Pages

Friday, February 28, 2014

Un-Named Prince (in my heart)

            Pangeran saya yang satu ini memang tiada bandingnya. Ia yang amat murah senyum dan baik hati ini, sesungguhnya tidak berasal dari orang yang amat berada. Namun kebesaran hatinya menunjukkan bahwa ia memiliki segalanya. Mensyukuri apa yang ada dan terus berusaha menjadi lebih baik pernah disampaikannya. “Kalau tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, setidaknya jangan menyusahkan”. Begitu pesannya.
Baginya, memenuhi segala kebutuhan saya adalah sebuah kewajiban. Ia tidak gampang marah, tapi jangan pancing kemarahannya, justru akan membuatmu menangis tersedu-sedu tanpa henti.

            Dialah yang mengenalkan saya pada sebuah jendela, jendela ilmu. Buku selalu ia hadiahkan pada saya. Bahkan ibu saya sekalipun, yang tidak pernah melarang saya pergi kemanapun, namun pria yang satu ini justru berkata, “Perempuan itu ga baik jalan jauh-jauh sendirian”. Begitu ungkapnya. Dulu, ia selalu cemas kalau saya tidak berada di rumah saat makan siang. Selalu ditanyanya, “Si adek mana?”. Saya yang begajulan ternyata sedang bermain-main di sawah mencari ikan atau merusak ladang orang -_-.
Ia jarang sekali membelikan saya sepotong baju atau rok atau celana. Jika ditanya mengapa, maka ia jawab dengan simpel, “Biarlah itu menjadi tugas ibumu”. Memang pria yang simpel. Namun entah mengapa, ia selalu mengajak saya ke toko buku dan bertanya, “Buku mana yang mau dibeli?”. Kasih yang justru tidak saya dapat dari ibu saya. Soalnya ibu saya memiliki pertanyaan lain, “Kemana kita belanja ini dek?” :D

            Pria itu sering saya lihat duduk di depan jendela memakai kacamata dan memangku alqur’an. Terlihat wajahnya serius saat memilah lembar demi lembar kitab suci itu.  Sesekali terlihat angguan-anggukan kecil sambil mulutnya melafalkan huruf “O” yang panjang. Dipahaminya sambil ia mengangguk-angguk, lalu mengajak saya berdiskusi, “Hewan apa yang haram dimakan oleh umat Islam?”, terangnya. Maka saya mulai menyebut satu-persatu hewan tersebut. Ia berkata lagi, “Ada yang kurang, 1 lagi”. Otak anak SD seperti saya (kala itu) berfikir keras, sekeras dengkul (?), namun sayangnya saya tidak mendapatkan jawaban. “Darah”, ucapnya sambil tertawa. ?? Darah? Saya memberontak, sejak kapan darah berevolusi menjadi hewan? Sekalipun saya tolol tingkat alam pikir, namun saya masih bisa membedakan yang mana hewan dan mana jus segar *Drakula wanna be*. Ternyata pria itu sedang menjelaskan kepada saya salah satu kandungan surah Al-Maidah. :)
            Seumur hidup saya, jarang sekali saya melihat pria ini marah. Berbeda dengan ibu saya yang selalu nge-Rap-hip-hop nyaris setiap hari. Ia hanya tersenyum saja saat ibu saya mengomel, sambil tertawa dan berkata, “Lihat ibumu, apa ga capek dari tadi merepet :D ?”
Pria ini tidak suka di bohongi. Jika tidak suka katakan saja, tapi jangan sekali-kali bohongi ia. Itu sama saja menghantarkanmu pada jurang neraka. Pernah suatu kali abang saya yang ketika itu masih pelajar SMP Ababil (A-Be-Ge-La-Bil), yang entah kerasukan jin Ifrit dari negara mana tiba-tiba menilap (bahasa apa ini menilap? Terasa Medan sekali) uang Les yang seharusnya dibayarkan. Yah, memang jangan sekali-kali abaikan pepatah berikut ini, “Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya patah kaki juga”. Maka sepandai-pandai tipu daya dan makar abang saya yang ababil itu, akhirnya terbongkar juga. Segalanya pedes pada waktunya. Salah seorang petugas administrasi tempat abang saya kursus, dengan tidak biasa bercerita pada ayah saya saat ia menjemput abang saya pulang les, atau lebih tepatnya petugas itu menanyakan mengapa abang saya belum membayar uang les 3 bulan berturut-turut? Ayah saya heran, padahal ia selalu memberikan uang les pada abang saya tepat waktu. Jika saja ayah saya mau, ia bisa memarahi abang saya di depan teman-temannya. Namun ayah saya, sekali lagi, tetap stay cool dan simpel.

            Apa yang terjadi di rumah setelah itu? Hahaha, saya rasa, abang saya tidak akan pernah melupakan kejadian ini, yang membuatnya menangis tersedak-sedak sambil berkata, “Ampuuun Yah, ampuun..ampun Yaah..huks huks.”. Saya dimana? Saya tentu sedang bermain-main keluar, mungkin bermain guli, memanjat pohon jambu atau membuat nangis anak orang. Saya kembali ke rumah setelah prosesi itu selesai yang meninggalkan isak tangis abang saya. Mungkin karena saya yang lugu, saya justru merasa kasihan pada abang saya. Saya mendekat, duduk disampingnya dan bertanya, “Sakit dipukul ayah bang?”. Abang saya tidak berkata apa-apa kecuali, “Pergilah kau sana??”. Ya salaam.. iba saya berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjitaknya.

Terlepas dari itu semua, pria ini suka memancing abang saya (yang masih SD saat itu) mengeluarkan kemampuan bahasa inggrisnya walaupun sekedar bertanya:
            “How are you?”
            “Where do you live?”
            “How do you go to school”
            “Who is your english teacher”
            “Who is your father’s name”, dsb...

Sesekali justru pria ini mengkoreksi “struktur” dari jawaban yang diberikan abang saya. Dan saya yang masih kelas rendahan, hanya terpelongo-pelongo takjub melihat dua manusia mampu melafalkan bahasa planet. Tidak mau kalah, saya ikut-ikutan membaca buku pedoman kursus milik abang saya yang asli bahasa planet semua. Tentu saja saya membacanya dengan metode lafal Indonesia. Justru itu membuat pria ini tersenyum-senyum dan berkata, “Good, good (sambil tertawa tentunya)”.

            Dulu sekali, saat zaman indomie masih 250 perak, kami sering menonton film bersama-sama. Film jadul yang jika sudah tamat riwayatnya maka tertera tulisan “The end” di layar Televisi kami. Ibu saya juga selalunya mengucapkan “The End” dgn lafal “Te-en”. Maka selalunya juga pria itu mengkoreksi, “Bacanya bukan Te-en tapi Dhi-End”. Untuk pertama kalinya saya benar-benar aneh pada bahasa satu ini. Bagaimana bisa tulisannya begini dan cara bacanya menjadi begitu? Memang bahasa planet, gumam saya.
“Ayah, adek mau belajar di kursus bahasa inggris kayak abang juga...”, teriak saya.
“Adek ngaji di madrasah aja. Nanti kalau sudah SMP, baru les kayak abang”, jawab pria itu.
........(saya tiba-tiba ga mood nulis ?_?)

Yah, oke, mari bersama-sama kita doakan ayah kita. ^^ semoga mendapat jodoh lindunganNya dan bersama-sama berkumpul di surga kelak, Aamiin... 


No comments: