Pages

Friday, August 16, 2013

Story from India : Hujan,Flu,Kereta

Tuesday, 13 august 2013

“Hari ini aku titip salam ya ke profesornya. Kalau beliau nanyain aku, bilang aku ga nanyain dia”, ujarku dengan sedikit bercanda pada Okta, teman satu flat sekaligus teman satu kelasku. Dia hanya menimpali dengan tertawa renyah di pagi yg sedikit basah oleh rinaian hujan halus. Ia pun berlalu sesambil aku menarik selimut dalam-dalam dan dalam diam pula aku menitikkan air mata. Bukan sebab begitu parahnya sakitku, atau tidak bertemu profesor hari ini (kalau yg satu ini aku justru bahagia tidak masuk kelas), bersebab mengapa situasi ini begitu menyakitkan. Aku mulai berandai-andai  jikalau saat ini aku berada di rumah,
pasti ibuku akan menanyakan, “Masih panas badannya? Mau makan apa? Mana yang sakit? Jangan lupa di minum obatnya! Itulah akibat minum es, besok minum lagi itu esnya! Sana tidur dulu biar enakan badannya, dan lain sebagainya”. Aku memang begitu muluk, tidak dewasa dan terlalu kekanak-kanakan. Padahal aku hanya terserang demam dan flu biasa, mungkin karena kelelahan dan faktor radang amandelku yang sehari sebelumnya aku lumuri ia dengan es krim.

3 hari yang lalu berturut-turut aku menapakkan kaki entah kemana. Hari sabtu lalu aku pergi ke Hyderabad International Airport, yang jaraknya cukup jauh dari tempatku bernaung di negeri ini, lelah sudah pasti. Sekedar mengecek keberadaan bagasi yang letaknya antah berantah. Aku kesal bukan pada kehilangan bagasi atau bagaimana, justru lebih pada pihak maskapai TIG** AIRWAYS yang sangat tidak bertanggung jawab pada barang-barang penumpangnya. Aku bukanlah orang yang pertama mengalami hal ini, bahkan sebelumku mungkin beratus-ratus jiwa telah mengumpat sadis dibuat maskapai ini. Sudahlah membicarakan tentang ini, dadaku semakin sesak saja. Berulangkali temanku mengatakan, “Ikhlaskanlah!”. Aku tidak bisa ikhlas atas kelalaian orang lain yang menyebabkan kerugian atasku. Jikalau sebab aku yang memang melakukan kesalahan, maka aku akan ikhlas terhadap apa yg terjadi pada diriku. Dan melalui ini aku beritahu kalian sesuatu, “Sebisa mungkin, jangan naik maskapai ini. Jika memang terpaksa, jgn gunakan bagasi!”.

Kemudian di hari minggu esok harinya aku kembali menginjakkan kaki di daerah Secunderabad, tepatnya di Chennai Shopping Mall, R.S Brother, dan tempat-tempat lain yang menjual dress material. Sebagai jaga-jaga jikalau bagasiku dinyatakan hilang maka terpaksa aku menjahit kain di sini. Ah, aku benci sekali!! Aku juga sempat menyambangi Big Bazar, semacam supermarket yang menawarkan harga miring, menjual apa saja. Aku membutuhkan buku dan beberapa alat tulis. Tidak lupa pula aku melirik beberapa pakaian sejenis kurta (baju kurung) yang mirip di indonesia. Tapi memang negeri ini adalah negeri dengan berbagai warna, maka jenis-jenis baju yang dijual juga begitu mencolok warnanya. Aku hanya membolak-balik beberapa pakaian dan meletakkannya kembali. Seleraku sama-sekali belum tertuai pada jenis pakaian itu walaupun temanku berulangkali memastikan bahwa pakaian itu bagus, tidak mencolok, cantik, dsb. Aku hanya tersenyum sebisanya. Entahlah aku masih mengharapkanmu duhai koper hitamku. Jika sudah begini, rasanya aku ingin mengkalibrasi ulang penalaranku. Dan satu-satunya cara adalah dengan memukul kepala sekeras mungkin. Maka, probabilitasnya hanya 2:  amnesia kronis atau mati konyol!

Dan hari ini, aku harus terbaring tak berdaya di kasur yang empuknya tidak seberapa ini atas bayaran tubuhku yg meronta-ronta meminta istirahat sejenak. Hari ini aku juga harus mengurus akun bank di SBI (State Bank of India). Dengan badan yang sedikit nyeri dan langkah yang tertatih satu-satu, aku mencoba untuk keluar dari flat dan menghindarkan diri dari ajakan kasur yang begitu menggoda. Setelah sebelumnya aku telah menenggak sebutir parasetamol dan amoxicillin. Padahal aku bukanlah penggemar berat segala obat. Dan tentunya setelah itu, aku tertidur pulas selama 2,5 jam. Setidaknya tubuhku masih bisa diandalkan untuk kegiatan hari ini.  Aku berharap urusan hari ini tidak berbelit-belit seperti yang sudah-sudah. Entahlah, di negeri ini sepertinya memang urusan administrasi tidak bisa langsung selesai dalam 1 hari. Dan jika mereka berkata besok, maka besok belum tentu adalah besok. Besok bisa bermakna 2, 3, 5 hari atau bahkan seminggu kemudian atau barangkali bisa jadi sebulan kemudian. Maka sesaat sebelum melangkahkan kaki keluar dari flat ini, aku berdoa agar urusan yang satu ini selesai dengan segera. Aku letih!

Dalam siang yang dingin didekap diam yang senyap, handphoneku berdering memecah kesunyian. Seseorang menelpon. Ini nomor asing pikirku. Asing bagiku tentunya, mungkin yang menelpon ini adalah teman yang kartu simnya sedang bersemayam di HP ku, atau mungkinkah ini temanku? Maklumlah, aku masih meminjam kartu SIM, belum memiliki sendiri, aku masih malas untuk membelinya. Akhirnya aku putuskan untuk mengangkat telepon itu. Dari seberang sana seorang wanita menyapa, “Hello??”
Kelihatan sekali aksen India-Inggris yang sedang berbicara diujung telepon sana. “Hello”, jawabku.
Selanjutnya wanita ini memanggil namaku dan menanyakan padaku mengapa aku tidak datang kemarin ke ICCR untuk mengambil uang saku. Oh mean, aku ucapkan saja kalau aku sedang sakit jadi tidak bisa datang kemarin. Padahal sebenarnya adalah karena aku belum memiliki akun bank lalu aku menyatakan pula pada wanita itu kalau akun bankku belum selesai. Si wanita di ujung telepon (aku lupa siapa namanya) langsung menyambut bahwa itu tidak dibutuhkan untuk pengambilan uang saku. Ia menambahkan pula bahwa aku bisa menyerahkan fotocopy akun bank belakangan. Yang jelas, ia tegaskan bahwa aku harus menyambangi kantor ICCR hari ini. Baiklah, dengan langkah gontai aku memutar haluan. Jam sudah menunjukkan pukul 02.10 sore. Sementara si wanita di ujung telepon tadi menyatakan aku harus berada di ICCR pada pukul 03.00. Aku buka buku panduan jadwal kereta api, tertera jam keberangkatan selanjutnya adalah pukul 2.30 sebab kereta menuju Hyderabad baru saja berlalu 5 menit yang lalu. Hatiku masih berandai-andai, andaisaja kereta 5 menit yang lalu datang terlambat... maka aku putuskan untuk bertanya pada petugas tiket kereta. Ah, rezeki memang sedang tidak berpihak padaku, kereta sudah terkayuh persis beberapa menit sebelum aku menginjak di stasiun ini. Yang artinya juga, aku harus mendebat supir oto (bajaj) untuk tawar-menawar harga. Padahal hari ini aku sedang tidak bernafsu sekali beradu harga dengan mereka. Dan aku baru sadar, aku juga belum makan siang! How idiot!

Namun, dari bianglala menyangga awan, kudapati langit mulai cerah walau sedikit dingin menusuk.
Lalu aku berjalan, pergi dan meninggalkan. Dan aku, bukanlah tipe manusia yang akan menoleh kembali saat sudah beranjak pergi. Maaf paragraf terakhir ini memang  sedikit tidak nyambung . -_-

Seritme hujan rerumputan,
senyawa petrichor tak lagi semerbak baunya, hanya melengkapkan bau-bau anyir
aku benci hujan hari ini,esok dan seterusnya.


No comments: