Pages

Monday, April 7, 2014

Sunni-Syiah-Golput

Assalamua’alaikum wr wb..
Bismillah, kali ini saya akan sedikit mengulas tentang beberapa cerita saya dan teman saya mengenai Syiah dan sesuatu yang perlu kita ketahui selanjutnya tentang ini.
                Beberapa kali sudah terbesit niat untuk menuliskan hal ini, namun terkadang harga malas dan ego menjadi lebih lebih tinggi daripada nilai sebuah manfaat, maka dengan itu, cerita ini hanya saya simpan dalam hati, terus dan enggan menumpahkannya pada sebuah tulisan.

Beberapa bulan atau minggu yang lewat (saya lupa tepatnya kapan), saya seringkali bercerita dengan teman saya dari Yaman. Namanya Ma’agid. Namun saya lebih senang memanggilnya dengan sebutan bapak Yaman.
Menurut saya, ia cukup cerdas dibandingkan dengan teman-teman saya dari Timur Tengah yang lainnya. Bapak ini sendiri adalah seorang dosen di negaranya. Perbincangan kami sering bermula dari sesuatu yang sederhana dan pada tempat yang juga seadanya, Laboratorium.

                Saat itu, sambil menunggu memanaskan larutan selama 1 jam, ia menegur saya.
Bpk Yaman: “kaifa haluk ya ukhti” (sambil mengaduk-aduk larutan)
Saya : “Oh, ana, alhamdulillah, bi khoir, akhi..” (saya hanya terkejut dengan sapaan berbahasa arabnya. Secara bahasa arab saya kelas fakir)
Bpk Yaman : “Kamu bisa berbahasa Arab?”
Saya : “Ah, enggak. Cuma itu satu-satunya kalimat bahasa arab yang saya ketahui. Jangan salah sangka. Haha” (tertawa menutupi kebodohan)
Bpk Yaman: “Tapi bahasa arabmu fasih Mar”.
Saya : (terbang gaya ubur-ubur) “Dont mention it. Saya tidak bisa berbahasa arab. Tetapi kalau membaca alqur’an insyaallah saya bisa.”
                Lalu cerita kami berlanjut tentang hal-hal yang berbau agama, tentang kehidupannya, tentang gadis kecilnya yang baru berusia hitungan bulan. Bahkan tentang istrinya yang dia katakan bahwa sangat ia rindukan.

Bpk Yaman : “Satu hal yang menyedihkan bagi saya bahwa ketika anak saya lahir, saya bahkan tidak berada bersama istri saya” (wajahnya menerawang)
Saya: (saya yang merasa kikuk dan tentunya, tidak ingin bercerita lebih lanjut tentang keluarga yang hanya akan membuatnya sedih, maka saya mencari topik lain) “Bagaimana keadaan pemerintahan di negaramu? Aman-aman sajakan?”
Bpk Yaman : “Oh, negara saya. Aman insyaallah. Tetapi Mar, masih banyak terjadi beberapa kerusuhan di Yaman. Ada kelompok-kelompok yang melawan pemerintahan, terjadi di beberapa titik”.

Saya: “Sunni dan Syiah di negaramu bagaimana?”
Bpk Yaman : “Ternyata kau paham tentang Sunni dan Syiah?” (kali ini dia bertanya sambil sedikit tersenyum dan melekatkan pandangannya pada saya)
Saya : “Saya hanya tahu sedikit, tidak banyak. Jangan tersinggung atas pertanyaan saya. Saya benar-benar ingin tahu, tidak lebih. Karena baru-baru ini saya sering membaca artikel tentang berbagai kerusuhan di Timur Tengah. Suriah misalnya, dan spekulasi yang ada, kerusuhan itu berkaitan dengan Syiah. Wallahualam bishowwab”
Bpk Yaman : (ia tersenyum lagi, mungkin karena kalimat bahasa arab terakhir saya yang acakadut) “Kau tahu Mar, dari 13 teman kita dari Irak, hanya 3 saja yang Sunni. Selebihnya Syiah”
Saya : “Oh ya? umm...um.., hhmm dan kau sendiri? Sunni atau...? (kalimat saya terpotong sejenak. Jujur saja, saya benar-benar tidak enak bertanya hal demikian. Lebih karena saya tidak mau orang lain tersinggung sebab ucapan saya)
Bpk Yaman : “Saya, Sunni Alhamdulillah”.
Saya : (kali ini saya sedikit lega, lagipula, saya sudah menduganya dari awal sebab hanya dia seorang yang saya lihat sholatnya teratur dan ia juga pernah pamit untuk melaksanakan sholat Jum’at). “Kalau begitu, coba ceritakan kehidupan sunni dan syiah di negaramu?” (saya merasa tidak sabar mendengar ceritanya).

Bpk Yaman: “Di Yaman, saat ini kepemimpinan dipegang oleh kelompok Sunni. Mayoritas penduduk Yaman adalah Sunni. Namun di beberapa titik seperti di Yaman Utara, mayoritasnya adalah Syiah. Maka jangan heran jika kamu melihat berita tentang negara kami bahwa  yang seringkali terjadi kerusuhan adalah di bagian Yaman Utara. Disinilah basis Syiah di Yaman. Syiah Zaidiyah”
Saya : “Lalu hubungannya dengan kerusuhan yang terjadi?” (pertanyaan yang bego)
Bpk Yaman : “Tentu saja mereka ingin merebut pemerintahan Mar. Mereka ingin menguasai Yaman. Menjadikan Yaman layaknya negara-negara Mayoritas Syiah seperti Iran dan Irak. Mereka terus saja membuat kerusuhan, untuk menjatuhkan pemerintahan. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Syiah suka berbohong. Mereka akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan pemerintahan Sunni di Yaman. Yaman sebenarnya sangat  riskan. Jika saja suara Sunni tidak lebih banyak dari Syiah, maka Yaman akan jatuh telak di tangan Syiah.”
Saya : “Lalu, Syiah dapat kekuatan darimana untuk melakukan segala bentuk kerusuhan itu?” (sebenarnya saya sudah tahu jawabannya, tetapi saya hanya mencoba bertanya lebih banyak)
Bpk Yaman : “Syiah mendapat supply dari Iran. Dan Iran mendapat supply dari Amerika.Ya, Amerika. Kau jangan pernah tertipu kalau membaca berita bahwa presiden Iran akan benar-benar menyerang Amerika melalui program nuklirnya. Bullshit! Mereka bekerjasama”

Saya : “Benarkah?”
Bpk Yaman : “It’s about politic Mar. Jika Syiah menguasai negara Timur Tengah, Amerika bisa dengan mudah keluar masuk ke negara itu. Minyak  di negara kami berlimpah”.
Saya : “Kalau yang terjadi di Irak bagaimana? Ada yang bisa kau jelaskan padaku?”
Bpk Yaman : “Secara khusus aku tidak begitu paham bagaimana kehidupan Sunni di Irak. Tetapi yang saya tahu, Sunni menjadi termarginalkan sekali sejak jatuhnya Saddam Husein. Terutama dari segi pendidikan. Kau bisa bandingkan, pelajar Irak yang ada di India, yang mendapatkan beasiswa dari pemerintahnya, kebanyakan adalah syiah. Teman kita saja, dari 13 orang, hanya 3 orang yang sunni, selebihnya syiah. Karena memang syiah mendapatkan porsi yang lebih di segi pendidikan dan lainnya. Dan kebanyakan memang begitu. Atau seperti di Iran, mereka akan memberikan beasiswa bagi pelajar di negara lain untuk di-Syiahkan”.

Saya : “Oh ya, yang itu saya tahu. Karena ada temannya teman saya yang seperti itu. Ketika kembali dari Iran, dia sudah menjadi Syiah. What a pity”.
Bpk Yaman : “Kalau dinegaramu bagaimana?”
Saya : “Di negara saya, alhamdulillah sunni menjadi mayoritas. Tetapi baru-baru ini, isu Syiah sedang menjadi Hot news. Mereka sedang meminta pengakuan eksistensi.”
Bpk Yaman : “Syiah itu mengerikan Mar. Munafik lebih mengerikan daripada jelas-jelas kafir. Dan perlu kau ketahui, syiah akan benar-benar berkembang dengan pesat dan mereka sanggup menguasai segalanya. Backing mereka Amerika.”
Saya : “Ya, aku paham hal itu. Tetapi ya, teman-teman dari Irak itu, semuanya baik-baik padaku. Aku tidak punya alasan membenci mereka.”
Bpk Yaman : “Kita bercerita konteks lain Mariyam... Tadi kita berbicara tentang Syiah secara general. Kalau yang ini, selama orang lain baik pada kita, kita wajib berbaik padanya. Bukankah Islam mengajarkan begitu?”
Saya : “Haha, iya. Itu yang saya maksudkan. Saya tidak mempunyai masalah apa-apa dengan teman kita. Bagi saya, selama ia baik dan tidak mengganggu saya, saya bahkan bisa berbaik hati lebih”.


                Lalu cerita saya berakhir karena larutan yang saya panaskan harus segera diangkat dan diminum dicampur dengan larutan yang lain. Sambil mengaduk-aduk larutan itu, saat itu pikiran saya justru jatuh ke Indonesia, dan saat menuliskan cerita inipun saya sedang memikirkan negeri saya. Pemilu yang sebentar lagi akan diadakan, justru menjadikan saya menuliskan cerita ini. Sebab, sepengetahuan saya, banyak sekali masyarakat Indonesia yang akan Golput menjelang pemilu. Alasannya klasik : “percuma memilih, toh pemimpin gak ada yang becus”. Lalu? Apakah dengan tidak memilih justru menyelesaikan masalah? Tidak! Coba kita logikakan. Apa jadinya jika orang-orang baik di negeri ini, orang-orang yang paham agama, tidak memberikan suaranya, lalu siapa yang akan memenangkan pemilu kali ini? Bisa saja yang menang adalah mereka yang tidak paham agama lantas berfikir meliberalisasi dan Syiah justru dengan santainya melenggang di Indonesia dengan mungkin saja, pengakuan eksistensi mereka dari pemimpin liberal tersebut. Saya hanya tidak ingin Indonesia seperti negara yang saya ceritakan di atas. Oke, cukup sekian dan terima kasih. Salam senyum manis dari saya :)  *anti Golput*

1 comment:

Anonymous said...

abg golput dek... hehee