Hi, how r u? Fine?
Sick? Owh, u ask me how am I? Yeah, I’m busy of examination, exactly correct a
lot of pieces of examination paper -__-. Is there anybody who can help me??
(ngarep * “ngarep” bahasa inggrisnya apa? Hehe*).
Okay,
ngomong-ngomong tentang examination, beberapa diantara kita mungkin menganggap
ujian adalah momok yang menakutkan. Dan itulah yang terjadi pada murid-murid
saya. Seolah-olah ujian adalah malaikat pencabut nyawa setelah Izrail [?]. Seakan,
ruh peradaban yang sarat
dengan misi-misi ketuhanan seolah-olah telah mati. Dan dunia tanpa pusat
membentang luas, tak berbatas. Levitasi-levitasi kertas, penghapus dan
suara-suara sumbang berkeliaran di ruang ujian. Mereka digelayuti pemikiran
yang dikotomis, mengapa sangat berfikir sektoral dan sempit? Ujian itu mudah,
tapi jangan hadapi dengan senyuman. Sekali lagi jangan!!
Saya sendiri
menyukai ujian, tapi lebih menyukai lagi tidak ada ujian (hehe..). Terkadang
sih saya suka membayangkan seandainya ada seorang doppelganger yang bisa
menggantikan saya mengikuti ujian (terutama ujian kimia organik) maka saya akan
sangat berterimakasih sekali.. -_- (ngayal). Menghadapi ujian itu ga melulu
mengandalkan kemampuan otak. Harus punya strategi. Stra-Te-Gi!!
Seperti
strategi licik para koruptor jika sudah ketahuan korupsi, atau strategi cerdas
kancil menghindari terkaman buaya, atau strategi perang Rasulullah di perang
Badar, nah tinggal pilih saja ingin strategi yang bagaimana.
Well langsung saja,
here they are the tips...
#Tips 1
Belajarlah.
Saya memberikan
kebebasan pada siapapun untuk mendefenisikan kata di atas. Sebuah universalitas
makna. Coz everyone learns at different way and at different speed.. Yang
jelas, sebelum ujian paling tidak harus membaca buku mata kuliah/mata pelajaran
yang diujiankan. It’s up to you. Mau gunakan Teknik Hapal Mati, Teknik
Memahami, Teknik disitu Ujian disitu Baca Buku, Sistem Kebut Semalem (nah ini
yang paling saya suka, ^^v peace.. The power of kepepet), atau sistem yang
paling idealis dan perfeksionis sedunia, Belajar Setiap Hari (nah, ini
sebenernya yang saya bangeet... *jangan percaya!!). Atau juga gabungan antara
teknik-teknik tersebut. Hmm...boleh juga.
Yang jelas, rasio
hasil (nilai) diantara teknik-teknik diatas juga ga jauh beda kok. *alesan.
Saya justru tidak
bisa terima kalau orang yang mau nilai tinggi tapi ga pernah mau belajar.
Ther-Lha-Lhu..! Ke laut saja.. -_-. Orang sekaliber Imam Syafi’i saja tidur
hanya sekejap (sekejap yang tidak terlalu nyenyak), pada saat tidak tidur ia
kemana? Ia menuntut ilmu. Einstein meninggal diantara tumpukan-tumpukan kertas
hasil teori-teori yang belum terselesaikan, yang dilakukannya adalah ia
tergila-gila dengan ilmu pengetahuan (maksud saya, “gila” disini bukan seperti
orang yang sering kalian temui di jalan-jalan itu. Bukan). Simple nya, Allah
menurunkan ayat pertama Al-Qur’an yang berbunyi “iqra” artinya “bacalah”! Sebab
itu baca, baca, baca! Baca tulisan ini (maksa). :)
#Tips 2
Pahami (diriku, halaah!).
Pelajaran jangan
dihapal, tapi dipahami. Sebab saya bego’ banget soal hapal-menghapal. Jangan
tanya saya bagaimana bunyi hukum laju reaksi, hukum Boyle atau hukum
perbadingan tetap atau bahkan hukum Archimedes, saya tidak akan mampu menjawab.
Tapi jika diminta menjelaskan dengan cara saya, insyaallah saya masih ingat. Teknik
memahami memang sedikit memakan waktu, namun itu membuat kita mengingat lebih
lama. Ibaratnya lama memahami dan lama melupakan. Sebab itu saya adalah orang
yang sulit untuk melupakan... (kok?? ah lupakan kata-kata itu! merusak alur).
Terus, jangan segan-segan
menuliskan apa yang baru saja dihapal. Adegan coret-mencoret kertas menjadi
sangat mengagumkan saat kita sudah memahaminya. So, jangan heran jika buku-buku
kuliah saya banyak coretannya (bisa jadi itu coretan kebosanan saat saya sedang
kuliah -_- apadeh?).
