Pages

Friday, February 28, 2014

Saya Berharapnya...

Assalamualaikum wr wb.
Sore ini saya terjebak di sebuah kebun bunga kecil di lantai 3 tepat dimana saya sering duduk sendiri dan memandang bintang. Tidak terjebak sih, tetapi memang menjebakkan diri. Cukup sendiri saja. Sebab kita perlu sendiri untuk bisa menelisik rasa, bukan? Sendiri untuk bisa memaknai mengapa kita harus memahami kita. Memahami untuk apa kita dan siapa kita lalu jadi apa kita setelahnya. Sendiri terkadang dimaknai personal oleh teman saya sebagai manisfestasi rasa galau di luar koridor. Namun menurut saya, justru pada “sendiri”lah seseorang dapat melahirkan karya-karya besar. Dan bagi saya? Mungkin tepatnya, benar kata teman saya tadi: “sendiri adalah kau yang suka bermain-main pada perasaanmu” . *tsah elah, mau ngomong galau aja susah bener*.


                Persetan dengan matahari yang kian memunggungi awan, me-merah, gemawan. Saya tetap rela terjebak berlama-lama duduk menatap senja menyingsing. Burung-burung yang saling mencandai dan menggoda kesana-kemari. Angin sore yang berarak memainkan melodi pada bunga, kombinasi gemerisik lagu yang indah. Katarsis angin pada debu yang menjadikannya sejuk. Ah, coba sesekali kau rasakan apa yang sedang ku rasakan... (?)
                Hai, apa kabar, negeri yang jauh di seberang sana? Apa kabarmu? Kabar kalian? Apa kabar hati? Atau kabar kita? *ah, kemana arah tulisan ini sebenarnya?*

                Sadar atau tidak, tapi kini saya mulai menyadari bahwa ternyata belakangan ini saya sering melupakan hari. Saya sering bertanya pada teman saya, “Besok hari apa? Atau hari ini hari apa?”. Sampai-sampai teman saya kesal. “Kamu sudah 3 kali menanyakan hal yang sama hari ini”. Benarkah? Bukankah itu hal yang menakjubkan? -_-
Saya teringat suatu hari, sebelum saya terbang dan menginjakkan kaki di India ini, teman saya menghubungi, Sari namanya.
“Mar, ada kegiatan Jum’at ini?”
“Umm...umm..” (saya sedang berfikir)
“Oke ga ada kan? Jum’at nanti ngisi kajian ya di SMA XYZ. Di jalan PQRS. Oke?”
“Aku mau ngurus visa Sar, beli tiket, dan urusan-urusan lain... Teman kita yang lain ga bisa ya?”
“Aduh, kajiannya cuma 1,5 jam aja, ga lama. Lagian jam 12 siang semua orang pada istirahat. Nanti ku jemput. Dirimu kan suka kesasar, jadi ntar aku tunjukin jalan ke SMA itu”.
(Ini anak sebenarnya berbaik hati menjemput atau mengejek saya yang suka kesasar? Huks..)
“Yah, oke lah. Sms-kan ya tema dan point-point yang harus aku sampaikan”.

Menolak permintaan teman saya yang satu itu bukanlah pilihan yang cerdas. Sebab ditolak ataupun tidak hasilnya tetap sama. Tema yang ia suguhkan cukup membuat kening saya berkerut-kerut 8 centi. Lebih kurangnya tentang bagaimana menjadi seorang muslim yang berprestasi. *Jleb* tema yang berat (paling tidak) menurut saya pribadi. Sebab saya masih jauh dari kriteria itu, jauh sekali. Ah, saya ini, siapalah saya ini, entah siapa saya ini. Belajar saja malas, membaca buku saja culas, apalagi prestasi? Tak pantas! Namun bukankah Islam memiliki banyak tauladan ilmuwan dan alim ulama yang mumpuni dan layak saya jadikan contoh? Imam Syafi’i misalnya. Ya, saya terkagum-kagum pada beliau yang sebegitu cerdasnya.

                Sudah pernah saya jelaskan sebelumnya bahwa hari Jum’at adalah hari yang paling saya damba. Entah ini perasaan yang mengada-ada atau memang adanya begitu, bahwa Jum’at selalu menyuguhkan nuansa langit yang bersahabat, angin yang riang, orang-orang yang mem-baik, jalan-jalan sesak menjadi irama merdu, dan matahari, tentu saja, menaburkan panas yang lain dari biasanya. Jum’at selalu beda. Dan pada Jum’at hari itu, saya harus bergegas pagi-pagi tepat jam 7 ke rumah Kakak mentoring saya. Ia berkata bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ah, rasanya baru kemarin saya bertemu dengan si Kakak dan dalam waktu dekat saya akan berpisah dengannya dalam waktu yang cukup lama, 2 tahun. Saya harus menghela nafas berkali-kali tatkala mematung sambil memandangi kalender. Pesona kalender begitu ajaib.

                Dari rumah si Kakak, saya melajukan motor teman kost saya yang baik hatinya (semoga Allah melindungimu) yang sengaja ia pinjamkan hari itu agar saya menyelesaikan semua urusan-urusan. Membeli tiket, fotocopy ini dan itu, hingga tiket saya tertinggal di tempat fotocopy (-_- saya memang suka amnesia mendadak jika dikejar waktu).
Singkat cerita setelah mengajukan permohonan visa, bersama dengan teman saya, kami berangkat menuju SMA XYZ. Terlihat anak-anak SMA berpakaian putih mengingatkan saya kisah muda dulu. Ah, ternyata saya sudah tua (jenggotan). Haha.. Wajah-wajah lugu, kanak-kanak, yang haus ilmu (menurut saya) berbinar-binar di mata mereka.

Setelah perkenalan, saya pun memulai membuka materi. Saya tersenyum menawan pada mereka. Lalu berkata, “Tau ga ini foto siapa?”. Saya tunjukkan satu foto artis Hollywood pada remaja di hadapan saya.

“Tom Cruise Kak...”, jawabnya cepat.

“Kalau yang ini? Tau dong ya?”, goda saya sekali lagi pada mereka.

“Ah, kalau yang ini Angelina Joulie, Kak..”, mereka berebut menjawab.

“Ini siapa? Pasti kalian ga tau?”, ejek saya pada mereka.

“Ini mah Brad Pitt kak.. pacarnya Angelina Joulie.”

Busyet dah, mereka hapal luar kepala.

“Nah kalau yang ini? Ayo siapa yang tahu..?”, saya tersenyum licik.

“Umm.. siapa ya? siapa?”, suara mereka berbisik-bisik, bola mata mereka berputar kesana-kemari, lucu sekali melihat mereka yang mencoba menduga-duga.

“Ini namanya Ibnu Sina. Kenal dengan Ibnu Sina?”

“Oh, yang ilmuwan Islam itu ya kak? Tau sih, tapi ga banyak”, salah satu dari mereka menjawab.

“Beliau ini bapak dari ilmu kedokteran sekarang. Orang-orang barat lebih suka menyebutnya Avicenna. Sama halnya seperti ilmuwan muslim yang satu ini, Al-Farabi menjadi Alpharabius. Tujuannya apa? Biar nama mereka tidak menunjukkan ke-Islaman. Jadi seolah-olah seluruh ilmuwan berasal dari negara barat sana. Nah ayo, ini gambar siapa?”, saya mencoba mengejutkan mereka (tetapi tidak berhasil -_-)

“......................”, mereka diam.

“Ini namanya Imam Al-Ghazali. Sekali lagi, orang barat menyebutnya Al-Gazel. Seorang ahli filsafat Islam yang rendah hati. Ihya Ulumuddin adalah salah satu bukunya yang terkenal. Bla..bla....”
Kajian pun berlanjut...

...................
Sesaat dalam perjalanan pulang, ada hal yang saya pikirkan. Seseorang Sesuatu yang mengusik pikiran saya sedari tadi. Ya, saya laffaaaaar *2 harkat, pakai nada dasar D Minor*.
Saya memikirkan, apa yang akan terjadi pada generasi muslim 20 atau 30 tahun mendatang? Dan tentunya apa yang akan terjadi pada keturunan saya kalau begini ceritanya? Bagaimana caranya menciptakan “Al-Fatih” era kekinian kalau kita saja tidak tahu kita siapa. Kita tidak paham kita ini sehebat apa... *mulai berapi-api, ngomong pake toa*. Sebenarnya, saya miris, itu saja, miris pada diri sendiri, miris pada keadaan, miris pada keadilan, miris pada pendidikan. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya belum berbuat apa-apa, sedikitpun tidak, saya hanya mampu mengomel-ngomel gak jelas pada kondisi. Tapi anyway, kalian pahamkan yang saya sedang omelkan? -_-

                Saya banyak berharapnya, berharap pendidikan agama di sekolah bukan hanya sebagai formalitas saja, tidak hanya sebagai Dogma: “Tahu dan ikuti”. Tidak sekedar itu. Saya berharapnya, adalah kesadaran yang dibentuk karena pemahaman. Ah, ekspektasi saya terlalu tinggi ya?

Saya berharapnya, tayangan televisi disortir dengan cerdas, disaring dengan akal. Saya berharapnya, lebih banyak konten yang mendidik, mengenalkan bahwa sesungguhnya kita ini hebat, kita ini kuat, kita ini berasal dari peradaban yang tinggi. Enyahkan sinetron sampah yang memoles liliput tidak berdosa menjadi gadis sok dewasa, sok cantik, sok kaya, yang meracuni kehidupan remaja kita menjadi sebuah etalase sinetron. Hey Gadis, itu cuma sinetron!

Saya berharapnya ini dan itu. Ya, saya terlalu banyak berharap... Bukankah kita hidup dengan penuh harapan? Seperti harapan saya sekarang, menyelesaikan study secepat-cepatnya. Cepat nikah
Maafkan omelan tidak jelas saya di akhir cerita. Terima kasih. :)

No comments: