Assalamua’alaikum wr wb..
Bismillah, kali ini saya akan
sedikit mengulas tentang beberapa cerita saya dan teman saya mengenai Syiah dan
sesuatu yang perlu kita ketahui selanjutnya tentang ini.
Beberapa
kali sudah terbesit niat untuk menuliskan hal ini, namun terkadang harga malas dan
ego menjadi lebih lebih tinggi daripada nilai sebuah manfaat, maka dengan itu,
cerita ini hanya saya simpan dalam hati, terus dan enggan menumpahkannya pada
sebuah tulisan.
Beberapa bulan
atau minggu yang lewat (saya lupa tepatnya kapan), saya seringkali bercerita
dengan teman saya dari Yaman. Namanya Ma’agid. Namun saya lebih senang
memanggilnya dengan sebutan bapak Yaman.
Menurut saya, ia cukup cerdas dibandingkan
dengan teman-teman saya dari Timur Tengah yang lainnya. Bapak ini sendiri
adalah seorang dosen di negaranya. Perbincangan kami sering bermula dari
sesuatu yang sederhana dan pada tempat yang juga seadanya, Laboratorium.
Saat
itu, sambil menunggu memanaskan larutan selama 1 jam, ia menegur saya.
Bpk Yaman: “kaifa haluk ya ukhti”
(sambil mengaduk-aduk larutan)
Saya : “Oh, ana, alhamdulillah,
bi khoir, akhi..” (saya hanya terkejut dengan sapaan berbahasa arabnya. Secara
bahasa arab saya kelas fakir)
Bpk Yaman : “Kamu bisa berbahasa
Arab?”
Saya : “Ah, enggak. Cuma itu
satu-satunya kalimat bahasa arab yang saya ketahui. Jangan salah sangka. Haha”
(tertawa menutupi kebodohan)
Bpk Yaman: “Tapi bahasa arabmu
fasih Mar”.
Saya : (terbang gaya ubur-ubur)
“Dont mention it. Saya tidak bisa berbahasa arab. Tetapi kalau membaca alqur’an
insyaallah saya bisa.”
Lalu
cerita kami berlanjut tentang hal-hal yang berbau agama, tentang kehidupannya, tentang
gadis kecilnya yang baru berusia hitungan bulan. Bahkan tentang istrinya yang
dia katakan bahwa sangat ia rindukan.
Bpk Yaman : “Satu hal yang
menyedihkan bagi saya bahwa ketika anak saya lahir, saya bahkan tidak berada
bersama istri saya” (wajahnya menerawang)
Saya: (saya yang merasa kikuk dan
tentunya, tidak ingin bercerita lebih lanjut tentang keluarga yang hanya akan
membuatnya sedih, maka saya mencari topik lain) “Bagaimana keadaan pemerintahan
di negaramu? Aman-aman sajakan?”
Bpk Yaman : “Oh, negara saya. Aman
insyaallah. Tetapi Mar, masih banyak terjadi beberapa kerusuhan di Yaman. Ada
kelompok-kelompok yang melawan pemerintahan, terjadi di beberapa titik”.
Saya: “Sunni dan Syiah di
negaramu bagaimana?”
Bpk Yaman : “Ternyata kau paham
tentang Sunni dan Syiah?” (kali ini dia bertanya sambil sedikit tersenyum dan
melekatkan pandangannya pada saya)
Saya : “Saya hanya tahu sedikit,
tidak banyak. Jangan tersinggung atas pertanyaan saya. Saya benar-benar ingin
tahu, tidak lebih. Karena baru-baru ini saya sering membaca artikel tentang
berbagai kerusuhan di Timur Tengah. Suriah misalnya, dan spekulasi yang ada,
kerusuhan itu berkaitan dengan Syiah. Wallahualam bishowwab”
Bpk Yaman : (ia tersenyum lagi,
mungkin karena kalimat bahasa arab terakhir saya yang acakadut) “Kau tahu Mar,
dari 13 teman kita dari Irak, hanya 3 saja yang Sunni. Selebihnya Syiah”
Saya : “Oh ya? umm...um.., hhmm
dan kau sendiri? Sunni atau...? (kalimat saya terpotong sejenak. Jujur saja,
saya benar-benar tidak enak bertanya hal demikian. Lebih karena saya tidak mau
orang lain tersinggung sebab ucapan saya)
Bpk Yaman : “Saya, Sunni
Alhamdulillah”.
Saya : (kali ini saya sedikit
lega, lagipula, saya sudah menduganya dari awal sebab hanya dia seorang yang
saya lihat sholatnya teratur dan ia juga pernah pamit untuk melaksanakan sholat
Jum’at). “Kalau begitu, coba ceritakan kehidupan sunni dan syiah di negaramu?”
(saya merasa tidak sabar mendengar ceritanya).
