Dan sebutlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari (QS 3:41)
Assalamu’alaikum wr wb..
Hei,
kau tahu teman? Saya baru saja menyadari bahwa “Dunia adalah panggung
sandiwara”. Walau sedikit terlambat paham dari pada (pencipta lagunya), namun
saya beruntung bahwa saya adalah orang terpilih yang menyadari hal itu.
hitam-putih, kiri-kanan, pahit-manis, menang-kalah, baik-buruk, untung-rugi,
ada sebuah pengaturan yang Maha dahsyat di sana. Dan kita, sudah ditakdirkan
menjadi seorang pemilih sejak saat awal menatap dunia, bahkan sekalipun jaauuh
sebelum itu. Ah, pantas bayi menangis saat dilahirkan! Well, ngomong apa ini? oke,
fokus, fokus, fokus!
Beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 14
Februari 2013 (saya ingat sebab pada tanggal ini saya lebih banyak beristighfar
melihat pemuda-pemudi yg tertipu karena cinta *halah*), saya bersama dengan 9
orang teman lainnya mencoba menikmati gunung Sinabung (saya teringat kata
seorang teman bahwa gunung tidak bisa ditaklukkan, tetapi hanya bisa
dinikmati). Saya yang sedari dulu sangat berkeinginan melihat Sunrise di atas
bukit seolah memiliki kesempatan to make my dream comes true. Kami
bersepuluh-ria berkomposisikan 8 orang perempuan anggun garis keras,?,
(thiarma, yola, mariyam yang keren, icut, juni, rasmi, kak liza, kak zahra) dan 1 orang pria lembutdi
bawah garis kemiskinan bawah bernama Bang Agung. Kami
mencoba mencari peruntungan untuk melihat Sunrise di puncak Sinabung.
(thiarma, yola, mariyam yang keren, icut, juni, rasmi, kak liza, kak zahra) dan 1 orang pria lembut
Perjalanan dimulai dari Medan pukul 6
sore, selanjutnya dengan mengendarai bus, sekitar 2 jam perjalanan, maka pukul
delapan malam kami tiba di kota Brastagi. Walau sudah beberapa kali menjejak
kota ini, tetap saja saya selalu terpana dengan suguhan pemandangan kota Medan
di atas bukit pada malam hari. Kota ini dingin menggigit lebih saat diguyur
hujan. Jantung saya juga selalunya berdegup tak teratur saat bus-bus kota
mencoba menyisir tikungan-tikungan patah Brastagi (sama halnya seperti saya
melihat abg tukang pecel, jantung saya berdetak kencang sambil berlari dan
berteriak “pecceeelll..!!* kangen (abg) pecel..eh?*). Bagi saya, menutup
mata adalah pilihan terbaik daripada mencoba melirik tikungan atau mengintip
jurang di samping jalan.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Lau Kawar
(ya, Lau Kawar adalah sejenis nama hewan. *digebukin sekampung*, ralat:
kalelawar adalah nama hewan), Lau Kawar adalah nama sebuah danau yg kemudian
dijadikan nama sebuah tempat. Dari Lau Kawar inilah nanti kami mulai mendaki.
Perjalanan dari Brastagi menuju Lau Kawar menyita waktu sekitar 1 jam. Maka,
kami tiba disana sekitar pukul 9 malam. Saya sebagai penderita maag akut
tingkat dewa-maha, makan malam pukul 9 sungguh menyiksa. Apalagi harus
disandingkan dengan semangkuk mie instan. Lambung saya meronta-ronta minta
dikompres.
Kami memutuskan untuk mulai mendaki
tepat pada pukul 12 malam. Mengapa kami memilih pukul 12 malam, biar lebih
mencekam bro.. *sok asik*. Agar kami bisa sampai dibukit tepat pada saat
sunrise. Perjalanan kami ditemani dgn 4
org guide, teman saya menyebutnya Rangers (saya menyebutnya power rangers).
Abg2 rangers lah yang menuntun jalan kami. Saya sendiri hanya membawa sedikit
bekal saja, hanya sebotol air minum, 2 cup mie instan, sebatang coklat dan se-sachet
madu. Barang-barang yang berat kami titipkan pada abg rangers. Cerdas bukan?
Ini adalah pendakian pertama saya dan
mungkin yang terakhir. Saya bukan kapok atau jera, tapi memang saya sudah cukup
dgn satu ini saja (saya adalah tipe org yg setia, haha), kalaupun mau yg kedua
kali, saya lebih memilih mendaki dgn mengendarai mobil/motor saja. ?
Mendaki ternyata tidak semudah yg saya
bayangkan seperti terlihat di film-film. Jah, saya sudah ngos-ngosan di
tanjakan pertama. Saya berfikir untuk putar balik pulang, tapi itu tidak
mungkin. saya tidak mau dicap sebagai pengecut.
Maka saya lanjutkan dgn pendakian
selanjutnya sambil tetap berdzikir dlm hati. Baru kali ini saya berjalan di
hutan gelap gulita penuh semak belukar, pepohonan besar dgn akar-akar melingkar
yang besarnya se-tangan atau bahkan segede kaki saya. Saya hanya mampu
memandang sejauh senter yg saya pegang mampu bersinar, maka beberapa kali terpeleset,
terjatuh di tanah becek adalah hal yang lumrah. Perjalanan terus kami lanjutkan
dgn beberapa kali istirahat utk sekedar menyimpan nafas, melepas dahaga maupun
melempar cecanda antar-muka agar tak kaku dirasa perjalanan yang menyulut panas
tubuh hingga beberapa celcius. Dan tibalah kami di daerah yg disebut
“Sipandan”. Nah, daerah ini banyak ditumbuhi tanaman pandan hutan yang besarnya
sebesar badan George Bush. Ujung-ujung daun tanaman ini berduri sehingga
menguapkan niat saya utk merusak, meyobek atau memotong tumbuhan ini *wwooo,
dasar perusak!*. saya hanya menyinggahkan badan saya untuk sesaat menduduki
akar-akarnya yang bergulat dgn tanah. Disini kami menyeduh mie instan dan
menyalakan api unggun. Sayang, saya hanya mendapatkan bagian memakan mie dan
menikmati hangatnya api ditengah udara dingin menggigit. :D
Kaki kami berlalu meninggalkan Sipandan
(dan Ligitan,hehe) menuju “Tanjakan Patah Hati”. Ah, saya kalau ingat tanjakan
ini, menggedor-gedor iman saya bahwa saya memang makhluk yg sedikit sekali
mengingat kematian. Di tanjakan inilah saya menyadari bahwa hidup dan mati
hanya segaris tipis. Saya bertanya pada abg rangers, “Bang, pernah ga ada yg
jatuh dari tanjakan ini terus mati?”, untungnya abg Rangers menjawab dgn penuh
motivasi, “Belum ada dek. Ayo lanjutkan mendaki, semangat, semangat..!”. (“belum
ada” berarti probabilitas “ada” itu nyata). Tapi saya tetap memicu semangat.
Saya katakan bahwa tanjakan ini kurang lebih memiliki sudut kemiringan sekitar
80 derajat dikelilingi dgn batu cadas keras yg terbilang cukup besar. Maka anda
yg memiliki bobot badan tidak ideal, sangat tidak dianjurkan mendaki gunung
Sinabung, kwkwk..*jitak*. Mendaki malam hari memang sedikit menguntungkan,
setidaknya saya tidak bisa melihat sejauh apa panjang tanjakan patah hati dan
semiring serta seterjal apa tanjakan yg baru saya lalui. Saya menyadarinya
setelah turun dari gunung pada pagi harinya. -_-
Singkat cerita (saya males nulis @_@)
kami tiba dipuncak. Walau saya tertinggal Sunrise karena saya istirahat terlalu
lama di bawah, tapi saya cukup antusias dgn pemandangan puncak. Seolah segala
letih saya menguap entah kemana. Hilang tanpa jejak. Saya langsung berucap
syukur dan tasbih berulang kali. Allah memang Maha Indah yg menciptakan saya
eh, bumi seindah ini. Saya juga berteriak sekencang-kencangnya. Saya
meneriakkan seseorang. Ah, kalian tidak perlu tau siapa seseorang itu, *tersipu
malu minta ditabok*.
3 jam berada diatas gunung sambil
menghisap dalam-dalam aroma puncak dan embun pucuk daun, menelan mentah-mentah
dinginnya pagi, diujung sisi puncak, saya dan teman saya Icut merebahkan badan
dan menatap awan yg berarak. Sambil menerka-nerka bentuk awan yg silih
berganti, kami bercerita apasaja. Beberapa kali memejamkan mata lalu menghisap
dan menghembuskan nafas secara perlahan, konon katanya memejamkan mata adalah
salah satu cara menikmati sesuatu yg indah, yang kemudian disalah-artikan oleh
saya dgn gaya tertidur pulas tanpa dosa. Ya, bagi saya memejamkan mata adalah
indikasi permulaan tidur, saya memang rapuh utk masalah yg satu ini. -_-
Namun, tenang, ini tidak se-romantis yg
kalian bayangkan. Biasa saja. Sebab kaki saya nyaris beku kedinginan. Saya
sangat berterimakasih tidak ada yg lancang mengambil foto saya saat tertidur.
=D
3 jam sudah cukup bagi kami menikmati
Sinabung. Kemudian kami turun sekitar pukul 9 lewat dan tiba di kaki gunung
pukul 1 siang. Ini adalah perjalanan yg ‘incredible’ menurut saya. Walau
keesokan harinya saya harus mengajar, mengikuti tes TOEFL dan kaki saya harus
menderita kekeraman selama seminggu, but it’s really an amazing journey. See u
in different story ^^v. Salam pelestarian alam (gaya anak Mapala) *sambil petik
bunga edelweis.
No comments:
Post a Comment