#Tips 3
Tebak-Tebak Buah Manggis
Kita bisa menebak
kira-kira tipe dosen yang ini atau yang itu akan memberikan soal ujian dengan
bentuk yang bagaimana? Terus, bagaimana menebaknya? Salah satu caranya adalah
dengan bertanya pada kakak senior. Jika sedang dalam masa-masa ujian, saya
sering menelpon kakak senior (nelpon cuma kalau ada maunya saja) bertanya A-Z
tentang seluk beluk bentuk soal yang akan dikeluarkan sang dosen,
ujung-ujungnya saya akan berkata, “Kak, punya soal-soal tahun lalu gak? Pinjem
dunk...”. (peminjam sejati, minjam ga dikembalikan...)
Kau tahu kawan? 80%
soal yang saya pelajari dari soal-soal yang diberikan kakak kelas, keluar
dengan anggun di lembar soal ujian saya. Terang aja saya mengerjakannya sambil
senyum-senyum (sebenernya mau sambil jingkrak-jingkrak, tapi mikir kayaknya ga
mungkin..).
Main tebak-tebakan
soal juga gak kalah asyiknya dengan pinjem soal karena terkadang kakak kelas ga
selalu punya stok soal-soal tahun lalu. Pernah saya waktu itu yang baru saja
sembuh dari sakit keras [?] di semester 1, harus menghadapi berbagai ujian
susulan karena sudah kurang lebih 3 minggu (ditambah libur Ied Fitri, total
nyaris 1,5 bulan) tidak masuk kuliah. T_T menyedihkan sekali... Dalam keadaan
tubuh yang sangat ringkih itu saya harus menghapal banyak sekali ujian-ujian
yang siap menghadang. Seperti biasa, saya memilih-milih apa yang harus saya
hapal karena saya menyadari, otak saya yang sempit (anggap saja begitu walau
sebenarnya tidak) tidak akan mampu menghafal seluruhnya. Jadilah saya
tebak-tebak buah manggis sambil berdoa, “Ya Allah, semoga contoh soal yang ini
yang keluar di ujian nanti. Pliiiisss ya Allah... (sambil mengerjakan hanya 1
contoh soal saja, hanya 1 soal saja untuk tiap teori)”. Dan ternyata
taaaraaa... yang keluar diujian adalah persis contoh soal yang saya kerjakan
dan tepatnya untuk tiap teori. Persis sekali. Saya memang sangat beruntung. Dan
keberuntungan selalu mengikuti di ujian-ujian selanjutnya. Alhamdulillah. Jadi
kalau melihat nilai saya yang tinggi, sebenarnya bukan karena pintarnya saya,
sebab saya selalu beruntung, sekali lagi beruntung (biar lebih menyakinkan),
itu saja. Saya terkadang juga sering bengong-bengong melihat nilai saya. Kok
bisa? Atau juga sering sekali sang Dosen silap mata saat memeriksa kertas ujian
saya, misal yang seharusnya nilai 75 menjadi 88 atau bahkan 94. Yang seharusnya
80 menjadi 100 (ini dosen fisika yang silap abis broo), tapi saya diam-diam
saja.. hahah.. (*picik* tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai
keberuntungan).
#Tips 4
Jawab semua soal.
Saya terbiasa dengan
tidak membiarkan lembar jawaban saya kosong melompong, sekalipun saya tidak
mengetahui jawabannya. Karena saya selalu berharap sang Dosen memberikan yah
setidaknya nilai upah nulis/capek sebab sudah menjawab begitu panjang. Lain
halnya jika saya sudah mengetahui jawabannya, maka saya akan menjawab dengan
tepat, singkat dan tidak bertele-tele.
Nah, ini dia yang
paling saya suka. ^^. Teknik menjawab soal ujian yang saya tidak tahu
jawabannya adalah dengan mengarang bebas (ini tidak berlaku untuk dunia
matematika). Karanglah apa yang bisa kau karang! Saya cukup memiliki kompetensi
dalam bidang karang-mengarang. Maka, ketika saya mengumpulkan jawaban ujian,
teman-teman saya pada cemas, “Mar kenapa jawabanmu panjang kalii??”. Dan saya
hanya menjawab dengan tersenyum saja. Dalam hati bergumam, “Apakah dia tidak
tahu ini semua karangan?”
Terkadang saat saya
mengarang, jawaban itu muncul begitu saja. Ini Ilham boy, titisan dari
langit..halaah! Nah, bagaimana jika karangan sudah sampai 7 baris sementara si
“ilham” (jawaban) baru muncul dibaris ke-8? Sederhana saja, garislah inti
karangan dengan tinta merah agar sang Dosen tahu bahwa inti jawaban ada pada
baris ke-8.
Tapi ingat,
belajarlah untuk membuat karangan yang bermutu. Hahah.. Ups.
#Tips 5
“Lembar Jawaban” Kita Harus Punya Nilai Lebih.
Kita harus beda sama
yang lain. Tapi bukan berarti kalau yang lain jawab A, terus kita jawab B. Tak
pentung kepalamu! Bukan begitu. Maksudnya, kalau yang lain jawab A, usahakan
kita bisa jawab AB. Dan usahakan juga kertas ujian kita berada paling atas saat
dikumpulkan. Jadi, ketika dosen memeriksa kertas ujian kita, dia bisa
membandingkan mana jawaban yang paling lengkap dan mana yang biasa saja. Ngerti
ga sih maksud saya? Oke anggap saja kalian mengerti.
