Tuesday,
13 august 2013
“Hari ini aku titip salam ya ke profesornya.
Kalau beliau nanyain aku, bilang aku ga nanyain dia”, ujarku dengan sedikit
bercanda pada Okta, teman satu flat sekaligus teman satu kelasku. Dia hanya
menimpali dengan tertawa renyah di pagi yg sedikit basah oleh rinaian hujan
halus. Ia pun berlalu sesambil aku menarik selimut dalam-dalam dan dalam diam
pula aku menitikkan air mata. Bukan sebab begitu parahnya sakitku, atau tidak
bertemu profesor hari ini (kalau yg satu ini aku justru bahagia tidak masuk
kelas), bersebab mengapa situasi ini begitu menyakitkan. Aku mulai
berandai-andai jikalau saat ini aku
berada di rumah,
pasti ibuku akan menanyakan, “Masih panas badannya? Mau makan
apa? Mana yang sakit? Jangan lupa di minum obatnya! Itulah akibat minum es,
besok minum lagi itu esnya! Sana tidur dulu biar enakan badannya, dan lain
sebagainya”. Aku memang begitu muluk, tidak dewasa dan terlalu kekanak-kanakan.
Padahal aku hanya terserang demam dan flu biasa, mungkin karena kelelahan dan
faktor radang amandelku yang sehari sebelumnya aku lumuri ia dengan es krim.
3 hari yang lalu
berturut-turut aku menapakkan kaki entah kemana. Hari sabtu lalu aku pergi ke
Hyderabad International Airport, yang jaraknya cukup jauh dari tempatku bernaung
di negeri ini, lelah sudah pasti. Sekedar mengecek keberadaan bagasi yang
letaknya antah berantah. Aku kesal bukan pada kehilangan bagasi atau bagaimana,
justru lebih pada pihak maskapai TIG** AIRWAYS yang sangat tidak bertanggung
jawab pada barang-barang penumpangnya. Aku bukanlah orang yang pertama
mengalami hal ini, bahkan sebelumku mungkin beratus-ratus jiwa telah mengumpat
sadis dibuat maskapai ini. Sudahlah membicarakan tentang ini, dadaku semakin
sesak saja. Berulangkali temanku mengatakan, “Ikhlaskanlah!”. Aku tidak bisa
ikhlas atas kelalaian orang lain yang menyebabkan kerugian atasku. Jikalau
sebab aku yang memang melakukan kesalahan, maka aku akan ikhlas terhadap apa yg
terjadi pada diriku. Dan melalui ini aku beritahu kalian sesuatu, “Sebisa
mungkin, jangan naik maskapai ini. Jika memang terpaksa, jgn gunakan bagasi!”.
Kemudian di hari
minggu esok harinya aku kembali menginjakkan kaki di daerah Secunderabad,
tepatnya di Chennai Shopping Mall, R.S Brother, dan tempat-tempat lain yang
menjual dress material. Sebagai jaga-jaga jikalau bagasiku dinyatakan hilang
maka terpaksa aku menjahit kain di sini. Ah, aku benci sekali!! Aku juga sempat
menyambangi Big Bazar, semacam supermarket yang menawarkan harga miring,
menjual apa saja. Aku membutuhkan buku dan beberapa alat tulis. Tidak lupa pula
aku melirik beberapa pakaian sejenis kurta (baju kurung) yang mirip di
indonesia. Tapi memang negeri ini adalah negeri dengan berbagai warna, maka
jenis-jenis baju yang dijual juga begitu mencolok warnanya. Aku hanya membolak-balik
beberapa pakaian dan meletakkannya kembali. Seleraku sama-sekali belum tertuai
pada jenis pakaian itu walaupun temanku berulangkali memastikan bahwa pakaian
itu bagus, tidak mencolok, cantik, dsb. Aku hanya tersenyum sebisanya. Entahlah
aku masih mengharapkanmu duhai koper hitamku. Jika sudah begini, rasanya aku
ingin mengkalibrasi ulang penalaranku. Dan satu-satunya cara adalah dengan
memukul kepala sekeras mungkin. Maka, probabilitasnya hanya 2: amnesia kronis atau mati konyol!
Dan hari ini, aku
harus terbaring tak berdaya di kasur yang empuknya tidak seberapa ini atas
bayaran tubuhku yg meronta-ronta meminta istirahat sejenak. Hari ini aku juga
harus mengurus akun bank di SBI (State Bank of India). Dengan badan yang
sedikit nyeri dan langkah yang tertatih satu-satu, aku mencoba untuk keluar
dari flat dan menghindarkan diri dari ajakan kasur yang begitu menggoda.
Setelah sebelumnya aku telah menenggak sebutir parasetamol dan amoxicillin. Padahal
aku bukanlah penggemar berat segala obat. Dan tentunya setelah itu, aku
tertidur pulas selama 2,5 jam. Setidaknya tubuhku masih bisa diandalkan untuk
kegiatan hari ini. Aku berharap urusan hari
ini tidak berbelit-belit seperti yang sudah-sudah. Entahlah, di negeri ini
sepertinya memang urusan administrasi tidak bisa langsung selesai dalam 1 hari.
Dan jika mereka berkata besok, maka besok belum tentu adalah besok. Besok bisa
bermakna 2, 3, 5 hari atau bahkan seminggu kemudian atau barangkali bisa jadi
sebulan kemudian. Maka sesaat sebelum melangkahkan kaki keluar dari flat ini,
aku berdoa agar urusan yang satu ini selesai dengan segera. Aku letih!
Dalam siang yang
dingin didekap diam yang senyap, handphoneku berdering memecah kesunyian.
Seseorang menelpon. Ini nomor asing pikirku. Asing bagiku tentunya, mungkin
yang menelpon ini adalah teman yang kartu simnya sedang bersemayam di HP ku,
atau mungkinkah ini temanku? Maklumlah, aku masih meminjam kartu SIM, belum
memiliki sendiri, aku masih malas untuk membelinya. Akhirnya aku putuskan untuk
mengangkat telepon itu. Dari seberang sana seorang wanita menyapa, “Hello??”
Kelihatan sekali aksen India-Inggris yang
sedang berbicara diujung telepon sana. “Hello”, jawabku.
Selanjutnya wanita ini memanggil namaku dan
menanyakan padaku mengapa aku tidak datang kemarin ke ICCR untuk mengambil uang
saku. Oh mean, aku ucapkan saja kalau aku sedang sakit jadi tidak bisa datang
kemarin. Padahal sebenarnya adalah karena aku belum memiliki akun bank lalu aku
menyatakan pula pada wanita itu kalau akun bankku belum selesai. Si wanita di
ujung telepon (aku lupa siapa namanya) langsung menyambut bahwa itu tidak
dibutuhkan untuk pengambilan uang saku. Ia menambahkan pula bahwa aku bisa
menyerahkan fotocopy akun bank belakangan. Yang jelas, ia tegaskan bahwa aku
harus menyambangi kantor ICCR hari ini. Baiklah, dengan langkah gontai aku
memutar haluan. Jam sudah menunjukkan pukul 02.10 sore. Sementara si wanita di
ujung telepon tadi menyatakan aku harus berada di ICCR pada pukul 03.00. Aku
buka buku panduan jadwal kereta api, tertera jam keberangkatan selanjutnya
adalah pukul 2.30 sebab kereta menuju Hyderabad baru saja berlalu 5 menit yang
lalu. Hatiku masih berandai-andai, andaisaja kereta 5 menit yang lalu datang
terlambat... maka aku putuskan untuk bertanya pada petugas tiket kereta. Ah,
rezeki memang sedang tidak berpihak padaku, kereta sudah terkayuh persis
beberapa menit sebelum aku menginjak di stasiun ini. Yang artinya juga, aku
harus mendebat supir oto (bajaj) untuk tawar-menawar harga. Padahal hari ini
aku sedang tidak bernafsu sekali beradu harga dengan mereka. Dan aku baru
sadar, aku juga belum makan siang! How idiot!
Namun, dari bianglala menyangga awan, kudapati
langit mulai cerah walau sedikit dingin menusuk.
Lalu aku berjalan, pergi dan meninggalkan. Dan
aku, bukanlah tipe manusia yang akan menoleh kembali saat sudah beranjak pergi.
Maaf paragraf terakhir ini memang sedikit tidak nyambung . -_-
Seritme
hujan rerumputan,
senyawa
petrichor tak lagi semerbak baunya, hanya melengkapkan bau-bau anyir
aku
benci hujan hari ini,esok dan seterusnya.
No comments:
Post a Comment