Pages

Friday, April 18, 2014

Hujan dan tanya



Hujan yang mendahului sore, dua hari yang lalu, gugup-gugup ia bertanya satu hal.
"Apa yang sedang kau tulis?"
"Sebuah puisi yang tidak berjudul dan lagu yang tak bernada"

Hujan melampaui hari dengan tanya selalu, disimpannya dan dibawa berarak entah kemana. Ya, entah kemana angin menjejak.

Sore kemarin, hujan tak luput menyinggah dan melepas tanya?
"Sekarang, apa yang kau karang?"
"Tentang bait-bait yang tak berawal dan kisah yang masih aku simpan ujungnya"

Hujan semakin sesak saja. Rasa ingin tahunya yang melesak-lesak hingga ke ufuk
dan rasa tanyanya semakin candu.

"Hari ini aku tidak bertanya apapun. Aku butuh jawaban tentang kelihaian tanganmu kemarin sore dan kemarin sebelumnya. Tentang apa dan siapa? Keingintahuanku menyita waktu"
"Hari ini aku tidak menulis apapun. Sebab, memilih jawaban itu sudah aku rekatkan kuat-kuat disini, ia adalah pertaruhan yang paling agung"
"Lalu apa?"
"Dan jawabannya adalah kau, hujan"

Hujan  mendongak ke langit, tersenyum. Ada semacam tetesan jatuh ke tanah dan aromanya lebih menyegarkan dari kemarin dan dua hari sebelumnya.

Esok hari, pada sore yang bernada selaras pada detakan jantungnya, hujan kembali bertandang. Kali ini ia diam saja, memperhatikan, sambil mengulas sekuntum senyum dan berlalu. Tak lupa ia singgahkan rinaian pada tanah yang sama, seperti kemarin...

"Jika ada yg bertanya tentang bait yang aku tulis, puisi yang tak berjudul, atau lagu yang tak bernada, jawab sederhana saja, semuanya adalah tentangmu", imbuhnya

No comments: