Pages

Friday, February 28, 2014

Tangan Panas is just a Fake

“Wanita itu indah seperti bunga” terang teman saya.
“Kalau bunga bangkai? Atau bunga kuburan? Kamu mau?”, ejek saya padanya.
“Ya itu kan perumpamaan. Bunga mawar misalnya atau bunga kamboja”, jelasnya sekali lagi.

Bagi saya, bunga justru menyimpan banyak misteri. Menjadi indah dan menebar harum sekehendaknya adalah takdir bunga. Banyak sekali orang tersihir karenanya, tanpa tahu ternyata bunga menyimpan duri tajam yang menipu. Saat hendak memetiknya, orang akan menyadari ternyata tertusuk duri amat sakit. Sakit...--! (eh tolong ya Mar, FOKUS!).

Oh ya, saya punya pengalaman menarik tentang bunga. Saya menyukai bunga, tetapi bunga sepertinya tidak menyukai saya. Yah, 11-12 lah sama cinta yang bertepuk sebelah kaki.
Bunga paham siapa yang layak dan pantas untuk disayangi dan tentunya bukan saya. (siapa gue?siapa saya??)

Menjadi manusia dengan kutukan si pemilik tangan panas sungguh menyebalkan. Saya menduga-duga entah darimana penyakit (keturunan) ini saya derita. Ya, saya tidak bisa menanam bunga, pohon atau apapun jenis tumbuhan itu. Nenek saya bilang, saya perlu dimandikan air 7 rupa dari gunung yang berbeda agar tanaman yang saya tanam bisa tumbuh dengan baik (eh, gak ding. Yang ini bohong. Insyaallah nenek saya orang yang taat dan tidak percaya takhayul. Ia hanya percaya bahwa suatu saat cucunya yang baik hati itu akan mendapatkan jodoh yang baik, aamiin. ?).

Suatu sore, saya ikut meramaikan acara bersih-bersih halaman. Ibu saya terlihat asyik memilah-milah bunga, mencabut batang bunga dan menanamnya kembali. Saya yang sok iye, ikut-ikutan mengerjakan apa yang ibu saya kerjakan. Saya potong beberapa tanaman lalu saya tancapkan ke tempat yang berbeda. Saya merasa benar-benar perempuan! Perempuan asli tanpa polesan. Setelah selesai, saya menyiraminya sambil tersenyum bahagia. Seolah-olah bunga sudah tumbuh mekarnya.

1 minggu, 2 minggu berlalu. Bunga yang ditanam ibu saya menjulur ke atas dengan pongah. Dan bunga yang saya tanam? Menjulur kebawah, jatuh dan lunglai (-_-). Persis seperti harga diri saya yang jatuh seketika. Saya merasa terhina sekali. Sekalipun ibu saya tidak pernah menghina bunga layu itu, tapi cara ibu mencabut bunga separuh mati (katakanlah mati) itu adalah penghinaan habis-habisan. Saya tanyakan pada ibu mengapa bunga kita tumbuh dengan tidak sinkron? Karena takdir!? (selesai, habis cerita, the end!)

Ibu mengatakan bahwa ada sejenis spesies di bumi ini, dari golongan manusia yang memiliki kemampuan unik, seperti: tidak bisa memasak (cooking disabilities), tidak bisa menyentuh barang-barang elektronik dan pecah belah (touching disabilities) serta tidak bisa menanam bunga (planting disabilities). Spesies yang tergolong pada “planting disabilities” ini disebut dengan spesies yang memiliki tangan panas. Nah mungkin diantara 5%  spesies ini, satu diantaranya adalah saya. Saya bangga sekali menjadi spesies langka.. haha ?_?

Dari situlah saya paham apa arti “tangan panas”. Sepasang tangan tidak berdosa yang sangat dibenci oleh tanaman, terutama bunga. Alkisah, konon katanya pemilik tangan ini, jika menyentuh bunga, keesokannya bunga akan layu dan mati. Jadi jangan berambisi besar untuk bisa menanam bunga, bermimpi saja tidak boleh. Apakah saya percaya pada alkisah “syahdan” ibu saya? Oho, tentu tidak *sambil memainkan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri*.

Hingga pada suatu ketika, saat saya duduk di kelas 3 SMP. Era 2000-an  dimana celana jeans komprang masih menjadi trend yang naik daun dan HP Nokia segede kalkulator adalah sebuah prestise. Sekarang saya baru menyadari betapa ternyata alay sudah menjangkiti ‘P3moedHa Indonesia y4Ng BeRtoeMp4h d4r4h SaTHu’ sejak zaman Nokia masih berbunyi tu-la-lit.

Kala itu, teman saya (semoga engkau dimudahkan jodohnya :D ), yang sedang kesambet angin Kinton Sun-gokong tiba-tiba membawakan saya sebuah tanaman (tsah elah, masih kencur udah main bunga-bungaan). Tanaman segar beserta potnya. Apa coba maksudnya?
“Dijaga baik-baik ya bunganya. Biar tumbuh”, jelasnya dengan lembut.

“Eh, ini untuk aku? Ini bunga apa namanya?” (tolol)

“Ini namanya bunga bangkok. Kalau sudah tumbuh nanti, pasti bunganya cantik”, jawabnya sekali lagi. 

Untung saja kata-kata tadi tidak disambungnya, “seperti kamu” (huek..*lempar gilingan cabe*). Saya hanya mengangguk-angguk kecil dan berucap terima kasih , lalu meletakkan bunga dibawah meja dan (mengabaikannya).

            Sesampainya di rumah, ibu saya bertanya, “(jimat) apa itu yang dibawa-bawa pulang ke rumah?” Saya menjawab kalau bunga itu dari teman. Yah kalau-kalau ada tugas dari guru untuk membawa bunga, kan saya tidak perlu repot-repot.
Di tengah matahari yang menjulang mengangkasa pukul 02.00 siang, saya letakkan bunga kecil imut indah polos nan tidak berdosa itu di halaman rumah. Karena saya melihat matahari sangat membakar pada hari itu maka saya putuskan untuk mengguyurnya dengan air segar! Sambil berdialog dengan si bunga, “Airnya diminum ya... cuaca sedang panas.  Nanti kamu sakit. Kita mandi ya.. Hidup ya bunga. Kalau tumbuh pasti cantik..?.. (kayak aku) bla..bla..bla..”, tanpa saya sadari ternyata saya telah menyiramkan seember air. Padahal niat saya hanya segayung saja. Saya Amnesia... tolong jitak saya!

            Keesokan harinya saya melihat bunga itu layu. Daunnya gugur satu persatu. Saya memperhatikannya miris. Namun saya yakin bahwa itu hanya kepura-puraan bunga saja. Hari berganti hari, dalam waktu 3 hari saja, cukup 3 hari, bunga sudah hanya tinggal nama. Bunga mati meninggalkan pot dan menyisakan kesedihan yang mendalam pada (teman saya). Saya shock. Apa yang saya lakukan? Saya cabut bunga perlahan-lahan dan Voila, akarnya sudah membusuk. Hipotesa saya adalah, bunga mengalami disfungsi akar.

Saya jelaskan pada si kawan bahwa bunga yang ia berikan sudah berpulang ke Rahmatullah dengan Khusnul Khotimah. Saya memintanya untuk bersabar dan mengikhlaskan kepergiannya *minta ditoyor*. Saat itu saya menyadari bahwa sungguh sulit menjelaskan sesuatu yang kau tahu bahwa sesuatu itu adalah pesakitan bagi si pendengar. Dan mungkin juga, itulah sebab mengapa orang di dunia ini lebih memilih berbohong. Tujuannya tidak lain hanyalah : tidak ingin membuat orang lain sakit hati. Namun bagi kita, saya sih ya, trust is a trust. Lebih baik membeberkan kebenaran yang menyakitkan daripada kebohongan yang membahagiakan. Baiklah mari kita kembali ke jalan yang benar...

 Mendengar kenyataan bahwa bunga pemberiannya mati sia-sia di tangan saya, si kawan merasa sedih sekali dan sebagai gantinya, ia bawakan bunga yang lebih besar (masih dengan jenis yang sama) keesokan harinya. What the...? Saya tidak tahu apa harus senang atau gembira? (bukannya itu sinonim Mar? Oh iya, lupa). Dan maka, demi keberlangsungan hidup bunga, saya mengambil keputusan pahit. Saya hibahkan bunga pada sepupu saya. Saya berharap cerita berakhir seperti film-film India, dimana seorang pemuda tahu bahwa ternyata bunga yang ia berikan dirawat orang lain, maka pemuda itu jatuh cinta pada yang merawat bunga. *fake story. gangguan psikis nonton film India*

Nah, di India ini, saya mengerahkan seluruh daya upaya, menjajal kemampuan saya dan mencoba menanam “SERAI”. Iya, serai, sebab di sini serai sangat langka dan mahal. Tumbuhan liar yang kata orang, jangankan ditanam, tidak ditanam saja ia tumbuh membabi-buta dimana-mana. Jika saya tidak mampu menumbuhkan sebatang serai saja, bukankah itu adalah sebuah penghinaan yang menusuk??

            Di suatu pagi yang segar, saya mulai mencangkul mengorek tanah sampai saya putuskan cukup untuk kehidupan sebuah tanaman serai di pot yang saya dapatkan dari salah satu teman, mahasiswa Indonesia juga. Saya lafalkan bismillah berulang-ulang. Saya tanam serai lalu saya siram dengan sedikit air (saya belajar dari kebodohan masa lalu), setelah sebelumnya air tersebut saya bacakan Al-fatihah. Lalu sambil menyiram serai, saya bacakan kembali surah Ar-Rahman, *freak*. Tapi hal itu benar-benar saya lakukan, sambil berdoa dalam hati “Ya Allah sebagaimana engkau menumbuhkan serai ini dengan liar di pinggir jalan, maka tumbuhkanlah serai yang aku tanam dengan, seliar-liarnya... ?”

            1 minggu berlalu, alhamdulillah serai semakin bertunas. Dan saya menarik kesimpulan baru bahwa karunia Allah begitu luas dan hati yang legowo serta keyakinan yang mendalam, bisa menumbuhkan dan menjadikan, bahkan cinta sekalipun. ?_?
Dan hukum kekekalan “tangan panas”?  Saya sudah lupa tuh. Haha *pongah*
Mari bersyukur atas hadiah Allah berupa 2 tangan ini. Tanpanya? Bisa apa kita?? *terima kasih ya Allah..  :)

No comments: