Pages

Saturday, September 29, 2012

Everything has a meaning


Tulisan kali ini demikian berbobot, saya beberapa kali berdecak kagum membacanya, sekian ratus kali mengelus jenggot, percayalah! Lebih bermakna daripada tulisan2 sebelumnya yang umm..engng..yah sedikit acakadut. Walau saya terlihat sedikit alegori, namun yakinlah tulisan ini mampu membuat otak anda menerawang sejauh mana langit berbatas atau sedalam mana rindu anda membaca tulisan saya, *halah!! Oke, cukup!

Jum’at adalah satu dari 7 hari yang sangat berkah. Bagi seorang mahasiswi, sebut saja namanya Mery yang selalu -insyaallah selamanya- sangat mendamba sebuah hari Jum’at.
Untuknya, tiada kata yang lebih indah daripada senandung Jum’at, hiruk-pikuk di siang pada hari Jum’at dan suasana melihat orang berbondong-bondong menuju masjid, sayangnya hanya untuk hari Jum’at.

Seperti biasa dalam kehidupannya yang biasa sebagai mahasiswi, Mery mencoba menghadapi hidupnya menjadi seorang yang luar biasa (diluar kebiasaan). Setidaknya me-luar-biasa-kan sendiri apa-apa yang dihadapinya setiap hari, setiap waktu detik demi detik
(tak..tik..tuk..*bunyi suara detak jantung*..?), menghadapi diktat, dosen, mengganggu teman sejawatnya, menatap binder, tulisan acak-acakan, sepatu, menggigit-gigit pulpen, dan setidaknya ia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap apa yang di selalu dipecahkannya, tabung reaksi!

Tepat pada hari Jum’at kali ini, entah mengapa ia merasa bahagia sekali. Sesekali ia tersenyum gembira, bertemu teman sekampus dan tersenyum lagi. Dalam keadaan ini, Mery acapkali merasa dirinya dilema antara dua hal, tersenyum sebab: gila atau efek odol Close up (tanpa sensor). Ada apakah gerangan? Ya, karena hari ini adalah hari terakhir perkuliahan di semester 3 dan hari ini pula pembagian pesangon (?) bagi seluruh asisten laboratorium. Walaupun tidak banyak, tetapi Mery telah berjanji dalam hatinya (diikuti kepalan tangan ke atas) bahwa uang itu akan  ia belikan buku seluruhnya –tentu saja, setelah dipotong sejumlah yang diwajibkan-. (ga’ penting).

Nah, berlanjut masih di hari jum’at yang sangat tra~la~la. Ia merasa sangat lelah, yang ia sendiri tiada tahu menahu alasan kelelahan itu. Yang jelas pada hari itu ia harus menyerahkan semua nilai mahasiswa –dimana ia menjadi asisten- kepada Dosen pengampu mata kuliah praktikum tersebut. Yang membuatnya lelah adalah bukan karena menyerahkan nilai tersebut, tetapi ia harus menunggu sang Dosen. Baginya kegiatan menunggu adalah peringkat kedua kegiatan paling menyebalkan sedunia. Peringkat pertama adalah menanti. Menunggu sebuah penantian itu pahit Jendral..!! (kata-kata ini tidak perlu dipahami secara mendalam)

Biasanya, sambil menunggu ia seringkali menulis (lebih tepatnya mengetik) sebuah puisi, cerita aneh, resep masakan, ide konyol, situs-situs berharga, alamat email, hingga curhat geje-nya pada aplikasi ‘note’ di handphone kesayangannya. Maka tidak mengherankan ia begitu menyayangi handphone yang selalu setia menemaninya, terutama saat-saat menunggu.

Sambil mengingat-ingat agendanya hari ini yang juga ia tuliskan di note (menyadari dirinya terdefinisi sebagai manusia terlupa tingkat akut), tak terasa sebuah sms dari sang dosen membuyarkan kegiatan -yang menurutnya- sangat produktif itu. Ia langsung bergegas menemui sang Dosen dan menyerahkan daftar nilai yang bentuknya sudah hampir tak layak pandang.

Kegiatan Jum’at siang, ia isi dengan mengikuti keputrian di kampusnya yang kemudian dilanjutkan dengan syuro dan syuro hingga tak terasa waktu mendekati jingga. Di saat yang sama pula ia terdaftar menjadi panitia dalam acara perekrutan anggota sebuah organisasi yang berlambang “tangan menggenggam bumi”. Sebelumnya, ia sudah mengikat janji (?) pada seorang temannya –sebut saja namanya Dika, yang juga menjadi panitia- untuk pergi bersama-sama ke tempat diadakannya acara tersebut karena Dika tidak menahu tempat acara. Kebetulan Mery, sehari sebelumnya bersama-sama panitia lain menghadiri pembukaan acara tsb.

Singkat cerita (karena sudah sangat memubazirkan kalimat dari tadi), Mery dan Dika pergi bersama-sama, tentu saja mengendarai angkot. Angkot oh angkot, engkau memang sangat berjasa...
Dika adalah salah satu dari berjuta-juta manusia di alam raya ini yang begitu mempercayai kejeniusan Mery dalam menghapal jalan dan berharap akan menghantarkannya pada daerah tujuan. Dewasa sekali...