Lalu, bagaimana jika
ada teman yang bertanya jawaban pada kita? Ah, biasa saja. Gak perlu pelit.
Saya mah kalau ada yang nanya ya saya kasih tahu. Tapi ingat, jangan tanya
balik. Biar saja orang lain yang mencontek, asal kamu tidak. Jangan melecehkan integritas dan integralitas dirimu dengan mencontek atau mengopek.
Semisal jawaban yang
diminta temanmu adalah ABCDE, maka cukup beri dia AB saja atau ACE saja. Jangan
beritahu semua. Jadi, jawaban kamu 5 poin, sedangkan jawaban teman kamu cuma 2
atau 3 poin.
Nah, bagaimana kalau
soalnya pilihan berganda? Ahay, gampang... jangan dijawab dulu. Cukup tandai
saja jawabannya. So, jika ada temanmu yang bertanya, “Jawaban nomor sekian
apa?”, kita tinggal katakan, “Belum dijawab.... (sambil nunjukin kertas jawaban)”.
Apakah ini disebut picik? Saya rasa tidak..hehehe..
#Tips 7
Don’t be late friend.. Don’t be late!
Kalau hari biasa
kamu sering telat (siapa itu? Siapa?), nah saat ujian usahakan datang lebih
cepat, paling tidak tepat waktu sebelum dosen membacakan soal. Jika kamu
tertinggal 5 menit saat ujian, artinya kamu tertinggal 10 menit untuk mengejar
teman-temanmu agar setidaknya berada pada daerah yang sama. Paham maksudnya?
Paham tidak paham anggap saja paham, pura-pura mengerti juga tak mengapa.
Walaupun saya sering telat masuk kuliah, namun saya tidak pernah telat jika
ujian. Saya sangat tepat waktu. ^^v
#Tips 7
Tempat Duduk Menentukan Nilai.
Ini siapa yang
mengatakan? Haa?? Lantas jika duduk di belakang bisa menjawab soal dengan mudah
gitu? Duduk di tengah bisa jawab tanpa menulis gitu? Duduk di depan bisa dapat
jawaban dari dosen gitu?? Ah, menghayal!
Saya lebih senang
duduk paling depan, aman tentram nyaman sebab tidak ada yang mengganggu. Tidak
ada yang mengganggu, “Mar pinjem tipe-X laa..”, “Mar, pinjem penggaris..”,
sekalian aja “Mar pinjem sepatumu..”. Juga jarang ada yang bertanya, “Mar nomor
sekian apa?”, “Mar udah jawab nomor ini?”. Apadeh? Gak salah nanya sama saya?
Ini yang saya tulis amburadul semua, hanya karangan fiktif belaka. :D Sekaligus
juga sebagai cara agar kita terhindar dan tidak tergoda untuk bertanya pada
teman (mencontek).
Kalau perlu kamu duduk
tepat di depan dosennya sebagai taktik meminimalisir gangguan. Tapi itu jarang
saya lakukan, bukan karena gimana-gimana, karena saya lebih senang duduk di
dekat pintu/jendela. Jika sudah suntuk sesuntuk-suntuknya menjawab soal ujian
terkadang hingga mengantuk (hayyah, apalagi ini? ujian mengantuk? tidak
berperikeujianan!), saya akan memandang keluar jendela menatap langit dan
pohon-pohon hijau sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan,
seolah jawaban bisa muncul dengan menarik nafas dan menghembuskannya seketika
(bego’). Namun saya yakin, terkadang ketenangan bisa mengalahkan segalanya. Dan
secara tiba-tiba...criiiingng... jawaban muncul di otak saya.
#Tips 8
Berdoa dan minta Doa.
Selalunya jika akan
menghadapi ujian, saya akan memohon doa restu kepada ibu saya (kok seperti
appaaa gitu, “doa restu?”). Minta doa kepada siapa saja yang saya temui, adik,
kakak, ceman-ceman.. Minta didoakan agar saya bisa menjawab semuanya dengan
tepat.
But wait, si pelaku
ujian juga jangan lupa berdoa. Doa saya cukup egois jika ingin menghadapi
ujian. Kurang lebih seperti ini, “Ya Allah mudahkanlah hamba menjawab soal
ujian hari ini, jika hari ini hamba bisa menjawab soal ujiannya dengan baik dan
benar, maka lancarkanlah ujiannya. Jika hamba tidak bisa menjawab, tundalah
ujiannya 1 minggu lagi ya Allah.. Pliss ya Allaaah.. -__-“
Doa ini biasanya ada
disetiap tahajud dan Dhuha sebelum ujian. Peace ^^v, dan ini cukup berhasil..
Allah memang Ar-Rahman Ar-Rahim..
Ah...mengapa jadi
rindu kuliah?? :).
No comments:
Post a Comment