Assalamualaikum wr wb.
Sore ini saya terjebak
di sebuah kebun bunga kecil di lantai 3 tepat dimana saya sering duduk sendiri
dan memandang bintang. Tidak terjebak sih, tetapi memang menjebakkan diri.
Cukup sendiri saja. Sebab kita perlu sendiri untuk bisa menelisik rasa, bukan?
Sendiri untuk bisa memaknai mengapa kita harus memahami kita. Memahami untuk
apa kita dan siapa kita lalu jadi apa kita setelahnya. Sendiri terkadang
dimaknai personal oleh teman saya sebagai manisfestasi rasa galau di luar
koridor. Namun menurut saya, justru pada “sendiri”lah seseorang dapat
melahirkan karya-karya besar. Dan bagi saya? Mungkin tepatnya, benar kata teman
saya tadi: “sendiri adalah kau yang suka bermain-main pada perasaanmu” . *tsah
elah, mau ngomong galau aja susah bener*.
Persetan
dengan matahari yang kian memunggungi awan, me-merah, gemawan. Saya tetap rela
terjebak berlama-lama duduk menatap senja menyingsing. Burung-burung yang
saling mencandai dan menggoda kesana-kemari. Angin sore yang berarak memainkan melodi
pada bunga, kombinasi gemerisik lagu yang indah. Katarsis angin pada debu yang
menjadikannya sejuk. Ah, coba sesekali kau rasakan apa yang sedang ku
rasakan... (?)
Hai,
apa kabar, negeri yang jauh di seberang sana? Apa kabarmu? Kabar kalian? Apa
kabar hati? Atau kabar kita? *ah, kemana arah tulisan ini sebenarnya?*
Sadar
atau tidak, tapi kini saya mulai menyadari bahwa ternyata belakangan ini saya
sering melupakan hari. Saya sering bertanya pada teman saya, “Besok hari apa?
Atau hari ini hari apa?”. Sampai-sampai teman saya kesal. “Kamu sudah 3 kali
menanyakan hal yang sama hari ini”. Benarkah? Bukankah itu hal yang
menakjubkan? -_-
Saya teringat suatu hari, sebelum
saya terbang dan menginjakkan kaki di India ini, teman saya menghubungi, Sari
namanya.
“Mar, ada kegiatan Jum’at ini?”
“Umm...umm..” (saya sedang
berfikir)
“Oke ga ada kan? Jum’at nanti
ngisi kajian ya di SMA XYZ. Di jalan PQRS. Oke?”
“Aku mau ngurus visa Sar, beli
tiket, dan urusan-urusan lain... Teman kita yang lain ga bisa ya?”
“Aduh, kajiannya cuma 1,5 jam
aja, ga lama. Lagian jam 12 siang semua orang pada istirahat. Nanti ku jemput.
Dirimu kan suka kesasar, jadi ntar aku tunjukin jalan ke SMA itu”.
(Ini anak sebenarnya berbaik hati
menjemput atau mengejek saya yang suka kesasar? Huks..)
“Yah, oke lah. Sms-kan ya tema
dan point-point yang harus aku sampaikan”.
Menolak
permintaan teman saya yang satu itu bukanlah pilihan yang cerdas. Sebab ditolak
ataupun tidak hasilnya tetap sama. Tema yang ia suguhkan cukup membuat kening
saya berkerut-kerut 8 centi. Lebih kurangnya tentang bagaimana menjadi seorang
muslim yang berprestasi. *Jleb* tema yang berat (paling tidak) menurut saya
pribadi. Sebab saya masih jauh dari kriteria itu, jauh sekali. Ah, saya ini, siapalah
saya ini, entah siapa saya ini. Belajar saja malas, membaca buku saja culas,
apalagi prestasi? Tak pantas! Namun bukankah Islam memiliki banyak tauladan
ilmuwan dan alim ulama yang mumpuni dan layak saya jadikan contoh? Imam Syafi’i
misalnya. Ya, saya terkagum-kagum pada beliau yang sebegitu cerdasnya.
Sudah
pernah saya jelaskan sebelumnya bahwa hari Jum’at adalah hari yang paling saya
damba. Entah ini perasaan yang mengada-ada atau memang adanya begitu, bahwa
Jum’at selalu menyuguhkan nuansa langit yang bersahabat, angin yang riang,
orang-orang yang mem-baik, jalan-jalan sesak menjadi irama merdu, dan matahari,
tentu saja, menaburkan panas yang lain dari biasanya. Jum’at selalu beda. Dan
pada Jum’at hari itu, saya harus bergegas pagi-pagi tepat jam 7 ke rumah Kakak
mentoring saya. Ia berkata bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ah,
rasanya baru kemarin saya bertemu dengan si Kakak dan dalam waktu dekat saya
akan berpisah dengannya dalam waktu yang cukup lama, 2 tahun. Saya harus menghela
nafas berkali-kali tatkala mematung sambil memandangi kalender. Pesona kalender
begitu ajaib.
Dari
rumah si Kakak, saya melajukan motor teman kost saya yang baik hatinya (semoga
Allah melindungimu) yang sengaja ia pinjamkan hari itu agar saya menyelesaikan
semua urusan-urusan. Membeli tiket, fotocopy ini dan itu, hingga tiket saya
tertinggal di tempat fotocopy (-_- saya memang suka amnesia mendadak jika dikejar
waktu).
Singkat cerita
setelah mengajukan permohonan visa, bersama dengan teman saya, kami berangkat
menuju SMA XYZ. Terlihat anak-anak SMA berpakaian putih mengingatkan saya kisah
muda dulu. Ah, ternyata saya sudah tua (jenggotan). Haha.. Wajah-wajah lugu,
kanak-kanak, yang haus ilmu (menurut saya) berbinar-binar di mata mereka.
Setelah
perkenalan, saya pun memulai membuka materi. Saya tersenyum menawan pada
mereka. Lalu berkata, “Tau ga ini foto siapa?”. Saya tunjukkan satu foto artis
Hollywood pada remaja di hadapan saya.
“Tom Cruise Kak...”, jawabnya
cepat.
“Kalau yang ini? Tau dong ya?”,
goda saya sekali lagi pada mereka.
“Ah, kalau yang ini Angelina
Joulie, Kak..”, mereka berebut menjawab.
“Ini siapa? Pasti kalian ga
tau?”, ejek saya pada mereka.
“Ini mah Brad Pitt kak.. pacarnya
Angelina Joulie.”
Busyet dah, mereka hapal luar
kepala.
“Nah kalau yang ini? Ayo siapa
yang tahu..?”, saya tersenyum licik.
“Umm.. siapa ya? siapa?”, suara
mereka berbisik-bisik, bola mata mereka berputar kesana-kemari, lucu sekali
melihat mereka yang mencoba menduga-duga.
“Ini namanya Ibnu Sina. Kenal
dengan Ibnu Sina?”
“Oh, yang ilmuwan Islam itu ya
kak? Tau sih, tapi ga banyak”, salah satu dari mereka menjawab.
“Beliau ini bapak dari ilmu
kedokteran sekarang. Orang-orang barat lebih suka menyebutnya Avicenna. Sama
halnya seperti ilmuwan muslim yang satu ini, Al-Farabi menjadi Alpharabius. Tujuannya apa? Biar nama
mereka tidak menunjukkan ke-Islaman. Jadi seolah-olah seluruh ilmuwan berasal
dari negara barat sana. Nah ayo, ini gambar siapa?”, saya mencoba mengejutkan
mereka (tetapi tidak berhasil -_-)
“......................”, mereka
diam.
“Ini namanya Imam Al-Ghazali. Sekali
lagi, orang barat menyebutnya Al-Gazel. Seorang ahli filsafat Islam yang rendah
hati. Ihya Ulumuddin adalah salah satu bukunya yang terkenal. Bla..bla....”
Kajian pun berlanjut...
...................
Sesaat dalam
perjalanan pulang, ada hal yang saya pikirkan. Seseorang Sesuatu yang
mengusik pikiran saya sedari tadi. Ya, saya laffaaaaar *2 harkat, pakai nada
dasar D Minor*.
Saya memikirkan, apa yang akan
terjadi pada generasi muslim 20 atau 30 tahun mendatang? Dan tentunya apa yang
akan terjadi pada keturunan saya kalau begini ceritanya? Bagaimana caranya
menciptakan “Al-Fatih” era kekinian kalau kita saja tidak tahu kita siapa. Kita
tidak paham kita ini sehebat apa... *mulai berapi-api, ngomong pake toa*. Sebenarnya,
saya miris, itu saja, miris pada diri sendiri, miris pada keadaan, miris pada
keadilan, miris pada pendidikan. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya belum
berbuat apa-apa, sedikitpun tidak, saya hanya mampu mengomel-ngomel gak jelas
pada kondisi. Tapi anyway, kalian pahamkan yang saya sedang omelkan? -_-
Saya
banyak berharapnya, berharap pendidikan agama di sekolah bukan hanya sebagai
formalitas saja, tidak hanya sebagai Dogma: “Tahu dan ikuti”. Tidak sekedar
itu. Saya berharapnya, adalah kesadaran yang dibentuk karena pemahaman. Ah,
ekspektasi saya terlalu tinggi ya?
Saya berharapnya, tayangan
televisi disortir dengan cerdas, disaring dengan akal. Saya berharapnya, lebih
banyak konten yang mendidik, mengenalkan bahwa sesungguhnya kita ini hebat,
kita ini kuat, kita ini berasal dari peradaban yang tinggi. Enyahkan sinetron
sampah yang memoles liliput tidak berdosa menjadi gadis sok dewasa, sok cantik,
sok kaya, yang meracuni kehidupan remaja kita menjadi sebuah etalase sinetron.
Hey Gadis, itu cuma sinetron!
Saya berharapnya ini dan itu. Ya,
saya terlalu banyak berharap... Bukankah kita hidup dengan penuh harapan?
Seperti harapan saya sekarang, menyelesaikan study secepat-cepatnya. Cepat nikah
Maafkan omelan tidak jelas saya
di akhir cerita. Terima kasih. :)
No comments:
Post a Comment