Pages

Friday, August 16, 2013

Gunung Sinabung, Hap..Hap.. :))

Dan sebutlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari (QS 3:41)

Assalamu’alaikum wr wb..

            Hei, kau tahu teman? Saya baru saja menyadari bahwa “Dunia adalah panggung sandiwara”. Walau sedikit terlambat paham dari pada (pencipta lagunya), namun saya beruntung bahwa saya adalah orang terpilih yang menyadari hal itu. hitam-putih, kiri-kanan, pahit-manis, menang-kalah, baik-buruk, untung-rugi, ada sebuah pengaturan yang Maha dahsyat di sana. Dan kita, sudah ditakdirkan menjadi seorang pemilih sejak saat awal menatap dunia, bahkan sekalipun jaauuh sebelum itu. Ah, pantas bayi menangis saat dilahirkan! Well, ngomong apa ini? oke, fokus, fokus, fokus!

Beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 14 Februari 2013 (saya ingat sebab pada tanggal ini saya lebih banyak beristighfar melihat pemuda-pemudi yg tertipu karena cinta *halah*), saya bersama dengan 9 orang teman lainnya mencoba menikmati gunung Sinabung (saya teringat kata seorang teman bahwa gunung tidak bisa ditaklukkan, tetapi hanya bisa dinikmati). Saya yang sedari dulu sangat berkeinginan melihat Sunrise di atas bukit seolah memiliki kesempatan to make my dream comes true. Kami bersepuluh-ria berkomposisikan 8 orang perempuan anggun garis keras,?,
(thiarma, yola, mariyam yang keren, icut, juni, rasmi, kak liza, kak zahra)  dan 1 orang pria lembut di bawah garis kemiskinan bawah bernama Bang Agung. Kami mencoba mencari peruntungan untuk melihat Sunrise di puncak Sinabung.

Perjalanan dimulai dari Medan pukul 6 sore, selanjutnya dengan mengendarai bus, sekitar 2 jam perjalanan, maka pukul delapan malam kami tiba di kota Brastagi. Walau sudah beberapa kali menjejak kota ini, tetap saja saya selalu terpana dengan suguhan pemandangan kota Medan di atas bukit pada malam hari. Kota ini dingin menggigit lebih saat diguyur hujan. Jantung saya juga selalunya berdegup tak teratur saat bus-bus kota mencoba menyisir tikungan-tikungan patah Brastagi (sama halnya seperti saya melihat abg tukang pecel, jantung saya berdetak kencang sambil berlari dan berteriak “pecceeelll..!!* kangen (abg) pecel..eh?*). Bagi saya, menutup mata adalah pilihan terbaik daripada mencoba melirik tikungan atau mengintip jurang di samping jalan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Lau Kawar (ya, Lau Kawar adalah sejenis nama hewan. *digebukin sekampung*, ralat: kalelawar adalah nama hewan), Lau Kawar adalah nama sebuah danau yg kemudian dijadikan nama sebuah tempat. Dari Lau Kawar inilah nanti kami mulai mendaki. Perjalanan dari Brastagi menuju Lau Kawar menyita waktu sekitar 1 jam. Maka, kami tiba disana sekitar pukul 9 malam. Saya sebagai penderita maag akut tingkat dewa-maha, makan malam pukul 9 sungguh menyiksa. Apalagi harus disandingkan dengan semangkuk mie instan. Lambung saya meronta-ronta minta dikompres.
Kami memutuskan untuk mulai mendaki tepat pada pukul 12 malam. Mengapa kami memilih pukul 12 malam, biar lebih mencekam bro.. *sok asik*. Agar kami bisa sampai dibukit tepat pada saat sunrise. Perjalanan kami ditemani dgn 4  org guide, teman saya menyebutnya Rangers (saya menyebutnya power rangers). Abg2 rangers lah yang menuntun jalan kami. Saya sendiri hanya membawa sedikit bekal saja, hanya sebotol air minum, 2 cup mie instan, sebatang coklat dan se-sachet madu. Barang-barang yang berat kami titipkan pada abg rangers. Cerdas bukan?

Ini adalah pendakian pertama saya dan mungkin yang terakhir. Saya bukan kapok atau jera, tapi memang saya sudah cukup dgn satu ini saja (saya adalah tipe org yg setia, haha), kalaupun mau yg kedua kali, saya lebih memilih mendaki dgn mengendarai mobil/motor saja. ?         
Mendaki ternyata tidak semudah yg saya bayangkan seperti terlihat di film-film. Jah, saya sudah ngos-ngosan di tanjakan pertama. Saya berfikir untuk putar balik pulang, tapi itu tidak mungkin. saya tidak mau dicap sebagai pengecut.
Maka saya lanjutkan dgn pendakian selanjutnya sambil tetap berdzikir dlm hati. Baru kali ini saya berjalan di hutan gelap gulita penuh semak belukar, pepohonan besar dgn akar-akar melingkar yang besarnya se-tangan atau bahkan segede kaki saya. Saya hanya mampu memandang sejauh senter yg saya pegang mampu bersinar, maka beberapa kali terpeleset, terjatuh di tanah becek adalah hal yang lumrah. Perjalanan terus kami lanjutkan dgn beberapa kali istirahat utk sekedar menyimpan nafas, melepas dahaga maupun melempar cecanda antar-muka agar tak kaku dirasa perjalanan yang menyulut panas tubuh hingga beberapa celcius. Dan tibalah kami di daerah yg disebut “Sipandan”. Nah, daerah ini banyak ditumbuhi tanaman pandan hutan yang besarnya sebesar badan George Bush. Ujung-ujung daun tanaman ini berduri sehingga menguapkan niat saya utk merusak, meyobek atau memotong tumbuhan ini *wwooo, dasar perusak!*. saya hanya menyinggahkan badan saya untuk sesaat menduduki akar-akarnya yang bergulat dgn tanah. Disini kami menyeduh mie instan dan menyalakan api unggun. Sayang, saya hanya mendapatkan bagian memakan mie dan menikmati hangatnya api ditengah udara dingin menggigit. :D

Kaki kami berlalu meninggalkan Sipandan (dan Ligitan,hehe) menuju “Tanjakan Patah Hati”. Ah, saya kalau ingat tanjakan ini, menggedor-gedor iman saya bahwa saya memang makhluk yg sedikit sekali mengingat kematian. Di tanjakan inilah saya menyadari bahwa hidup dan mati hanya segaris tipis. Saya bertanya pada abg rangers, “Bang, pernah ga ada yg jatuh dari tanjakan ini terus mati?”, untungnya abg Rangers menjawab dgn penuh motivasi, “Belum ada dek. Ayo lanjutkan mendaki, semangat, semangat..!”. (“belum ada” berarti probabilitas “ada” itu nyata). Tapi saya tetap memicu semangat. Saya katakan bahwa tanjakan ini kurang lebih memiliki sudut kemiringan sekitar 80 derajat dikelilingi dgn batu cadas keras yg terbilang cukup besar. Maka anda yg memiliki bobot badan tidak ideal, sangat tidak dianjurkan mendaki gunung Sinabung, kwkwk..*jitak*. Mendaki malam hari memang sedikit menguntungkan, setidaknya saya tidak bisa melihat sejauh apa panjang tanjakan patah hati dan semiring serta seterjal apa tanjakan yg baru saya lalui. Saya menyadarinya setelah turun dari gunung pada pagi harinya. -_-

Singkat cerita (saya males nulis @_@) kami tiba dipuncak. Walau saya tertinggal Sunrise karena saya istirahat terlalu lama di bawah, tapi saya cukup antusias dgn pemandangan puncak. Seolah segala letih saya menguap entah kemana. Hilang tanpa jejak. Saya langsung berucap syukur dan tasbih berulang kali. Allah memang Maha Indah yg menciptakan saya eh, bumi seindah ini. Saya juga berteriak sekencang-kencangnya. Saya meneriakkan seseorang. Ah, kalian tidak perlu tau siapa seseorang itu, *tersipu malu minta ditabok*.
3 jam berada diatas gunung sambil menghisap dalam-dalam aroma puncak dan embun pucuk daun, menelan mentah-mentah dinginnya pagi, diujung sisi puncak, saya dan teman saya Icut merebahkan badan dan menatap awan yg berarak. Sambil menerka-nerka bentuk awan yg silih berganti, kami bercerita apasaja. Beberapa kali memejamkan mata lalu menghisap dan menghembuskan nafas secara perlahan, konon katanya memejamkan mata adalah salah satu cara menikmati sesuatu yg indah, yang kemudian disalah-artikan oleh saya dgn gaya tertidur pulas tanpa dosa. Ya, bagi saya memejamkan mata adalah indikasi permulaan tidur, saya memang rapuh utk masalah yg satu ini. -_-

Namun, tenang, ini tidak se-romantis yg kalian bayangkan. Biasa saja. Sebab kaki saya nyaris beku kedinginan. Saya sangat berterimakasih tidak ada yg lancang mengambil foto saya saat tertidur. =D


3 jam sudah cukup bagi kami menikmati Sinabung. Kemudian kami turun sekitar pukul 9 lewat dan tiba di kaki gunung pukul 1 siang. Ini adalah perjalanan yg ‘incredible’ menurut saya. Walau keesokan harinya saya harus mengajar, mengikuti tes TOEFL dan kaki saya harus menderita kekeraman selama seminggu, but it’s really an amazing journey. See u in different story ^^v. Salam pelestarian alam (gaya anak Mapala) *sambil petik bunga edelweis.

No comments: