Wednesday, March 19, 2014
Thursday, March 13, 2014
Tuesday, March 4, 2014
Dear Perasaan,
bisakah sejenak kita berdiam dan berdamai?
se-jam saja, ah tidak, 1hari?1bulan?1tahun?1windu?
kali ini, coba izinkan aku sebentar saja menghela nafas,
tidakkah Tuan lelah berdiri dan terus menatap di sampingku?
ataukah Tuan mencuri debar jantungku yang semakin menipis? aku mulai curiga pada tiap senyum Tuan yang menguntum pada waktu yang maya. aku benar-benar curiga.
se-jam saja, ah tidak, 1hari?1bulan?1tahun?1windu?
kali ini, coba izinkan aku sebentar saja menghela nafas,
tidakkah Tuan lelah berdiri dan terus menatap di sampingku?
ataukah Tuan mencuri debar jantungku yang semakin menipis? aku mulai curiga pada tiap senyum Tuan yang menguntum pada waktu yang maya. aku benar-benar curiga.
Friday, February 28, 2014
Lagi-Lagi Gegara Dowry
Tulisan ini tidak panjang, sebab saya tidak bisa memejamkan mata malam ini maka saya rasa ini adalah hal paling produktif yang bisa saya lakukan selain menonton film.
siang tadi, selepas pulang kuliah, tidak biasanya, seorang teman saya, sebut saja namanya Prasad (haha, ini nama aslinya kok, saya agak lemot dalam hal karang mengarang nama), atau lebih mudahnya kita panggil saja teman saya dengan panggilan "P" biar lebih hemat.
Untuk kali pertama saya menyelesaikan praktikum organik lebih cepat dari yang lain dan tentunya pulang lebih cepat. di india ini tidak ada sistem saling tunggu, yang cepat maka dia bisa pulang duluan, setelah di absen tentunya..
Nah, kebetulan si P ini selalu ramah sekali menanyakan pada saya, "Everything's ok Mar? Do u need a help?bla..blaa..bla.. do u need a measuring jar? ok wait, i will take it for u" dst. si P ini memang baik dan ramah kepada siapa saja.
Tangan Panas is just a Fake
“Wanita itu indah seperti bunga” terang teman saya.
“Kalau bunga bangkai? Atau bunga kuburan? Kamu mau?”, ejek
saya padanya.
“Ya itu kan perumpamaan. Bunga mawar misalnya atau bunga
kamboja”, jelasnya sekali lagi.
Bagi saya, bunga justru menyimpan
banyak misteri. Menjadi indah dan menebar harum sekehendaknya adalah takdir
bunga. Banyak sekali orang tersihir karenanya, tanpa tahu ternyata bunga
menyimpan duri tajam yang menipu. Saat hendak memetiknya, orang akan menyadari
ternyata tertusuk duri amat sakit. Sakit...--! (eh tolong ya Mar, FOKUS!).
Oh ya, saya punya pengalaman menarik
tentang bunga. Saya menyukai bunga, tetapi bunga sepertinya tidak menyukai
saya. Yah, 11-12 lah sama cinta yang bertepuk sebelah kaki.
Saya Berharapnya...
Assalamualaikum wr wb.
Sore ini saya terjebak
di sebuah kebun bunga kecil di lantai 3 tepat dimana saya sering duduk sendiri
dan memandang bintang. Tidak terjebak sih, tetapi memang menjebakkan diri.
Cukup sendiri saja. Sebab kita perlu sendiri untuk bisa menelisik rasa, bukan?
Sendiri untuk bisa memaknai mengapa kita harus memahami kita. Memahami untuk
apa kita dan siapa kita lalu jadi apa kita setelahnya. Sendiri terkadang
dimaknai personal oleh teman saya sebagai manisfestasi rasa galau di luar
koridor. Namun menurut saya, justru pada “sendiri”lah seseorang dapat
melahirkan karya-karya besar. Dan bagi saya? Mungkin tepatnya, benar kata teman
saya tadi: “sendiri adalah kau yang suka bermain-main pada perasaanmu” . *tsah
elah, mau ngomong galau aja susah bener*.
Un-Named Prince (in my heart)
Pangeran saya
yang satu ini memang tiada bandingnya. Ia yang amat murah senyum dan baik hati ini,
sesungguhnya tidak berasal dari orang yang amat berada. Namun kebesaran hatinya
menunjukkan bahwa ia memiliki segalanya. Mensyukuri apa yang ada dan terus
berusaha menjadi lebih baik pernah disampaikannya. “Kalau tidak bisa bermanfaat
bagi orang lain, setidaknya jangan menyusahkan”. Begitu pesannya.
Baginya, memenuhi segala kebutuhan saya adalah sebuah
kewajiban. Ia tidak gampang marah, tapi jangan pancing kemarahannya, justru
akan membuatmu menangis tersedu-sedu tanpa henti.
