Pages

Friday, February 28, 2014

Lagi-Lagi Gegara Dowry

Tulisan ini tidak panjang, sebab saya tidak bisa memejamkan mata malam ini maka saya rasa ini adalah hal paling produktif yang bisa saya lakukan selain menonton film.

siang tadi, selepas pulang kuliah, tidak biasanya, seorang teman saya, sebut saja namanya Prasad (haha, ini nama aslinya kok, saya agak lemot dalam hal karang mengarang nama), atau lebih mudahnya kita panggil saja teman saya dengan panggilan "P" biar lebih hemat.

Untuk kali pertama saya menyelesaikan praktikum organik lebih cepat dari yang lain dan tentunya pulang lebih cepat. di india ini tidak ada sistem saling tunggu, yang cepat maka dia bisa pulang duluan, setelah di absen tentunya..
Nah, kebetulan si P ini selalu ramah sekali menanyakan pada saya, "Everything's ok Mar? Do u need a help?bla..blaa..bla.. do u need a measuring jar? ok wait, i will take it for u" dst. si P ini memang baik dan ramah kepada siapa saja.



Usai practical lab, kami pun berjalan pulang. Tidak seperti biasanya ia kali ini mengambil jalan memutar sehingga  searah jalan dengan saya dan okta (teman se-flat saya). Pembicaraan kami mengalir begitu saja hingga saya menanyakan satu hal unik padanya,

"P...(ga enak banget ya panggilan cuma 1 huruf doang) setahu saya,  lelaki India akan menerima dowry ketika akan menikah nanti. benarkah?", ecek-eceknya saya ga tahu.

          "Ya, di india memang seperti itu"

"kalau di Indonesia, wanita yang akan mendapatkan dowry, tapi omong-omong, nanti jika kamu menikah, kamu juga mau minta dowry?"
(tangan saya sudah siap2 mengepal kalau dia bilang iya.. haha -_-  sebab saya tidak menemukan sesuatu untuk dilempar)

            "Itu semua tergantung pada keluarga Mar, kalau saya, ya, mungkin akan meminta."

"How much?? (mulut saya langsung nyerocos, eh bukan artinya saya tertarik memberi dowry. Wiiiihh, jgn berfikir yg tidak2!! saya hanya ingin membandingkan.   membandingkan dgn apa coba? entah saya juga tidak tahu).

            "kalau utk level Master seperti saya mungkin sekitar 6-10 lakhs. tapi kalau saya sudah Phd, mungkin saya akan meminta 50 lakhs."

(Jreeeenngg...kali ini saya malah ingin menjitak kepalanya. whaat+ch?? 50 lakhs? 1 milyar? seketika harga diri si P terjun bebas tandas di mata saya)

              "apa itu tidak terlalu banyak P? perempuan yang akan menikah dgnmu harus membanting tulang dong ya?"

               "Oh, itu biasa, memang pasarannya segitu Mar."
(pasaran kepale lo?)

"Jadi, beneran kamu mau minta dowry? Sekalipun dengan bukan seorang wanita India?". Nah, saya baru sadar ternyata pertanyaan saya ini seolah-olah, padahal saya cuma sekedar bertanya, it is pure just a question.

(si P mengernyitkan dahi) "Kau menyukai lelaki India Mar?"

~~ngeek~.... ?? (muka bodoh)

"Kalau kau memang menyukai lelaki India, semuanya bisa diatur. Masalah dowry dan sebagainya. Kalau sudah saling menyukai, dowry bukanlah masalah bagi kita..."

(kita...??) (muka tolol)
"Maksud saya bukan begitu P, maksud saya... (aduh, dalam hati ketar-ketir, salah ngomong nih gua. -_-). Maksud saya, tadi hanya sebuah pertanyaan saja. Karena setiap orang memiliki budaya yang berbeda. Kalau saya, apapun ceritanya, ya tetap memilih Indonesia dong.. haha (pembelaan diri, tertawa yang dibuat-buat).

         si P tersenyum-senyum *perasaan saya ga enak, sumpah nyesel banget nanya hal yang begituan pada si P* tangan yang tadi terkepal justru ingin saya arahkan ke kepala saya sendiri... Ini yang namanya memanah tepat di jantung sendiri. Atau mengiris jari sendiri.

Nah, pelajaran moral no.sekian : berhati-hatilah dalam bertanya. :D
Sejak saat itu, si P sering sekali menelpon, apa saya peduli? Mimpi!!


No comments: