"Kata bukanlah
alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata
adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kata-kata bebas dari penjajahan
makna."
-Sutardji Calzoum
Bachri-
Kata bung Roma,
“masa muda masa yang berapi-api”. Lantas saya berfikir, masa kecil masa
yang...? ah, sebut saja masa yang sesuka hati.
Coba ingat-ingat,
sejauh mana kita mampu mengingat masa kecil kita? Di umur 3 tahunkah? 4 tahun?
5 tahun? Atau sejak kelas 4 SD?(yang ini parah bangeet..)
Secara pasti saya
tidak ingat kapan saya mulai mengingat kehidupan yang membingungkan ini. Saya
bingung mengapa saya terbingung-bingungkan terhadap masa kecil yang saya alami
namun memori otak saya cukup sempit mengingat-ingat itu, terutama pada
tahap-tahap kebingungan anak kecil jika diberi sesuatu yang berwarna-warni. Dan
apakah anda juga bingung membacanya. Oke, kita sudahi di sini saja, biarkan
bingung berlalu..
Yang jelas, saya
sepertinya mulai mengingat setidaknya beberapa kejadian sejak saya berumur 3
atau 4 tahunan. Saya yang masih disuapin kalau makan, yang merusak boneka, yang
merengek-rengek minta boneka panda, yang bergaya di depan kaca, yang nyanyi
dengan suara serampangan, yang belum bisa ngelap ingus sendiri dan banyak
‘yang-yang’ lainnya.
Dulu waktu kelas 1
SD, saya jarang banget masuk sekolah. Kalau masuk sekolah paling banyak
seminggu cuma 3 atau 4 kali. Selebihnya saya kemana? Sederhana, saya nonton TV
atau main-main keliaran di sekitar rumah. Sebenarnya saya dulu bukan anak yang
malas belajar. Tidak, tidak sama sekali. Justru saya berfikir toh sama saja,
saya juga kalau malam belajar. Apa bedanya sekolah dengan tidak sekolah.
Belajar malam dan belajar pagi hari (di sekolah) adalah sesuatu yang ekuivalen,
hahah *alibi*. Pemikiran pragmatis ini sudah bersemayam di otak anak SD semacam
saya. Yang membuat saya tidak betah bersekolah adalah karena harus berhadapan
dengan guru Olahraga dan guru Agama (tsaaahh, apabanget? Bejat! Benci pada guru
agama. Wajib dikutuk itu bocah tengil). Saya cukup punya pengalaman pahit
dengan mereka berdua. Secara, pas pertama kali guru Agama masuk kelas,
tiba-tiba datengin saya, langsung jewer kuping saya. Saya salah apa coba?
Huks..huks.. :(. Ternyata karena saya memakai topi di dalam kelas. Hanya itu saja?
tapi kenapa main jewer2 telinga saya yang keren ini? Seharusnya si ibu perlu
melakukan semacam verifikasi dulu. Mengapa saya memakai topi dari jam pertama
hingga terakhir. Sebab hari itu adalah hari senin, usai upacara, kegiatan
melepas topi dan melihat rambut teman-temanmu yang berkeringat, lepek, kucel
dan aneh adalah sesuatu yang sangat
tidak keren. Dan saya tidak ingin terdaftar sebagai entitas yang saya sebut
tidak keren itu. Namun saya hanya seonggok bocah SD, belum memahami artifisial berbahasa untuk
sekedar menegur sang guru. Saya hanya diam sejuta bahasa. Dialektika antara
logika dan hati agaknya tidak toleran pada wajah yang bersungut-sungut ria.
Pada guru olahraga
lain lagi ceritanya. Jadi kebetulan entah kenapa sampul buku tulis saya tercatat
dengan nama : SYAHRIAL. Nama abang saya (iseng banget sih tuh org). Jadinya
ketika buku tulis dibagikan (setelah sebelumnya dikumpulkan untuk diperiksa
PRnya), si ibu menjerit-jerit memanggil, “Syahrial...mana yang namanya
Syahrial. Syahrial??”. Merasa bukan saya yang dipanggil, saya anteng2 aja.
Hingga akhirnya sadar kalau saya masih punya abang yang bernama Syahrial, saya
pun ke depan dan mengambil buku. Si ibu marah-marah,
“blaa..blaa...xwvsdarecafaabsav4#$2, nulis nama itu yang bener! Blaa.. %@^!%%@%@mdbhdh”.
-__-, saya suka aritmia kalau dengar orang bentak-bentak saya.
Sejak kejadian
itulah saya malas ke sekolah, sebagai bentuk manifestasi saya terhadap
pelucutan harga diri saya yang masih suci dan bening kala itu. Namun, mendapati
saya yang tidak mau sekolah adalah sesuatu yang bisa dimaklumi sabagai hasil
didikan orang tua yang tidak pernah memarahi apalagi memukul gadis kecilnya
*alesan*. Kalaupun harus ke sekolah, ibu saya harus tetap berada di depan pintu
nemenin saya dari awal masuk hingga pulang (xixixiii, gak disangka..kucrut
banget saya waktu itu). Tidak tanggung-tanggung, itu berlangsung selama nyaris
3 Cawu alias 1 tahun. Maka selama 1 tahun kurang 2 bulan, saya masuk sekolah
seenak udel saja. Kalau pas ada guru agama atau guru olahraga masuk maka saya
ngaciir pulang ke rumah [?]. Di rumah, ibu bertanya, “Loh, kenapa pulang?”.
Menjawab dengan sesuka hati, “Males sekolah...”, dan ibu, anehnya tidak pernah
memarahi saya yang tidak mau sekolah. Malah diajaknya berbelanja di warung,
diajak shopping baju, makan bakso dan
hal-hal produktif lainnya [?].
Namun jangan salah
sangka dulu, walaupun saya jarang masuk sekolah, saya lebih bisa lancar membaca
daripada teman saya –tidak perlu mengeja- *songong, plaak!!*, lebih cepat berhitungnya dan tentu saja lebih
malas piket menyapu kelas (selama 1 tahun cuma sekali nyapu kelas, itupun
setelah disuruh sama si guru). Sebelum masuk SD juga saya sudah bisa membaca
dan berhitung. Ibu selalu jadi guru terbaik saat malam menjelang. Jadi menurut
saya waktu itu, belajar sesuatu yang sudah saya pahami adalah hal yang
membosankan (dasar bocah degil, tengil, cocoknya dipites!!). Bayangkan, bu guru
(namanya bu Nurhayati) selaku wali kelas saya waktu itu secara khusus memanggil
ibu saya ke sekolah dan berkata, “Anak ibu sebenarnya bisa, tapi ya gitu bu.
kenapa jarang masuk sekolah? Juga jarang mau nyapu di kelas. [?]”. Nahloh,
tugas saya kan belajar, bukan jadi tukang sapu kelas. *minta digampar
bolak-balik*.
Tapi yang membuat
saya tobat kala itu adalah, saat saya mendapatkan nilai 4 untuk 10 soal MM yang
diberikan bu guru (soal-soalnya sederhana, seperti: 15+....=25 atau 40=.... –
23). Pulang sekolah nangis terisak-isak. Ibu saya yang sangat anggun dan keren
terbingung-bingung dengan apa yang telah menimpa anak gadis semata wayangnya.
Setelah menunjukkan nilai 4 tersebut, ibu saya tertawa (masih tetap dengan keanggunannya)
dan berkata, “Kenapa kok bisa ponten 4?”.
“Iiii...nnniii
beee...eeelum pernah diaa..a...ajarkan saaa.aaama bu guuu..ruu..uuu (ini belum
pernah diajarkan sama bu guru)”, sambil terisak-isak. Sumpah, ga keren banget
bicara sambil nangis!
“Mungkin udah
pernah diajarkan, tapi adek gak datang sekolah. Makanya kalau sekolah yang
rajin, biar ga’ dapat nilai 4.”.
Whahaahaa, ibuku
memang hebat.. Mom, you rock!! Dan sejak saat itu, saya rajin banget ke
sekolah. Bahkan hari minggu berasa ingin sekolah.. :D (hiperbol). Alhasil, saya
bisa rangking 1 waktu kenaikan kelas.. hahaha...Ups *terimakasih ya Allah, sujud syukur*
Memang benar,
seseorang (saya) terkadang perlu dijitak dulu supaya sadar. Namun saya lebih
senang menyebutnya sebagai umm..‘riset partisipatif pribadi’, lingkungan dan
kejadian mengajarkan banyak hal. So, ga’ salah ada sebuah quotes “pengalaman
adalah guru yang terbaik (experience is the best teacher)”.
“Berputar menjadi
sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi” _Dee, Perahu Kertas.
Dan satu lagi yang
terpenting, apapun yang terjadi, segala masalah yang Allah timpakan pada kita
adalah sebuah bentuk kasihNya agar kita tidak tersesat lebih jauh. Itu...*gaya
Mario Teguh*
No comments:
Post a Comment