Pages

Friday, September 28, 2012

SD itu Suka-suka Datengnya


"Kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kata-kata bebas dari penjajahan makna."
-Sutardji Calzoum Bachri-

Kata bung Roma, “masa muda masa yang berapi-api”. Lantas saya berfikir, masa kecil masa yang...? ah, sebut saja masa yang sesuka hati.
Coba ingat-ingat, sejauh mana kita mampu mengingat masa kecil kita? Di umur 3 tahunkah? 4 tahun? 5 tahun? Atau sejak kelas 4 SD?(yang ini parah bangeet..)
Secara pasti saya tidak ingat kapan saya mulai mengingat kehidupan yang membingungkan ini. Saya bingung mengapa saya terbingung-bingungkan terhadap masa kecil yang saya alami namun memori otak saya cukup sempit mengingat-ingat itu, terutama pada tahap-tahap kebingungan anak kecil jika diberi sesuatu yang berwarna-warni. Dan apakah anda juga bingung membacanya. Oke, kita sudahi di sini saja, biarkan bingung berlalu..

Yang jelas, saya sepertinya mulai mengingat setidaknya beberapa kejadian sejak saya berumur 3 atau 4 tahunan. Saya yang masih disuapin kalau makan, yang merusak boneka, yang merengek-rengek minta boneka panda, yang bergaya di depan kaca, yang nyanyi dengan suara serampangan, yang belum bisa ngelap ingus sendiri dan banyak ‘yang-yang’ lainnya.

Dulu waktu kelas 1 SD, saya jarang banget masuk sekolah. Kalau masuk sekolah paling banyak seminggu cuma 3 atau 4 kali. Selebihnya saya kemana? Sederhana, saya nonton TV atau main-main keliaran di sekitar rumah. Sebenarnya saya dulu bukan anak yang malas belajar. Tidak, tidak sama sekali. Justru saya berfikir toh sama saja, saya juga kalau malam belajar. Apa bedanya sekolah dengan tidak sekolah. Belajar malam dan belajar pagi hari (di sekolah) adalah sesuatu yang ekuivalen, hahah *alibi*. Pemikiran pragmatis ini sudah bersemayam di otak anak SD semacam saya. Yang membuat saya tidak betah bersekolah adalah karena harus berhadapan dengan guru Olahraga dan guru Agama (tsaaahh, apabanget? Bejat! Benci pada guru agama. Wajib dikutuk itu bocah tengil). Saya cukup punya pengalaman pahit dengan mereka berdua. Secara, pas pertama kali guru Agama masuk kelas, tiba-tiba datengin saya, langsung jewer kuping saya. Saya salah apa coba? Huks..huks.. :(. Ternyata karena saya memakai topi di dalam kelas. Hanya itu saja? tapi kenapa main jewer2 telinga saya yang keren ini? Seharusnya si ibu perlu melakukan semacam verifikasi dulu. Mengapa saya memakai topi dari jam pertama hingga terakhir. Sebab hari itu adalah hari senin, usai upacara, kegiatan melepas topi dan melihat rambut teman-temanmu yang berkeringat, lepek, kucel dan aneh  adalah sesuatu yang sangat tidak keren. Dan saya tidak ingin terdaftar sebagai entitas yang saya sebut tidak keren itu. Namun saya hanya seonggok bocah SD,  belum memahami artifisial berbahasa untuk sekedar menegur sang guru. Saya hanya diam sejuta bahasa. Dialektika antara logika dan hati agaknya tidak toleran pada wajah yang bersungut-sungut ria.

Pada guru olahraga lain lagi ceritanya. Jadi kebetulan entah kenapa sampul buku tulis saya tercatat dengan nama : SYAHRIAL. Nama abang saya (iseng banget sih tuh org). Jadinya ketika buku tulis dibagikan (setelah sebelumnya dikumpulkan untuk diperiksa PRnya), si ibu menjerit-jerit memanggil, “Syahrial...mana yang namanya Syahrial. Syahrial??”. Merasa bukan saya yang dipanggil, saya anteng2 aja. Hingga akhirnya sadar kalau saya masih punya abang yang bernama Syahrial, saya pun ke depan dan mengambil buku. Si ibu marah-marah, “blaa..blaa...xwvsdarecafaabsav4#$2, nulis nama itu yang bener! Blaa.. %@^!%%@%@mdbhdh”. -__-, saya suka aritmia kalau dengar orang bentak-bentak saya.

