, yang juga
menjadi panitia- untuk pergi bersama-sama ke tempat diadakannya acara tersebut
karena Dika tidak menahu tempat acara. Kebetulan Mery, sehari sebelumnya
bersama-sama panitia lain menghadiri pembukaan acara tsb.
Singkat cerita
(karena sudah sangat memubazirkan kalimat dari tadi), Mery dan Dika pergi
bersama-sama, tentu saja mengendarai angkot. Angkot oh angkot, engkau memang
sangat berjasa...
Dika adalah salah
satu dari berjuta-juta manusia di alam raya ini yang begitu mempercayai
kejeniusan Mery dalam menghapal jalan dan berharap akan menghantarkannya pada
daerah tujuan. Dewasa sekali...
Kemacetan kota Medan
terkadang -dalam situasi tertentu- sangat sulit ditolerir, dan Mery sangat
menikmati kemacetan (?) -sebuah ironi-. Anggap saja bak melahap sebongkah apel
manis, Mery mengganti ‘rupa’ macet menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan,
tentu saja lebih produktif dari sekedar menunggu. Ia agaknya memang sangat
menikmati senja, memandang pengamen jalanan, memahami pemikiran peminta-minta
(mengapa lebih senang meminta sedang tubuh masih bugar untuk bekerja?), melihat
percikan air, daun-daun mengikuti semilir angin, atau sekedar memandang langit
jingga dengan terheran-heran (mengapa-mengapa-mengapa- terus memenuhi otaknya
jika memandang benda yang satu itu. Sungguh, langit menyimpan beragam misteri).
Hari semakin
temaram, menggelap hingga gedung-gedung tinggi mulai berhiaskan lampu
satu-persatu. Tetapi mereka belum juga sampai di tujuan. Sepertinya kepercayaan
Dika pada Mery mulai luntur ditelan waktu.
“Masih jauh lagi Mer?”, mata Dika
terus merayap jalan, harap-harap cemas.
“Oh, kayaknya sih
enggak. 10 menitan lagi Ka”, Mery mulai menyadari kalau dia tidak pernah sama-sekali
memperhatikan perjalanan jika menuju suatu tempat.
10 menit kemudian...
“Udah mau nyampe?”, Dika bertanya
lagi.
“Sepertinya... Aduh,
habis gelap Ka, jadi agak-agak ga’ tanda tempatnya”, -___-
Karena takut
kelewatan akhirnya dengan sangat bijaksana, Mery angkat bicara, “Pinggir
bang.... Pinggir...”
Terlihat wajah Dika
sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Namun itu berlangsung nyaris beberapa
detik saja, setelah Mery bergumam, “Ini dimana ya? (garuk-garuk kepala)”
(Huaaa...Jeggeeer..Pletak drruuumm %#@**&^%$##%#&!!).
Seketika mereka
seakan kekurangan gravitasi. Akhirnya Mery memutuskan tanpa tahu arahnya,
mengajak Dika berjalan ke depan. Berlagak seperti seorang Nahkoda yang menerka
jalan menggunakan rasi bintang, karena sungguh yang ia lihat di malam yang
sepi, (purnama bersinar, menerangi malam...*ini lagu kan ya?*), se-rasi
alnitak-alnilam-mintaka selalu membuat matanya mengerjap-ngerjap. Berharap
mereka akan menemukan pertanda bebas dari sebuah jalan yang meyesatkan.
Mery jadi teringat
sebuah lagu,
Menapaki langkah-langkah berduri
Menyusuri rawa lembah dan hutan
Berjalan diantara tebing jurang
Semua dilalui dengan perjuangan..
Maka, ia terus saja berjalan... *lebay
Akhirnya, setelah
sekian lama berjalan ditengah malam (diikuti omelan Dika tentunya), mereka
menemukan tempat tujuan. Keadaan seperti itu, ibarat meniup Dandelion di tengah
padang rumput hijau. Lelah yang berakhir dengan indah.
Tapi eiitss, ada
sedikit yang mengganjal di hati Mery dan Dika. Sudah menjadi peraturan –demi
menjaga-, panitia tidak boleh keluar kamar setelah makan malam dan tepat saat
itu, sudah lewat jam makan malam!
Pada posisi Dika di
depan dan Mery di belakang, mereka memilih cara mengendap-endap seperti kucing
mencuri ikan, memasuki lorong pembatas antara dinding gedung dan pagar. Mery
sangat berharap tidak ada seperangkat kamera pengintai seperti yang sering ia
tonton di film-film. Kegiatan mengendap-endap ini cukup menyita pikiran dan
fokus otak. Mery terus saja berjalan..berjalan sambil matanya merayap disekitar
lorong. Ia sangat tidak berharap sekujur zombie membelalak matanya di lorong
gelap itu.
Tanpa ia sadari,
sebuah kabel (entah bermuara kemana) melintang di lantai, kakinya terus melangkah....dan......
Binggoo..!!
Yak, akhirnya kabel
dengan spontan tersangkut di kaki Mery, tepat di depan pintu dan di situ
tepatnya di dalam gedung beberapa panitia,anggota,dan instruktur yang bergenre –ikhwan-
sedang berkongkow-kongkow ria.
Tanpa dosa, Mery
langsung bergegas bangkit dan berjalan. Ia bahkan tidak peduli salah satu
sepatunya tertinggal (?). Memalukan sekali... -___-. Berkali-kali ia
menggeleng-gelengkan kepala, berharap ia amnesia parsial cukup pada kejadian
malam itu, hanya malam itu!
Namun, Mery tetap
tegar. Berjalan sigap walau dengan pandangan penumbra, efek kejadian minus di
depan pintu. Ia percaya bahwa placebo mampu mengubah keadaan trumatisnya jika
berjalan di malam hari... terutama berjalan dengan cara mengendap-endap.
Burung irian burung cendrawasih, tulisan jelek jangan dicaci..
Sekian.
No comments:
Post a Comment