Dialah yang
mengenalkan saya pada sebuah jendela, jendela ilmu. Buku selalu ia hadiahkan
pada saya. Bahkan ibu saya sekalipun, yang tidak pernah melarang saya pergi
kemanapun, namun pria yang satu ini justru berkata, “Perempuan itu ga baik
jalan jauh-jauh sendirian”. Begitu ungkapnya. Dulu, ia selalu cemas kalau saya
tidak berada di rumah saat makan siang. Selalu ditanyanya, “Si adek mana?”.
Saya yang begajulan ternyata sedang bermain-main di sawah mencari ikan atau
merusak ladang orang -_-.
Sunday, November 24, 2013
It makes me look like crazy -smiling walking alone-
Saya seperti sedang melangkahkan kaki dan beranjak pulang. Pulang pada sebuah masa kecil saat menari adalah sebuah kebanggaan. ?
Saya teringat pada dahulu sekali yang saya nyaris lupa, menari di sebuah acara dengan menggunakan lagu ini.
Itu yang membuat saya tertawa layaknya orang kurang gizi, berjalan dan tersenyum-senyum sendiri jika mendengar lagu ini. Mendapati saya yang dahulu sangat terlalu polos dan menari dengan suka cita tanpa beban dan bangga yang berlimpah ruah tentunya. haha
Ya Allah, dunia ini cepat sekali ya berputar. Saya kira saya masih lucu, ternyata tidak! -_-
Menjadi dewasa ternyata tidak mudah, meski harus lebih banyak memahami, saya lebih memilih untuk pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu.
Thursday, November 21, 2013
Iqomah
Teringat sebuah kisah, pada zaman antah berantah hiduplah sebuah ? kakak beradik yang lucu-lucu dan menggemaskan, terlebih kakaknya. Nah, suatu ketika sang adik sebut saja namanya Andi tiba-tiba memanggil kakaknya sambil lari ngos-ngosan seperti baru saja dikejar anjing rabies akut,
"Kak, kakak......kakak..... Tadi kakak denger suara azan apa enggak?"
Si kakak yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut dengan pertanyaan adiknya satu ini. Ada apakah gerangan si adik tiba-tiba bertanya tentang azan?
"Kak, kakak......kakak..... Tadi kakak denger suara azan apa enggak?"
Si kakak yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut dengan pertanyaan adiknya satu ini. Ada apakah gerangan si adik tiba-tiba bertanya tentang azan?
Rindu adalah
Rindu adalah...
yang menurut hemat saya sebentuk kegalauan yang tidak tahu diarahkan kemana. Ke kanan? Ke kiri? depan? belakang? atau sebenarnya tidak paham apa yang sebenarnya kaurindui? Makan banyak, pergi berkeliling, ketawa-ketiwi serasa sudah bahagia sepenuhnya, padahal tidak. rindu masih menyimpan raganya di dalam dada. Rindu memang menyesakkan ya? haha.
Sekilas saya kutip pernyataan si Atok dalam drama penuh makna, "Ipin Upin" saat mendapati bahwa si Rembo tengah dilanda rindu:
Tuesday, November 19, 2013
Diam
Terlepas
dari semua rasa bersalah dan segala yang disebut kesalahpahaman. Apa yang
terjadi saat ini mungkin sebab ada kesalahpahaman versiku yang aku rangkai
sendiri hingga menghasilkan imaji-imaji yang justru menyulam kebisuan sekalipun
berisik telah tertempel pada dinding-dinding yang mulai terkelupas itu. Aku
tanya apa sebabnya, ia diam saja. hati memang selalu minta didengar tanpa harus
dipaksa berkata. Sekalipun aku juga merangkai-rangkai sendiri makna pada hati
yang kutanyai. “Apa? Mengapa? Ada apa denganmu? Dan sedari tadi kau diam saja!!”.
hati memang tidak pernah bisa menjawab. Ia selalu meminta kita merangkum
bahasanya.
Saturday, November 2, 2013
Lidah Tidak Bertulang
"Lidah memang tidak bertulang". Biarkan saya menodai ilmu biologi untuk saat ini. Sekalipun saya paham benar bahwa lidah sesungguhnya memiliki tulang walau sekedar tulang rawan yang lembut namun bisa menusuk jauh pada apa yang mampu dikeluarkannya.
Saya teringat benar apa yang pernah ibu guru Matematika SMA saya katakan saat saya mencoba curhat tentang suatu masalah padanya, "Maka, jika engkau tidak menyukai seseorang melakukan hal ini padamu, jangan sekali-kali lakukan hal yang sama pada orang lain sekalipun engkau sangat ingin membalasnya. Karena mereka juga akan merasakan rasa sakit yang sama dengan apa yang engkau rasakan".
Bijak sekali ibu guru saya. Sederhana namun mengesankan.
Itulah yang saya tangkap dari sosok beliau. Semoga beliau selalu dalam rahmatNya. Aaamiin ya robbal'alamin..
Tentang sebuah lidah, maka bolehkah saya mengatakan bahwa segala sesuatu bisa terjadi karenanya?
Yang bisa saja menurut kita adalah guyonan yang lucu, perkataan yang biasa saja namun ditangkap berbeda dari orang yang mendengar. Siapa yang tahu karena sepatah kata yang kita ucapkan membuatnya mengalirkan air mata berjam-jam atau karena sedetik lelucon hambar membuatnya berdoa sebagai makhluk yang teraniaya? Apakah kita tidak pernah berfikir semacam itu? Apakah berbicara hanya sekedar sebongkah permainan kata tanpa perasaan, hingga tajamnya kata mampu menusuk jantung orang lain? Kejam sekali! Sekalipun saya bukanlah makhluk suci tanpa dosa, namun apa salahnya mulai berbijak hati untuk menelurkan kata-kata yang baik, menghadiahi orang lain bukan pada sebuah materi namun pada penghargaan terhadap orang lain. Apakah sebegitu sulit merapat pada hal-hal yang baik? Mengerem lidah berkata ini dan itu? Saya kira pendidikan SD-SMP-SMA bahkan S1 dan S2 sudah cukup bisa melahirkan kita sebagai manusia yang sedikit beradab.
Kepada tuan yang sangat saya hormati. Berbijaklah pada diri anda dan orang lain. Sekian.
Saya teringat benar apa yang pernah ibu guru Matematika SMA saya katakan saat saya mencoba curhat tentang suatu masalah padanya, "Maka, jika engkau tidak menyukai seseorang melakukan hal ini padamu, jangan sekali-kali lakukan hal yang sama pada orang lain sekalipun engkau sangat ingin membalasnya. Karena mereka juga akan merasakan rasa sakit yang sama dengan apa yang engkau rasakan".
Bijak sekali ibu guru saya. Sederhana namun mengesankan.
Itulah yang saya tangkap dari sosok beliau. Semoga beliau selalu dalam rahmatNya. Aaamiin ya robbal'alamin..
Tentang sebuah lidah, maka bolehkah saya mengatakan bahwa segala sesuatu bisa terjadi karenanya?
Yang bisa saja menurut kita adalah guyonan yang lucu, perkataan yang biasa saja namun ditangkap berbeda dari orang yang mendengar. Siapa yang tahu karena sepatah kata yang kita ucapkan membuatnya mengalirkan air mata berjam-jam atau karena sedetik lelucon hambar membuatnya berdoa sebagai makhluk yang teraniaya? Apakah kita tidak pernah berfikir semacam itu? Apakah berbicara hanya sekedar sebongkah permainan kata tanpa perasaan, hingga tajamnya kata mampu menusuk jantung orang lain? Kejam sekali! Sekalipun saya bukanlah makhluk suci tanpa dosa, namun apa salahnya mulai berbijak hati untuk menelurkan kata-kata yang baik, menghadiahi orang lain bukan pada sebuah materi namun pada penghargaan terhadap orang lain. Apakah sebegitu sulit merapat pada hal-hal yang baik? Mengerem lidah berkata ini dan itu? Saya kira pendidikan SD-SMP-SMA bahkan S1 dan S2 sudah cukup bisa melahirkan kita sebagai manusia yang sedikit beradab.
Kepada tuan yang sangat saya hormati. Berbijaklah pada diri anda dan orang lain. Sekian.
Friday, November 1, 2013
Story From India, "Eh..si Bapak.. Udah nikah belom??"
Konon kabarnya, pemaksaan pada otak secara terus menerus akan menyebabkan kegagalan (disfungsi) otak. Itu menurut saya sih, saya fikir yang lain juga sepaham, bahwa otak jangan diajak untuk berfikir terlalu lama. Singkatnya, menjadi gila adalah pilihan yang tepat untuk menjaga otak tetap sehat. Hasyah..!
Saya meng-amini kutipan di atas, yang saya juga tidak tahu dikutip darimana. Dari selokan rumah sebelah ? Sepertinya iya? (saya jadi curiga.. *mata menyipit*).
Maka,untuk menghindari disfungsi otak kiri yang mulai renta, kami (baca: saya dan Okta)
Saya meng-amini kutipan di atas, yang saya juga tidak tahu dikutip darimana. Dari selokan rumah sebelah ? Sepertinya iya? (saya jadi curiga.. *mata menyipit*).
Maka,untuk menghindari disfungsi otak kiri yang mulai renta, kami (baca: saya dan Okta)
Monday, October 28, 2013
Tirus
Untukmu bidadari berwajah
tirus,
Senyummu adalah senja di altar
langit
yang rerumputan saja tertegun
manatap...
- indah - jelita-
Adalah titah Ar-Rahman
mencipta insan
Duhai...!
Menerjemahmu, ini aku miskin
kata,
-untuk wanita cantik kepunyaan Allah-
Subscribe to:
Posts (Atom)

