Pages

Thursday, November 21, 2013

Iqomah

Teringat sebuah kisah, pada zaman antah berantah hiduplah sebuah ? kakak beradik yang lucu-lucu dan menggemaskan, terlebih kakaknya. Nah, suatu ketika sang adik sebut saja namanya Andi tiba-tiba memanggil kakaknya sambil lari ngos-ngosan seperti baru saja dikejar anjing rabies akut,
       "Kak, kakak......kakak..... Tadi kakak denger suara azan apa enggak?"
Si kakak yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut dengan pertanyaan adiknya satu ini. Ada apakah gerangan si adik tiba-tiba bertanya tentang azan?

       "Ih apa sih ni anak. Sana..."
       "Kakak dengar azan apa enggak???" teriak adiknya lagi.
       "Iya kakak dengar.. Kakak udah sholat! Udah sana..." 
       "Kakak dengar iqomah enggak?"
       "Apa sih? kakak lupa.."
Lalu si adik dengan langkah gontai terduduk lemas, "Tadi andi yang iqomah kak. Akak ga dengar?" terangnya dengan wajah yang innocent sekali. mata sinchannya sungguh membuat si kakak luluh.
       "Andi yang iqomah? iya? kakak ga begitu memperhatikan. Coba nanti pas magrib, andi iqomah lagi, biar kakak dengar. Oke?"
       Andi pun tersenyum gembira. Gembira sekali mendengar sang kakak mau mendengarkan iqomahnya. Maklum saat itu Andi masih berumur 4 tahunan. Azan atau iqomah adalah hal yang membanggakan baginya.
Dengan semangat 45 lalu si Andi pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib, tentunya setelah sebelumnya berpesan pada si kakak untuk pasang telinga mendengarkan suara azan dan iqomah dengan seksama.

Selepas magrib, Andi kembali lari-lari sampai ngos-ngosan dan berteriak-teriak, 
          "Kakak...kakak....kakak dengar iqomah tadi??"
          "Iqomah yang mana? (pura-pura berfikir) astaghfirullah.. iqomah ya? Aduh, kakak lupa. Kalau azannya kakak dengar. Maaf Ndi..kakak lupa. Gini aja, gimana kalau isya nanti Andi ke masjid terus iqomah lagi.. Kali ini kakak pasti ingat. Ya? Oke??"
Si adik tampak kecewa oleh kelakuan kakaknya. Bagaimana bisa sang kakak mendengar azan tapi tidak mendengar iqomah. Itu mustahil, pikirnya. Namun apadaya, si Adik harus ikhlas menerima segalanya. Termasuk memiliki kakak aneh dan menyebalkan itu.

Padahal dibalik itu semua, sang kakak justru mendengar iqomah yang dilantunkan si Adik. Mulai dari iqomah pertama, sang kakak merasa mengenal suara itu. Pada iqomah sholat magrib, si kakak memasang telinga erat-erat hanya sekedar mendengarkan suara adiknya yang ber-iqomah. Ia bangga, terharu, dengan perasaan yang berkecamuk macam-macam. Air matanya hampir saja menetes saat mendengar suara cempreng adiknya melantunkan iqomah.. Kesengajaan si kakak berkata bahwa ia tidak mendengar iqomah sholat magrib adalah hanya agar si adik mau melantunkan iqomahnya lagi di sholat isya.

Selesai isya, si adik pulang seperti biasa, lari ngos-ngosan hingga nabrak pintu rumah dan berteriak-teriak,           
        "Kakak, kakak, buka pintunya....."
Andi memang takut dengan malam. Ia mengira malam adalah saat dimana setan-setan bergentayangan dan hantu-hantu mulai berdatangan.
       "Eh, Andi... tadi iqomahnya bagus ya.. kereeeen suaranya. Besok iqomah lagi ya.. kakak suka dengarnya.." ujar sang kakak yang tanpa ditanya langsung mencerocos.
       Andi mengarahkan wajahnya, menoleh pada sang kakak. ia mengernyitkan dahi,
      "Siapa yang iqomah kak? Tadi si adu yang iqomah. Kami gantian..." ujarnya kemudian berlalu.

Jreeeeeng.....???? si kakak merasa ada semacam beton menimpa pundaknya.
Sekian.

No comments: