Terlepas
dari semua rasa bersalah dan segala yang disebut kesalahpahaman. Apa yang
terjadi saat ini mungkin sebab ada kesalahpahaman versiku yang aku rangkai
sendiri hingga menghasilkan imaji-imaji yang justru menyulam kebisuan sekalipun
berisik telah tertempel pada dinding-dinding yang mulai terkelupas itu. Aku
tanya apa sebabnya, ia diam saja. hati memang selalu minta didengar tanpa harus
dipaksa berkata. Sekalipun aku juga merangkai-rangkai sendiri makna pada hati
yang kutanyai. “Apa? Mengapa? Ada apa denganmu? Dan sedari tadi kau diam saja!!”.
hati memang tidak pernah bisa menjawab. Ia selalu meminta kita merangkum
bahasanya.
Bodohnya aku yang selalu saja berulang-ulang kali salah memahamkan pikiran untuk menerjemah bahasa hati. Namun aku tegaskan bahwa aku samasekali tidak butuh penerjemah nomor wahid untuk mengertinya. Cukup hanya membijakkan diri dan mendamaikan pikiran agar kuurai satu persatu kata yang belum ku mengerti.
Bodohnya aku yang selalu saja berulang-ulang kali salah memahamkan pikiran untuk menerjemah bahasa hati. Namun aku tegaskan bahwa aku samasekali tidak butuh penerjemah nomor wahid untuk mengertinya. Cukup hanya membijakkan diri dan mendamaikan pikiran agar kuurai satu persatu kata yang belum ku mengerti.
Terkadang
memang selayaknya sebagai manusia -yang memiliki rasa-, menimbang perasaan
adalah hal yang sukar. Ada hal-hal yang beraroma negatif, ada yang beraroma
positif, ada pula yang tidak sama sekali. Pada mata yang dipaksa jangan
memandang, pada pikiran yang menerus ingin tahu, pada mulut yang beraroma kata,
siap melompat kapan saja ia mau. Satu-satunya tersisa adalah hati. yang
mencegah atau menolak seluruhnya. Berjalan, bertapak, mengindera, kata-nya,
cukup gunakan hatimu. Jika hatimu menolak, maka tinggalkan.
Ah,
sulit sekali aku menerjemahmu. Pada mulut yang ingin sekali berucap sesuatu dan
menanyakan sesuatu, mungkin diam adalah cara bagiku memahami wajahmu. Cukup diam
saja, karena terlalu banyak yang teramat ingin ku sampaikan. Apakah diam cukup
menerjemahmu? Atau, apakah kau sudah paham?
No comments:
Post a Comment