Bpk Yaman: “Di Yaman, saat ini
kepemimpinan dipegang oleh kelompok Sunni. Mayoritas penduduk Yaman adalah
Sunni. Namun di beberapa titik seperti di Yaman Utara, mayoritasnya adalah
Syiah. Maka jangan heran jika kamu melihat berita tentang negara kami
bahwa yang seringkali terjadi kerusuhan
adalah di bagian Yaman Utara. Disinilah basis Syiah di Yaman. Syiah
Zaidiyah”
Saya : “Lalu hubungannya dengan
kerusuhan yang terjadi?” (pertanyaan yang bego)
Bpk Yaman : “Tentu saja mereka
ingin merebut pemerintahan Mar. Mereka ingin menguasai Yaman. Menjadikan Yaman
layaknya negara-negara Mayoritas Syiah seperti Iran dan Irak. Mereka
terus saja membuat kerusuhan, untuk menjatuhkan pemerintahan. Dan satu hal yang
perlu kau tahu, Syiah suka berbohong. Mereka akan melakukan apa saja untuk
menjatuhkan pemerintahan Sunni di Yaman. Yaman sebenarnya sangat riskan. Jika saja suara Sunni tidak lebih
banyak dari Syiah, maka Yaman akan jatuh telak di tangan Syiah.”
Saya : “Lalu, Syiah dapat kekuatan darimana untuk melakukan
segala bentuk kerusuhan itu?” (sebenarnya saya sudah tahu jawabannya, tetapi
saya hanya mencoba bertanya lebih banyak)
Bpk Yaman : “Syiah mendapat
supply dari Iran. Dan Iran mendapat supply dari Amerika.Ya, Amerika. Kau jangan
pernah tertipu kalau membaca berita bahwa presiden Iran akan benar-benar
menyerang Amerika melalui program nuklirnya. Bullshit! Mereka bekerjasama”
Saya : “Benarkah?”
Bpk Yaman : “It’s about politic
Mar. Jika Syiah menguasai negara Timur Tengah, Amerika bisa dengan mudah keluar
masuk ke negara itu. Minyak di negara
kami berlimpah”.
Saya : “Kalau yang terjadi di
Irak bagaimana? Ada yang bisa kau jelaskan padaku?”
Bpk Yaman : “Secara khusus aku
tidak begitu paham bagaimana kehidupan Sunni di Irak. Tetapi yang saya tahu,
Sunni menjadi termarginalkan sekali sejak jatuhnya Saddam Husein. Terutama dari
segi pendidikan. Kau bisa bandingkan, pelajar Irak yang ada di India, yang
mendapatkan beasiswa dari pemerintahnya, kebanyakan adalah syiah. Teman kita
saja, dari 13 orang, hanya 3 orang yang sunni, selebihnya syiah. Karena memang
syiah mendapatkan porsi yang lebih di segi pendidikan dan lainnya. Dan kebanyakan
memang begitu. Atau seperti di Iran, mereka akan memberikan beasiswa bagi
pelajar di negara lain untuk di-Syiahkan”.
Saya : “Oh ya, yang itu saya
tahu. Karena ada temannya teman saya yang seperti itu. Ketika kembali dari
Iran, dia sudah menjadi Syiah. What a pity”.
Bpk Yaman : “Kalau dinegaramu
bagaimana?”
Saya : “Di negara saya,
alhamdulillah sunni menjadi mayoritas. Tetapi baru-baru ini, isu Syiah sedang
menjadi Hot news. Mereka sedang meminta pengakuan eksistensi.”
Bpk Yaman : “Syiah itu mengerikan
Mar. Munafik lebih mengerikan daripada jelas-jelas kafir. Dan perlu kau
ketahui, syiah akan benar-benar berkembang dengan pesat dan mereka sanggup
menguasai segalanya. Backing mereka Amerika.”
Saya : “Ya, aku paham hal itu.
Tetapi ya, teman-teman dari Irak itu, semuanya baik-baik padaku. Aku tidak
punya alasan membenci mereka.”
Bpk Yaman : “Kita bercerita
konteks lain Mariyam... Tadi kita berbicara tentang Syiah secara general. Kalau
yang ini, selama orang lain baik pada kita, kita wajib berbaik padanya. Bukankah
Islam mengajarkan begitu?”
Saya : “Haha, iya. Itu yang saya
maksudkan. Saya tidak mempunyai masalah apa-apa dengan teman kita. Bagi saya,
selama ia baik dan tidak mengganggu saya, saya bahkan bisa berbaik hati lebih”.
Lalu
cerita saya berakhir karena larutan yang saya panaskan harus segera diangkat
dan diminum dicampur dengan larutan yang lain. Sambil mengaduk-aduk
larutan itu, saat itu pikiran saya justru jatuh ke Indonesia, dan saat
menuliskan cerita inipun saya sedang memikirkan negeri saya. Pemilu yang
sebentar lagi akan diadakan, justru menjadikan saya menuliskan cerita ini.
Sebab, sepengetahuan saya, banyak sekali masyarakat Indonesia yang akan Golput
menjelang pemilu. Alasannya klasik : “percuma memilih, toh pemimpin gak ada
yang becus”. Lalu? Apakah dengan tidak memilih justru menyelesaikan masalah?
Tidak! Coba kita logikakan. Apa jadinya jika orang-orang baik di negeri
ini, orang-orang yang paham agama, tidak memberikan suaranya, lalu siapa yang
akan memenangkan pemilu kali ini? Bisa saja yang menang adalah mereka yang tidak paham agama lantas
berfikir meliberalisasi dan Syiah justru dengan santainya melenggang di
Indonesia dengan mungkin saja, pengakuan eksistensi mereka dari pemimpin
liberal tersebut. Saya hanya tidak ingin Indonesia seperti negara yang saya
ceritakan di atas. Oke, cukup sekian dan terima kasih. Salam senyum manis dari
saya :) *anti Golput*
1 comment:
abg golput dek... hehee
Post a Comment