Kemacetan kota Medan terkadang -dalam situasi tertentu- sangat sulit ditolerir, dan Mery sangat menikmati kemacetan (?) -sebuah ironi-. Anggap saja bak melahap sebongkah apel manis, Mery mengganti ‘rupa’ macet menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan, tentu saja lebih produktif dari sekedar menunggu. Ia agaknya memang sangat menikmati senja, memandang pengamen jalanan, memahami pemikiran peminta-minta (mengapa lebih senang meminta sedang tubuh masih bugar untuk bekerja?), melihat percikan air, daun-daun mengikuti semilir angin, atau sekedar memandang langit jingga dengan terheran-heran (mengapa-mengapa-mengapa- terus memenuhi otaknya jika memandang benda yang satu itu. Sungguh, langit menyimpan beragam misteri).

Hari semakin temaram, menggelap hingga gedung-gedung tinggi mulai berhiaskan lampu satu-persatu. Tetapi mereka belum juga sampai di tujuan. Sepertinya kepercayaan Dika pada Mery mulai luntur ditelan waktu.
            “Masih jauh lagi Mer?”, mata Dika terus merayap jalan, harap-harap cemas.
“Oh, kayaknya sih enggak. 10 menitan lagi Ka”, Mery mulai menyadari kalau dia tidak pernah sama-sekali memperhatikan perjalanan jika menuju suatu tempat.
10 menit kemudian...
            “Udah mau nyampe?”, Dika bertanya lagi.
“Sepertinya... Aduh, habis gelap Ka, jadi agak-agak ga’ tanda tempatnya”, -___-
Karena takut kelewatan akhirnya dengan sangat bijaksana, Mery angkat bicara, “Pinggir bang.... Pinggir...”
Terlihat wajah Dika sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Namun itu berlangsung nyaris beberapa detik saja, setelah Mery bergumam, “Ini dimana ya? (garuk-garuk kepala)” (Huaaa...Jeggeeer..Pletak drruuumm %#@**&^%$##%#&!!).
Seketika mereka seakan kekurangan gravitasi. Akhirnya Mery memutuskan tanpa tahu arahnya, mengajak Dika berjalan ke depan. Berlagak seperti seorang Nahkoda yang menerka jalan menggunakan rasi bintang, karena sungguh yang ia lihat di malam yang sepi, (purnama bersinar, menerangi malam...*ini lagu kan ya?*), se-rasi alnitak-alnilam-mintaka selalu membuat matanya mengerjap-ngerjap. Berharap mereka akan menemukan pertanda bebas dari sebuah jalan yang meyesatkan.
Mery jadi teringat sebuah lagu,
            Menapaki langkah-langkah berduri
            Menyusuri rawa lembah dan hutan
            Berjalan diantara tebing jurang
            Semua dilalui dengan perjuangan..
 Maka, ia terus saja berjalan... *lebay

Akhirnya, setelah sekian lama berjalan ditengah malam (diikuti omelan Dika tentunya), mereka menemukan tempat tujuan. Keadaan seperti itu, ibarat meniup Dandelion di tengah padang rumput hijau. Lelah yang berakhir dengan indah.
Tapi eiitss, ada sedikit yang mengganjal di hati Mery dan Dika. Sudah menjadi peraturan –demi menjaga-, panitia tidak boleh keluar kamar setelah makan malam dan tepat saat itu, sudah lewat jam makan malam!

Pada posisi Dika di depan dan Mery di belakang, mereka memilih cara mengendap-endap seperti kucing mencuri ikan, memasuki lorong pembatas antara dinding gedung dan pagar. Mery sangat berharap tidak ada seperangkat kamera pengintai seperti yang sering ia tonton di film-film. Kegiatan mengendap-endap ini cukup menyita pikiran dan fokus otak. Mery terus saja berjalan..berjalan sambil matanya merayap disekitar lorong. Ia sangat tidak berharap sekujur zombie membelalak matanya di lorong gelap itu.
Tanpa ia sadari, sebuah kabel (entah bermuara kemana) melintang di lantai, kakinya terus melangkah....dan...... Binggoo..!!
Yak, akhirnya kabel dengan spontan tersangkut di kaki Mery, tepat di depan pintu dan di situ tepatnya di dalam gedung beberapa panitia,anggota,dan instruktur yang bergenre –ikhwan- sedang berkongkow-kongkow ria.
Tanpa dosa, Mery langsung bergegas bangkit dan berjalan. Ia bahkan tidak peduli salah satu sepatunya tertinggal (?). Memalukan sekali... -___-. Berkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepala, berharap ia amnesia parsial cukup pada kejadian malam itu, hanya malam itu!

Namun, Mery tetap tegar. Berjalan sigap walau dengan pandangan penumbra, efek kejadian minus di depan pintu. Ia percaya bahwa placebo mampu mengubah keadaan trumatisnya jika berjalan di malam hari... terutama berjalan dengan cara mengendap-endap.

Burung irian burung cendrawasih, tulisan jelek jangan dicaci..

Sekian.

No comments: