Pages

Monday, October 28, 2013

Dari Alpha-Omega, Ceracau Wanita!

Mungkin sebagai perempuan saya merasa wajar saja jikalau ini terjadi berulang-ulang. Memang kodratnya begitu kan? Perempuan selalu bingung membaca peta (berusaha beralibi), kecuali peta keuangan dan peta perselingkuhan. ?

Kita masih ingat ya tanggal 21 April hari apa? Iyap hari ibu kita Kartini (Tapi ibu saya namanya Tari, bukan Kartini. Saya ganti boleh? Ibu kita Tari? *jebreet, kena pites). Perjalanan memperjuangkan emansipasi yang terkadang secara menjengkelkan saya ubah menjadi emansisapi, apalagi di India ini, emansisapi-nya sangat kuat sekali. Seseorang bisa ditangkap polisi jika berkurban sapi di Idul Adha. Keren bukan?
*bahas apa sih?
Saya sangat mengapresiasi perjuangan Kartini dalam menyetarakan pendidikan bagi gender yang berbeda. Namun sayang dan malangnya, emansipasi yang sudah digagas apik oleh Kartini, di salaharti dan salah-aplikasi pada banyak anak muda zaman aneh ini. Padahal jauh sebelum kartini meretas emansipasi yang mengindonesia dan hampir menjagat raya itu, Islam sudah menyediakan emasipasi apik dan eksotis tanpa harus melalui pertumpahan darah dan keringat.
...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S Al-Hujurat: 13)
Apa kurangnya Islam coba?

Emansipasi hanyalah langkah ketidakpuasan wanita doeloe yang entah berabad-abad silam, zaman yunani, romawi, antah berantah, saat onta tidak bisa nelen jambu biji bulat-bulat, ?, penindasan yang “ergh” (ungkapan kegeraman saya) pada cerita mitos yang sangat manusiawi sekali (penuh intrik dan kekurangan) kemudian takjubnya cerita ini dianggap cerita berkonten meng-ilahi sehingga disembah-sembah dan diteguk menjadi sebuah kepercayaan. Bagaimana bisa seorang Dewa (baca:Tuhan)berselingkuh dan memiliki anak? Zeus contohnya. Maka, ketidakpuasan terhadap harkat dan martabat sebagai wanita seharusnya hanyalah dirasakan pada wanita zaman yg tidak tersentuh oleh islam. Sedang Islam? Menaruh hukum yang sangat serius tentang duduk perkara ini. 

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur :2)

Hebat bukan? Islam juga menghalalkan poligami sebagai sarana menjunjung harkat dan martabat perempuan. Haha, bicara poligami, kepala saya jadi nyut-nyutan ga jelas. Apa ada agama lain yang sebegitu detail dalam menyelesaikan permasalahan lelaki-wanita seperti Islam lakukan?

“Ah, itu kan cerita mitos zaman dahulu. Sekarang mitologi seperti itu tidak dipakai lagi”. Siapa bilang? Saya senang dgn cerita-cerita klasik baik zaman prasejarah ataupun zaman sejarah. Apalagi zaman kontemporer seperti ini dimana kita sudah bisa menjelajah sampai ruang angkasa, masih saja ada orang yg percaya mitologi kurang nalar seperti itu. Silakan cari saja apa yang saya maksud..

“Udah, tembak aja tuh cowok. Udah zaman emansipasi cin.. gapapa lagi cewek duluan yang nyatain. Khodijah aja berani nyatakan cinta duluan sama Nabi Muhammad. Masa elo enggak!”

Siapa yg nulis tulisan di atas? Sinih saya jitak..
Kami pernah membahas hal ini bersama guru Ngaji saya (semoga beliau selalu dalam rahmatNya, aamiin ya Robbal a’lamiin).
“Pernyataan rasa suka Khodijah pada Muhammad tidak se-spontan dan sesederhana yang kita bayangkan. Kisah itu jauh sangat indah”, ujar guru ngaji saya. Mata saya langsung mengerjap-ngerjap tanda tertarik. Khodijah tidak serta merta mengatakan, “Gue suka sama elo, mau ga jadi suami gue?”. Penuh pertimbangan, pencaritahuan, pengujian dan lain-lain. Bahkan Khodijah mengutus (katakanlah) mata-mata untuk mencaritahu bagaimana sebenarnya tingkah laku dan kebiasaan Nabi Muhammad. Masih ingat Maisaroh? Maisaroh ini lelaki, bukan perempuan, teman seperjalanan Nabi ketika berdagang. Ah, rasanya kalian lebih tahu tentang cerita ini dibanding saya.
Tidak sampai disitu, Khodijah juga mengundang beberapa pembesar yang bijak dan bertanya tentang keputusan besar yang akan diambilnya. Cerdas bukan? Khodijah bertanya ini dan itu seputar Nabi dan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Maka, kisah yang sangat indah ini jangan dinodai dengan ke-simpel-an ala anak muda yang seakan-akan  manjadikan kisah ini sebagai alasan untuk ini dan itu.

Ada beberapa gologan perempan yang berteriak-teriak penyetaraan gender dan penghargaan atas dirinya, tapi sayang sekali, terhadap dirinya sendiri pun ia tidak bisa menghargai. Lelucon macam apa ini?? (terus kenapa dirimu yang sewot Mar? Entah, saya juga tidak tahu!)

Dalam beberapa hal, yang mungkin beberapa perempuan sepakat, tidak semua wanita itu senang dipuji (konteksnya masih antara lelaki-perempuan). Saya pribadi, dalam hal-hal tertentu, lebih menyukai ekspresi diam dan ala-kadarnya daripada pujian yang berlebihan. Sederhananya begini, saat saya menolong seseorang (katakanlah begitu, walaupun saya lebih sering menyusahkan. -_-), saya lebih senang seseorang yang saya bantu tersebut hanya mengucapkan “terimakasih” , “bagus”, atau “oke” saja. cukup. Tak perlu ditambah embel-embel yang lain. tidak perlu berlebihan.
 “Terima kasih ya sudah membantu. Bantuanmu sangat berharga sekali, aku sangat tertolong dengan itu semua. Ternyata ada yang manusia sebaik kamu.. bla..bla..bla.. (mau ga jadi pembantu aku??)”
Atau yang seperti ini:
“Wah, kamu cantik sekali hari ini. Dandananmu sungguh eksotis. Kala mata memandang, seakan musik klasik mengalun di telingaku. Ada apakah gerangan? Mungkin sang musik tahu bahwa bidadari sedang turun ke bumi? ”  (yah, ampun kalau yg ini rempong sekali.. sini saya siram pake minyak lampu..)

Tidak perlulah berlagak seperti Cassanova yang memikat perempuan dengan pesonanya. Biarkan perempuan itu sendiri yang mampu menangkap pesona pria di hadapannya. Bukankah wanita bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat? Maka tidak perlu lebay. Hal itu justru membuat kepala kami pusing dan perasaan yang tak menentu (begitu kata teman saya). Perempuan itu tahan oleh cacian, tapi lemah karena pujian. (haha, sejak kapan engkau melankolis begini Mar? Sejak buah apel tepat jatuh di kepala Mr.Newton).
Atau tidak menjadi Romeo zaman kini juga tidak masalah bagi kami. Justru saya pribadi bisa merasakan (maaf) ke-muak-an yang tak terkira saat seorang pria bergalau-galau di jejaring sosial tentang jodoh. "Dimana jodohku? Aku berharap engkau di sini" atau "Bidadariku tunggulah aku". Maka setelah ini, penilaian saya merosot tajam hingga 50% ke bawah. Pria itu terlahir tangguh, maka jangan alay-kan diri anda dgn sesuatu yang tidak perlu.

Baiklah, tulisan saya memang ngelantur kemana-kemana. Saya memang lemah mengawali sebuah cerita. Maklum lah saya menulisnya sambil mengunyah roti, menelpon dan membaca buku kimia. Lupa ya kalau perempuan itu jago multitasking? Dan sepertinya multitasking saya gagal total. Salam perdamaian.

Mohon maaf lahir dan bathin.. :)

Eh lupa, salam indiahe simelekete..

3 comments:

Anonymous said...

hahahahaha...jadi intinya apa?

Unknown said...

sepaham mar... sependapat,,, setujuh... & sepakat dgn tulisannya ... ^__^

Mariyam Ar-Rantisi said...

apa ya intinya? kata ibu saya, inti itu kelapa.. bagaimana? setuju?

Thanks sudah blog walking imah.. :)