Rindu adalah...
yang menurut hemat saya sebentuk kegalauan yang tidak tahu diarahkan kemana. Ke kanan? Ke kiri? depan? belakang? atau sebenarnya tidak paham apa yang sebenarnya kaurindui? Makan banyak, pergi berkeliling, ketawa-ketiwi serasa sudah bahagia sepenuhnya, padahal tidak. rindu masih menyimpan raganya di dalam dada. Rindu memang menyesakkan ya? haha.
Sekilas saya kutip pernyataan si Atok dalam drama penuh makna, "Ipin Upin" saat mendapati bahwa si Rembo tengah dilanda rindu:
"Pantaslah kau makan tak habis, tidur tak nyenyak, mandi pun tak basah" ujar si Atok saat mengelus-elus kepala Rembo.
Dahsyat ya ungkapan rindu? saya menjadi ngeri sendiri saat bahkan ayam saya (saya juga ragu apakah saya punya ayam atau tidak -_-) tetiba dilanda rindu. bisa mati kurus atau bau apek karena ga mandi2.. ?
Ya, oke, saya sedang rindu! titik! saya rindu pada suatu zaman dimana saya harus ke kampus pagi-pagi bukan untuk masuk ke kelas, tidak, lebih dari itu, saya menyebutnya membangun peradaban. Pagi-pagi harus masuk kuliah pukul delapan, tapi saya justru hadir dikampus pukul 06.30 sekedar menyempatkan membahas agenda dakwah. 1,5 jam dengan kecepatan berfikir yang diajak melaju harus membahas sekian demi sekian agenda dan kemudian diakhiri dengan :
"Bagaimana kabar ruhiyah? Bagaimana shalat malamnya? jangan lupa menamatkan target bacaan alqur'an kita semua. jangan lupa shalat dhuha nya."
Ah, itu kerinduan yang menyusup-nyusup ke kalbu yang saya tidak tahu bagaimana mendapatkan moment seperti ini lagi..
Dulu, saya sering membiarkan hp berbunyi sendiri. Mengapa berbunyi tiap sedetik sekali? syuro ini, syuro itu, kemudian tausyiah, syuro lagi, jarkom halaqoh, tugas presentasi kuliah, sms teman sebaya dll. Saya terkadang harus tertawa sendiri dan berkata pada teman saya, "Lihatlah hp itu berbunyi terus, kita lihat 1 hari ini ada berapa sms yang masuk."
Dan saya ternyata merindui hal itu..
Saat harus mengomel-ngomel sendiri karena tidak ada teman yang sekedar membalas "Bisa/Tidak" untuk mengikuti syuro pada hari sekian. Saat harus menyimpan amarah pada teman yang ternyata tidak mengerjakan apa yang seharusnya diamanahkan. Saat-saat kelelahan seperti sudah mencapai titik puncak lalu seorang teman berkata, "Jangan katakan lelah, ucapkanlah Lillah.."
Seperti sebuah embun, perkataan itu kembali menghidupkan, mengisi kekosongan dan menumbuhkan..
Dan saya sedang merinduinya...
Rindu,
saya tidak mengerti bagaimana mendefenisikan rindu yang satu ini. Yang tiap minggunya selalu saya nanti-nanti kehadirannya. Sebuah lingkaran yang bisa membuat saya melanglang-buana menuju altar-altar pembangun peradaban. Sebuah lingkaran kecil yang mampu mengubah hidup saya, arah pandang saya, ketidakpahaman saya atas kegelisahan, ketidakmengertian saya apa tujuan hidup saya sesungguhnya. Lingkaran yang mengajarkan saya bagaimana menghargai, bagaimana memendam emosi, bagaimana berdamai dengan pikiran dan bagaimana mengatur hati yang pada suatu waktu berada pada tempat yang tidak semestinya. Lingkaran yang menurut sebagian orang hanya membuang-buang waktu itu ternyata adalah separuh hidup saya. separuh rindu saya tertambat disana, cinta saya, pikiran saya dan rindu-rindu yang terjamak hari-ke hari itu mungkin suatu saat akan tidak dapat saya tahan lagi, *halah, gaya lu Mar*
Ah rindu.. banyak sekali yang saya rindui. Keluarga? tidak usah ditanyakan seberapa saya rindukan. sudahlah, saya semacam membodoh, mengalay, menyampah, curhat gak jelas, meronta-ronta dan apa lagi kata yang tepat untuk menamai tulisan ini.
Oke cukup. Rindu memang terkadang harus diluapkan. Agar suatu saat hati saya tidak diobok-obok oleh rindu. haha ayo, selamat merindukan.. :)
No comments:
Post a Comment