Sejak kejadian itulah saya malas ke sekolah, sebagai bentuk manifestasi saya terhadap pelucutan harga diri saya yang masih suci dan bening kala itu. Namun, mendapati saya yang tidak mau sekolah adalah sesuatu yang bisa dimaklumi sabagai hasil didikan orang tua yang tidak pernah memarahi apalagi memukul gadis kecilnya *alesan*. Kalaupun harus ke sekolah, ibu saya harus tetap berada di depan pintu nemenin saya dari awal masuk hingga pulang (xixixiii, gak disangka..kucrut banget saya waktu itu). Tidak tanggung-tanggung, itu berlangsung selama nyaris 3 Cawu alias 1 tahun. Maka selama 1 tahun kurang 2 bulan, saya masuk sekolah seenak udel saja. Kalau pas ada guru agama atau guru olahraga masuk maka saya ngaciir pulang ke rumah [?]. Di rumah, ibu bertanya, “Loh, kenapa pulang?”. Menjawab dengan sesuka hati, “Males sekolah...”, dan ibu, anehnya tidak pernah memarahi saya yang tidak mau sekolah. Malah diajaknya berbelanja di warung, diajak shopping baju, makan bakso dan hal-hal produktif lainnya [?].
                                                                                                                       
Namun jangan salah sangka dulu, walaupun saya jarang masuk sekolah, saya lebih bisa lancar membaca daripada teman saya –tidak perlu mengeja- *songong, plaak!!*,  lebih cepat berhitungnya dan tentu saja lebih malas piket menyapu kelas (selama 1 tahun cuma sekali nyapu kelas, itupun setelah disuruh sama si guru). Sebelum masuk SD juga saya sudah bisa membaca dan berhitung. Ibu selalu jadi guru terbaik saat malam menjelang. Jadi menurut saya waktu itu, belajar sesuatu yang sudah saya pahami adalah hal yang membosankan (dasar bocah degil, tengil, cocoknya dipites!!). Bayangkan, bu guru (namanya bu Nurhayati) selaku wali kelas saya waktu itu secara khusus memanggil ibu saya ke sekolah dan berkata, “Anak ibu sebenarnya bisa, tapi ya gitu bu. kenapa jarang masuk sekolah? Juga jarang mau nyapu di kelas. [?]”. Nahloh, tugas saya kan belajar, bukan jadi tukang sapu kelas. *minta digampar bolak-balik*.

Tapi yang membuat saya tobat kala itu adalah, saat saya mendapatkan nilai 4 untuk 10 soal MM yang diberikan bu guru (soal-soalnya sederhana, seperti: 15+....=25 atau 40=.... – 23). Pulang sekolah nangis terisak-isak. Ibu saya yang sangat anggun dan keren terbingung-bingung dengan apa yang telah menimpa anak gadis semata wayangnya. Setelah menunjukkan nilai 4 tersebut, ibu saya tertawa (masih tetap dengan keanggunannya) dan berkata, “Kenapa kok bisa ponten 4?”.
“Iiii...nnniii beee...eeelum pernah diaa..a...ajarkan saaa.aaama bu guuu..ruu..uuu (ini belum pernah diajarkan sama bu guru)”, sambil terisak-isak. Sumpah, ga keren banget bicara sambil nangis!
“Mungkin udah pernah diajarkan, tapi adek gak datang sekolah. Makanya kalau sekolah yang rajin, biar ga’ dapat nilai 4.”.
Whahaahaa, ibuku memang hebat.. Mom, you rock!! Dan sejak saat itu, saya rajin banget ke sekolah. Bahkan hari minggu berasa ingin sekolah.. :D (hiperbol). Alhasil, saya bisa rangking 1 waktu kenaikan kelas.. hahaha...Ups  *terimakasih ya Allah, sujud syukur*

Memang benar, seseorang (saya) terkadang perlu dijitak dulu supaya sadar. Namun saya lebih senang menyebutnya sebagai umm..‘riset partisipatif pribadi’, lingkungan dan kejadian mengajarkan banyak hal. So, ga’ salah ada sebuah quotes “pengalaman adalah guru yang terbaik (experience is the best teacher)”.
“Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi” _Dee, Perahu Kertas.
Dan satu lagi yang terpenting, apapun yang terjadi, segala masalah yang Allah timpakan pada kita adalah sebuah bentuk kasihNya agar kita tidak tersesat lebih jauh. Itu...*gaya Mario Teguh*

No comments: