Pangeran saya
yang satu ini memang tiada bandingnya. Ia yang amat murah senyum dan baik hati ini,
sesungguhnya tidak berasal dari orang yang amat berada. Namun kebesaran hatinya
menunjukkan bahwa ia memiliki segalanya. Mensyukuri apa yang ada dan terus
berusaha menjadi lebih baik pernah disampaikannya. “Kalau tidak bisa bermanfaat
bagi orang lain, setidaknya jangan menyusahkan”. Begitu pesannya.
Baginya, memenuhi segala kebutuhan saya adalah sebuah
kewajiban. Ia tidak gampang marah, tapi jangan pancing kemarahannya, justru
akan membuatmu menangis tersedu-sedu tanpa henti.
Dialah yang
mengenalkan saya pada sebuah jendela, jendela ilmu. Buku selalu ia hadiahkan
pada saya. Bahkan ibu saya sekalipun, yang tidak pernah melarang saya pergi
kemanapun, namun pria yang satu ini justru berkata, “Perempuan itu ga baik
jalan jauh-jauh sendirian”. Begitu ungkapnya. Dulu, ia selalu cemas kalau saya
tidak berada di rumah saat makan siang. Selalu ditanyanya, “Si adek mana?”.
Saya yang begajulan ternyata sedang bermain-main di sawah mencari ikan atau
merusak ladang orang -_-.
Ia jarang sekali membelikan saya sepotong baju atau rok atau
celana. Jika ditanya mengapa, maka ia jawab dengan simpel, “Biarlah itu menjadi
tugas ibumu”. Memang pria yang simpel. Namun entah mengapa, ia selalu mengajak
saya ke toko buku dan bertanya, “Buku mana yang mau dibeli?”. Kasih yang justru
tidak saya dapat dari ibu saya. Soalnya ibu saya memiliki pertanyaan lain,
“Kemana kita belanja ini dek?” :D
Pria itu
sering saya lihat duduk di depan jendela memakai kacamata dan memangku
alqur’an. Terlihat wajahnya serius saat memilah lembar demi lembar kitab suci itu. Sesekali terlihat angguan-anggukan kecil sambil
mulutnya melafalkan huruf “O” yang panjang. Dipahaminya sambil ia
mengangguk-angguk, lalu mengajak saya berdiskusi, “Hewan apa yang haram dimakan
oleh umat Islam?”, terangnya. Maka saya mulai menyebut satu-persatu hewan
tersebut. Ia berkata lagi, “Ada yang kurang, 1 lagi”. Otak anak SD seperti saya
(kala itu) berfikir keras, sekeras dengkul (?), namun sayangnya saya tidak
mendapatkan jawaban. “Darah”, ucapnya sambil tertawa. ?? Darah? Saya
memberontak, sejak kapan darah berevolusi menjadi hewan? Sekalipun saya tolol
tingkat alam pikir, namun saya masih bisa membedakan yang mana hewan dan mana
jus segar *Drakula wanna be*. Ternyata pria itu sedang menjelaskan kepada saya
salah satu kandungan surah Al-Maidah. :)
Seumur
hidup saya, jarang sekali saya melihat pria ini marah. Berbeda dengan ibu saya
yang selalu nge-Rap-hip-hop nyaris setiap hari. Ia hanya tersenyum saja saat
ibu saya mengomel, sambil tertawa dan berkata, “Lihat ibumu, apa ga capek dari
tadi merepet :D ?”
Pria ini tidak suka di bohongi. Jika tidak suka katakan
saja, tapi jangan sekali-kali bohongi ia. Itu sama saja menghantarkanmu pada
jurang neraka. Pernah suatu kali abang saya yang ketika itu masih pelajar SMP
Ababil (A-Be-Ge-La-Bil), yang entah kerasukan jin Ifrit dari negara mana
tiba-tiba menilap (bahasa apa ini menilap? Terasa Medan sekali) uang Les yang
seharusnya dibayarkan. Yah, memang jangan sekali-kali abaikan pepatah berikut
ini, “Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya patah kaki juga”. Maka
sepandai-pandai tipu daya dan makar abang saya yang ababil itu, akhirnya
terbongkar juga. Segalanya pedes pada waktunya. Salah seorang petugas
administrasi tempat abang saya kursus, dengan tidak biasa bercerita pada ayah
saya saat ia menjemput abang saya pulang les, atau lebih tepatnya petugas itu
menanyakan mengapa abang saya belum membayar uang les 3 bulan berturut-turut?
Ayah saya heran, padahal ia selalu memberikan uang les pada abang saya tepat
waktu. Jika saja ayah saya mau, ia bisa memarahi abang saya di depan
teman-temannya. Namun ayah saya, sekali lagi, tetap stay cool dan simpel.
Apa yang
terjadi di rumah setelah itu? Hahaha, saya rasa, abang saya tidak akan pernah
melupakan kejadian ini, yang membuatnya menangis tersedak-sedak sambil berkata,
“Ampuuun Yah, ampuun..ampun Yaah..huks huks.”. Saya dimana? Saya tentu sedang
bermain-main keluar, mungkin bermain guli, memanjat pohon jambu atau membuat
nangis anak orang. Saya kembali ke rumah setelah prosesi itu selesai yang
meninggalkan isak tangis abang saya. Mungkin karena saya yang lugu, saya justru
merasa kasihan pada abang saya. Saya mendekat, duduk disampingnya dan bertanya,
“Sakit dipukul ayah bang?”. Abang saya tidak berkata apa-apa kecuali, “Pergilah
kau sana??”. Ya salaam.. iba saya berubah menjadi sebuah keinginan untuk
menjitaknya.
Terlepas dari itu semua, pria ini
suka memancing abang saya (yang masih SD saat itu) mengeluarkan kemampuan bahasa
inggrisnya walaupun sekedar bertanya:
“How are
you?”
“Where do
you live?”
“How do you
go to school”
“Who is
your english teacher”
“Who is
your father’s name”, dsb...
Sesekali justru pria ini mengkoreksi “struktur” dari jawaban
yang diberikan abang saya. Dan saya yang masih kelas rendahan, hanya
terpelongo-pelongo takjub melihat dua manusia mampu melafalkan bahasa planet.
Tidak mau kalah, saya ikut-ikutan membaca buku pedoman kursus milik abang saya
yang asli bahasa planet semua. Tentu saja saya membacanya dengan metode lafal
Indonesia. Justru itu membuat pria ini tersenyum-senyum dan berkata, “Good,
good (sambil tertawa tentunya)”.
Dulu
sekali, saat zaman indomie masih 250 perak, kami sering menonton film
bersama-sama. Film jadul yang jika sudah tamat riwayatnya maka tertera
tulisan “The end” di layar Televisi kami. Ibu saya juga selalunya mengucapkan
“The End” dgn lafal “Te-en”. Maka selalunya juga pria itu mengkoreksi, “Bacanya
bukan Te-en tapi Dhi-End”. Untuk pertama kalinya saya benar-benar aneh pada
bahasa satu ini. Bagaimana bisa tulisannya begini dan cara bacanya menjadi
begitu? Memang bahasa planet, gumam saya.
“Ayah, adek mau belajar di kursus bahasa inggris kayak abang
juga...”, teriak saya.
“Adek ngaji di madrasah aja. Nanti kalau sudah SMP, baru les
kayak abang”, jawab pria itu.
........(saya tiba-tiba ga mood nulis ?_?)
Yah, oke, mari bersama-sama kita doakan ayah kita. ^^ semoga mendapat jodoh lindunganNya dan bersama-sama berkumpul di surga kelak, Aamiin...
No comments:
Post a Comment